Ekonomi Bisnis

Vietnam Diproyeksi Salip Indonesia dalam PDB per Kapita, Thailand Jadi Target Berikutnya

Vietnam Diproyeksi Salip Indonesia dalam PDB per Kapita, Thailand Jadi Target Berikutnya
Vietnam Diproyeksi Salip Indonesia dalam PDB per Kapita, Thailand Jadi Target Berikutnya

Endoxa Asia – Vietnam diproyeksikan melampaui Indonesia dalam produk domestik bruto (PDB) nominal per kapita pada 2026. Proyeksi Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memperkirakan nilai PDB per kapita Vietnam mencapai US$5.259, sedikit lebih tinggi dibandingkan Indonesia yang berada di angka US$5.153.

Perubahan ini menjadi sorotan karena Indonesia selama ini memiliki posisi lebih tinggi dibandingkan Vietnam dalam ukuran ekonomi per penduduk. Namun, selisih yang diproyeksikan hanya sekitar US$106 atau sekitar 2 persen. Angka tersebut juga masih berupa proyeksi, bukan hasil akhir perekonomian kedua negara sepanjang 2026.

Kim Jong Un Perintahkan Modernisasi Galangan Kapal untuk Perkuat Armada Korea Utara

Dalam laporan yang diterbitkan pada 4 November 2026, South China Morning Post (SCMP) menyoroti kemungkinan Vietnam mempertahankan keunggulan tersebut sekaligus mengejar Thailand. Negara tersebut saat ini memiliki PDB per kapita yang lebih tinggi, sehingga menjadi sasaran berikutnya dalam ambisi peningkatan pendapatan per penduduk Vietnam.

Meski demikian, posisi Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara tidak serta-merta berubah. Berdasarkan proyeksi IMF, total PDB Indonesia pada 2026 masih diperkirakan mencapai sekitar US$1,48 triliun, hampir tiga kali lipat dari Vietnam yang berada di kisaran US$542 miliar.

Vietnam Diproyeksi Mencapai US$5.259 per Kapita

Berdasarkan World Economic Outlook IMF edisi Oktober 2026, PDB nominal per kapita Vietnam diperkirakan meningkat 8,9 persen menjadi US$5.259 pada 2026. Angka tersebut naik dari sekitar US$4.829 pada 2025.

Sementara itu, PDB nominal per kapita Indonesia diproyeksikan mencapai US$5.153. Pada 2025, angkanya masih sekitar US$5.078. Dengan demikian, Vietnam berpotensi beralih dari posisi di bawah Indonesia menjadi sedikit lebih tinggi dalam perbandingan tersebut.

Apabila proyeksi itu terealisasi, Vietnam akan menempati peringkat kelima di antara negara-negara ASEAN berdasarkan PDB nominal per kapita. Posisi empat teratas masih ditempati Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand.

Perlu dipahami bahwa PDB per kapita merupakan hasil pembagian total nilai produksi barang dan jasa suatu negara dengan jumlah penduduknya. Indikator ini memberikan gambaran rata-rata aktivitas ekonomi per orang, tetapi bukan angka pendapatan yang benar-benar diterima setiap warga.

Najib Razak Dikabarkan Siapkan Rp190 Miliar demi Jalani Tahanan Rumah

Karena itu, kenaikan PDB per kapita tidak otomatis berarti seluruh masyarakat mengalami peningkatan pendapatan dengan besaran yang sama. Distribusi kekayaan, biaya hidup, kesempatan kerja, dan daya beli tetap menjadi faktor penting untuk menilai kesejahteraan masyarakat.

Mengapa Pertumbuhan Vietnam Lebih Cepat?

Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan Vietnam adalah ekspansi sektor manufaktur dan perannya dalam rantai pasok global. Negara tersebut semakin menjadi lokasi produksi bagi perusahaan internasional yang bergerak di bidang elektronik, semikonduktor, dan perangkat teknologi.

Sejumlah perusahaan besar, termasuk Samsung Electronics dan Foxconn, telah mengembangkan kegiatan produksi di Vietnam. Investasi tersebut memperkuat posisi negara itu sebagai salah satu basis manufaktur yang terhubung dengan pasar ekspor global.

Selain investasi swasta, belanja infrastruktur pemerintah juga menjadi pendorong pertumbuhan. Vietnam mengalokasikan anggaran besar untuk pembangunan jalan, bandara, dan proyek transportasi lainnya.

Pemerintah Vietnam menargetkan belanja investasi publik sekitar 1,014 kuadriliun dong atau setara US$39,3 miliar pada 2026. Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, realisasi investasi publik dari anggaran negara diperkirakan mencapai 661,8 triliun dong, meningkat sekitar 19 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Kinerja ekspor turut memperkuat aktivitas ekonomi. Nilai ekspor barang Vietnam selama Januari hingga September 2026 mencapai sekitar US$434,3 miliar, naik 24,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Data investasi asing juga menunjukkan perkembangan positif. Investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) yang terealisasi selama sembilan bulan pertama 2026 mencapai sekitar US$21,07 miliar, meningkat 12,1 persen secara tahunan. Sementara itu, total modal FDI terdaftar mencapai US$50,36 miliar.

200 Ribu Lentera Yi Peng Ancam Penerbangan, Chiang Mai Batalkan 108 Jadwal

Kombinasi investasi infrastruktur, manufaktur berorientasi ekspor, dan arus modal asing tersebut menjadi salah satu penjelasan di balik pertumbuhan ekonomi Vietnam yang lebih cepat dibandingkan Indonesia.

