Endoxa Asia – Jepang selama bertahun-tahun menjadi salah satu tujuan utama pekerja migran asal Vietnam. Namun, perusahaan perekrutan tenaga kerja di negara tersebut kini menghadapi tantangan baru: semakin sulit menemukan kandidat yang bersedia berangkat dan memenuhi kebutuhan perusahaan Jepang.
Situasi ini terlihat dari perubahan jumlah pelamar. Jika satu lowongan kerja di Jepang sebelumnya dapat menarik tujuh hingga delapan kandidat, kini perusahaan perekrutan hanya mendapatkan sekitar dua orang untuk setiap posisi. Bahkan, sejumlah perekrut harus mendatangi desa-desa di Vietnam untuk mencari calon pekerja secara langsung.
Laporan VnExpress pada 2 November 2026 menyebutkan bahwa pasokan kandidat di salah satu perusahaan perekrutan yang telah beroperasi lebih dari satu dekade turun sekitar 60 persen dibandingkan sebelumnya. Kondisi tersebut terjadi ketika Jepang masih membutuhkan tenaga kerja asing untuk mengisi berbagai sektor industri.
Pelemahan yen, meningkatnya kesempatan kerja di Vietnam, serta proses keberangkatan yang memakan waktu panjang menjadi beberapa faktor yang mengubah pertimbangan calon pekerja.
Jumlah Pekerja Vietnam ke Jepang Mulai Menurun
Jepang merupakan salah satu dari tiga pasar tradisional bagi pekerja migran Vietnam. Data Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang menunjukkan bahwa warga Vietnam menjadi kelompok pekerja asing terbesar berdasarkan kewarganegaraan per Oktober 2025.
Pada akhir Juni 2026, tercatat 176.865 warga Vietnam bekerja di Jepang sebagai peserta program technical intern. Selain itu, terdapat 176.915 orang dalam kategori specified skilled worker atau pekerja berketerampilan khusus.
Meski jumlah pekerja Vietnam yang sudah berada di Jepang tetap besar, arus keberangkatan baru menunjukkan penurunan. Kementerian Dalam Negeri Vietnam mencatat Jepang menerima hampir 28.500 pekerja Vietnam pada semester pertama 2026. Angka ini turun dari 35.240 orang pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perkembangan berikutnya juga memperlihatkan persaingan dengan pasar lain. Hingga akhir Agustus 2026, jumlah pekerja Vietnam yang ditempatkan di Taiwan mencapai 39.890 orang, melampaui Jepang yang tercatat sebanyak 35.837 orang.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa Jepang masih menjadi pasar penting, tetapi tidak lagi otomatis menjadi pilihan utama bagi seluruh calon pekerja Vietnam.
Yen Melemah, Penghasilan yang Dikirim ke Kampung Halaman Ikut Tertekan
Salah satu faktor yang memengaruhi minat bekerja di Jepang adalah melemahnya nilai tukar yen terhadap dong Vietnam.
Pham Van Trong, manajer sumber daya manusia sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di Hanoi, mengatakan bahwa nilai satu yen yang sebelumnya setara dengan sekitar 200–220 dong kini berada di kisaran 160–170 dong.
Perubahan tersebut berdampak pada nilai uang yang dapat dibawa pulang atau dikirim kepada keluarga. Menurut perhitungannya, setiap 10.000 yen kini memiliki nilai sekitar 400.000–600.000 dong lebih rendah dibandingkan sebelumnya.
Padahal, penghasilan nominal pekerja memang meningkat dibandingkan satu dekade lalu. Trong menyebut pendapatan bulanan pekerja yang berada di kisaran 30–40 juta dong, atau sekitar Rp18–24 juta berdasarkan kurs kasar, kini hanya menghasilkan tabungan dan kiriman uang yang tidak bertambah sebanding.
Sebelumnya, pekerja dengan pendapatan tersebut dapat mengirim sekitar 20–25 juta dong setiap bulan kepada keluarga. Kini, jumlah yang dapat disisihkan masih berkisar pada angka serupa.
Dengan kata lain, kenaikan pendapatan nominal tidak selalu berarti peningkatan kemampuan menabung ketika nilai mata uang negara tempat bekerja melemah terhadap mata uang negara asal.
Namun, angka tersebut merupakan gambaran yang disampaikan perekrut berdasarkan pengalaman pekerja yang mereka tangani, bukan rata-rata penghasilan seluruh pekerja migran Vietnam di Jepang.
Lapangan Kerja di Vietnam Membuat Calon Pekerja Punya Alternatif
Persaingan mendapatkan pekerja juga datang dari dalam negeri Vietnam sendiri. Menurut Trong, semakin banyak anak muda yang memilih bekerja di kota-kota besar, termasuk di sektor jasa, pabrik, dan layanan transportasi berbasis aplikasi.
Perekrut yang mendatangi wilayah pedesaan dan pegunungan di Vietnam utara bahkan kesulitan menemukan calon pekerja usia produktif. Dalam sejumlah kunjungan, peserta sosialisasi justru lebih banyak berasal dari kelompok lanjut usia dan perempuan paruh baya.
Kesempatan memperoleh penghasilan di dalam negeri ikut mengubah perhitungan calon pekerja. Trong mencontohkan pekerja konstruksi tanpa keterampilan khusus yang dapat memperoleh sekitar 20 juta dong per bulan, atau sekitar Rp12 juta.
Bagi sebagian orang, bekerja di dalam negeri menjadi pilihan yang perlu dipertimbangkan karena tidak membutuhkan biaya persiapan keberangkatan, pelatihan bahasa, maupun waktu menunggu sebelum mulai memperoleh penghasilan.
Sementara itu, bekerja di Jepang masih memerlukan proses yang relatif panjang dan sejumlah persyaratan tambahan.
Proses Keberangkatan dan Bahasa Jepang Jadi Hambatan
Waktu persiapan menjadi salah satu kendala lain dalam perekrutan. Survei National Statistics Office Vietnam menunjukkan bahwa pekerja migran rata-rata menunggu sekitar enam bulan sejak memulai persiapan hingga akhirnya berangkat ke negara tujuan.
Untuk Jepang, proses tersebut dapat memakan waktu sekitar tujuh bulan. Angka ini lebih lama dibandingkan sejumlah tujuan lain di Asia yang membutuhkan persiapan sekitar empat bulan.
Selama masa tunggu, calon pekerja berisiko tidak memiliki penghasilan, sementara biaya persiapan tetap berjalan. Beban tersebut semakin terasa karena lebih dari separuh pekerja yang berangkat ke luar negeri disebut harus meminjam uang untuk membiayai proses keberangkatan.
Kemampuan berbahasa Jepang juga menjadi tantangan, terutama untuk pekerjaan yang tidak mensyaratkan keterampilan teknis tinggi. Persyaratan bahasa dari perusahaan penerima maupun pihak penyalur membuat calon pekerja harus menyediakan waktu tambahan untuk pelatihan.
Situasi ini membuat sebagian orang memilih Taiwan. Selain persyaratan masuk yang relatif lebih longgar untuk sejumlah pekerjaan, waktu keberangkatan ke negara tersebut dapat berkisar satu hingga dua bulan.
Meski demikian, penurunan pasokan pekerja ternyata tidak hanya terjadi pada pasar Jepang. Salah satu perusahaan yang diwawancarai VnExpress juga melaporkan bahwa pasokan kandidat untuk Taiwan turun sekitar 30 persen. Perusahaan tersebut hanya mampu memenuhi sekitar 60–70 persen kebutuhan pesanan di sektor elektronik.
Pekerjaan Berat dan Kebutuhan Keterampilan Sulit Menarik Anak Muda
Perubahan preferensi generasi pekerja turut memengaruhi proses perekrutan. Kim Thanh, staf perekrutan yang identitas aslinya disamarkan oleh VnExpress, mengatakan bahwa pekerjaan pengolahan makanan dan pergudangan cenderung lebih mudah menarik pelamar dibandingkan pekerjaan mekanik.
Pekerjaan seperti pengelasan semiotomatis dan pengoperasian mesin pemotong membutuhkan keterampilan khusus serta kondisi fisik yang sesuai. Jenis pekerjaan ini dinilai lebih berat sehingga tidak banyak diminati calon pekerja muda.
Dalam pengalamannya, satu posisi yang sebelumnya menarik tiga hingga empat pelamar kini hanya memperoleh satu atau dua kandidat.
Perusahaan penyalur juga tidak bisa begitu saja menurunkan persyaratan. Sejumlah kriteria ditentukan langsung oleh perusahaan penerima di Jepang. Untuk beberapa pekerjaan mekanik, misalnya, kandidat harus memiliki tinggi badan minimal 168 sentimeter agar dapat menangani barang pada rak penyimpanan.
Akibatnya, perusahaan perekrutan menghadapi dua persoalan sekaligus: jumlah pelamar yang semakin sedikit dan persyaratan pekerjaan yang tidak selalu dapat diubah.
Sistem Baru Jepang pada 2027 Bisa Mengubah Persaingan Rekrutmen
Tantangan perekrutan diperkirakan berlanjut ketika Jepang mulai menerapkan sistem Employment for Skill Development pada April 2027. Program ini secara bertahap akan menggantikan Technical Intern Training Program yang selama ini digunakan untuk menerima pekerja magang asing.
Perubahan sistem tersebut menjadi perhatian perusahaan penyalur tenaga kerja Vietnam. Kim Thanh memperkirakan tuntutan terhadap kondisi kerja dan standar keterampilan pekerja akan semakin tinggi, sehingga persaingan mendapatkan kandidat dapat menjadi lebih ketat.
Meski begitu, Jepang masih memiliki sejumlah daya tarik, termasuk stabilitas pekerjaan dan perlindungan tenaga kerja yang relatif baik. Pekerja yang menyelesaikan kontrak tiga tahun sebagai peserta technical intern juga dapat mengajukan pengembalian sebagian iuran pensiun melalui skema lump-sum withdrawal payment, sesuai persyaratan yang berlaku.
Bagi perusahaan penyalur, tantangan berikutnya bukan hanya memenuhi pesanan dari Jepang, melainkan meyakinkan calon pekerja bahwa kesempatan tersebut masih sepadan dengan waktu, biaya, dan persyaratan yang harus mereka lalui.
Fenomena ini memperlihatkan perubahan dalam pasar tenaga kerja migran Asia. Negara tujuan tidak lagi hanya bersaing dalam jumlah lowongan, tetapi juga dalam nilai penghasilan yang bisa dibawa pulang, kecepatan proses keberangkatan, kualitas pekerjaan, dan perlindungan bagi pekerja.




Komentar