Indonesia Masih Memiliki Ekonomi Hampir Tiga Kali Lebih Besar

Meski Vietnam berpotensi unggul dalam PDB per kapita, ukuran ekonomi kedua negara secara keseluruhan masih berbeda cukup jauh.

IMF memperkirakan total PDB nominal Indonesia mencapai sekitar US$1,48 triliun pada 2026. Sementara itu, Vietnam diproyeksikan berada di kisaran US$542 miliar.

Perbedaan tersebut tidak terlepas dari jumlah penduduk Indonesia yang jauh lebih besar. Indonesia memiliki sekitar 290 juta penduduk, sedangkan Vietnam memiliki sedikit lebih dari 100 juta jiwa.

Dengan jumlah penduduk yang lebih besar, Indonesia dapat memiliki total aktivitas ekonomi yang lebih besar meskipun nilai produksi rata-rata per penduduknya sedikit lebih rendah.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga masih berada di sekitar 5 persen. IMF memperkirakan pertumbuhan riil Indonesia mencapai sekitar 5,1 persen pada 2026, sedangkan Vietnam diproyeksikan tumbuh 8,4 persen.

Salah satu tantangan Indonesia adalah bagaimana memastikan investasi dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan produktivitas secara lebih luas. Masuknya modal asing ke sektor seperti kendaraan listrik memang memperkuat industri tertentu, tetapi dampaknya terhadap pendapatan rumah tangga dan kesempatan kerja perlu terus diperhatikan.

Nilai tukar juga memengaruhi perbandingan PDB nominal dalam dolar AS. Pelemahan mata uang domestik dapat membuat nilai ekonomi suatu negara terlihat lebih rendah ketika dikonversi ke dolar, meskipun aktivitas ekonominya tetap tumbuh dalam mata uang lokal.

Dengan demikian, selisih PDB per kapita Indonesia dan Vietnam tidak hanya mencerminkan perbedaan laju pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dipengaruhi jumlah penduduk dan pergerakan nilai tukar.

Thailand Menjadi Sasaran Berikutnya, tetapi Masih Berjarak

Setelah berpotensi melampaui Indonesia, Vietnam mulai mengarahkan ambisi ekonominya kepada Thailand. Negara tersebut memiliki PDB nominal per kapita sekitar US$8.370 berdasarkan proyeksi IMF untuk 2026.

Angka tersebut masih jauh di atas proyeksi Vietnam sebesar US$5.259. Untuk mengejar posisi Thailand, Vietnam perlu meningkatkan produktivitas, memperkuat industri bernilai tambah, dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Pemerintah Vietnam menargetkan PDB per kapita mencapai sekitar US$8.500 pada 2030. Target tersebut kurang lebih setara dengan tingkat PDB per kapita Thailand saat ini.

Namun, proyeksi IMF lebih konservatif. Lembaga tersebut memperkirakan PDB per kapita Vietnam mencapai sekitar US$7.105 pada 2030, sementara Indonesia diperkirakan berada di kisaran US$6.944.

Artinya, Vietnam berpeluang mempertahankan keunggulan tipis atas Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Akan tetapi, target US$8.500 masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi IMF.

Thailand sendiri menghadapi tantangan pertumbuhan yang berbeda. Ekonominya tumbuh lebih lambat, dengan proyeksi pertumbuhan riil sekitar 1,5 persen pada 2026. Tingginya utang rumah tangga juga menjadi salah satu faktor yang membatasi konsumsi dan aktivitas ekonomi.

Meski demikian, pertumbuhan Thailand yang lebih lambat tidak otomatis membuat Vietnam segera mampu mengejar PDB per kapitanya. Keduanya memiliki struktur ekonomi, jumlah penduduk, produktivitas, dan tantangan pembangunan yang berbeda.

Tantangan Vietnam Tidak Berhenti pada Pertumbuhan Angka

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi modal penting bagi Vietnam, tetapi mempertahankan momentum tersebut membutuhkan strategi jangka panjang.

Mai Fujita, peneliti senior di Institute of Developing Economies Jepang, menilai investasi infrastruktur dapat mendukung pertumbuhan dalam jangka pendek. Namun, Vietnam juga perlu memperkuat kualitas sumber daya manusia dan kemampuan teknologi agar produktivitas ekonomi terus meningkat.

Tantangan tersebut penting karena pertumbuhan yang terlalu bergantung pada investasi fisik dan manufaktur berorientasi ekspor dapat menghadapi batas apabila tidak diikuti peningkatan kemampuan industri domestik.

Vietnam juga perlu memperkuat posisi perusahaan lokal agar tidak hanya menjadi bagian dari rantai produksi perusahaan asing. Pengembangan teknologi, keterampilan tenaga kerja, dan inovasi dapat menentukan apakah pertumbuhan ekonomi saat ini mampu menghasilkan peningkatan pendapatan yang berkelanjutan.

Bagi Indonesia, perkembangan Vietnam menjadi pengingat bahwa ukuran ekonomi terbesar di kawasan tidak selalu berarti pertumbuhan produktivitas per penduduk berjalan paling cepat.

Persaingan ekonomi Asia Tenggara pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang memiliki total PDB terbesar atau siapa yang berada di posisi lebih tinggi dalam daftar PDB per kapita. Tantangan yang lebih penting adalah bagaimana pertumbuhan diterjemahkan menjadi pekerjaan berkualitas, pendapatan masyarakat, produktivitas, dan kesejahteraan yang lebih merata.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *