SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Travel

Thailand Bidik Pendapatan Wisatawan Eropa Naik 5–7 Persen pada 2027

Thailand Bidik Pendapatan Wisatawan Eropa Naik 5–7 Persen pada 2027
Thailand Bidik Pendapatan Wisatawan Eropa Naik 5–7 Persen pada 2027

Endoxa Asia – Thailand memperkuat strategi untuk menarik wisatawan asal Eropa dengan menargetkan pertumbuhan pendapatan pariwisata sebesar 5–7 persen pada 2027. Target tersebut dikejar di tengah ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga bahan bakar, dan perubahan pola perjalanan internasional yang memengaruhi industri penerbangan.

Otoritas Pariwisata Thailand atau Tourism Authority of Thailand (TAT) memperkirakan jumlah wisatawan Eropa yang berkunjung ke negara tersebut mencapai 8,3 juta orang sepanjang 2026. Kunjungan itu diproyeksikan menghasilkan pendapatan sekitar 530 miliar baht.

Penang Gratiskan Tarif Feri untuk Warga Malaysia pada 8 November Saat Deepavali

Strategi ini menjadi bagian dari upaya Thailand menjaga pasar wisatawan jarak jauh sekaligus mengurangi ketergantungan pada kelompok negara tertentu. Pemerintah juga ingin memperluas pilihan destinasi agar pengeluaran wisatawan tidak hanya terkonsentrasi di kota dan kawasan wisata yang sudah populer.

Thailand Incar Pertumbuhan Pendapatan dari Pasar Eropa

Gubernur TAT Thapanee Kiatphaibool menyampaikan target pertumbuhan pendapatan wisatawan Eropa dalam rangkaian World Travel Market (WTM) 2026 di London. Pameran perdagangan pariwisata tersebut menjadi kesempatan bagi Thailand untuk mempertemukan pelaku industri domestik dengan agen perjalanan dan operator tur internasional.

TAT mempertahankan fokus pada pasar utama seperti Inggris, Prancis, Jerman, Swiss, negara-negara Skandinavia, dan Italia. Namun, pendekatan pemasarannya akan dibuat lebih spesifik dengan menyasar wisatawan dari kota-kota sekunder di Eropa.

Beberapa kota yang menjadi sasaran antara lain Nice dan Lyon di Prancis, Düsseldorf di Jerman, serta Lausanne di Swiss. TAT ingin menghubungkan pasar tersebut dengan pilihan penerbangan dan pengalaman wisata yang sesuai dengan karakter masing-masing wilayah.

Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan permintaan yang lebih stabil untuk penerbangan komersial maupun charter. Thailand juga ingin mendorong wisatawan mengeksplorasi destinasi di luar pusat wisata yang selama ini lebih dikenal.

Chiang Rai dan Mae Hong Son Jadi Alternatif Destinasi

6 Toko Buku Independen di Singapura untuk Pecinta Literatur dan Ruang Estetik

Salah satu strategi Thailand adalah memperkenalkan destinasi sekunder kepada wisatawan Eropa. Wisatawan asal Inggris, misalnya, didorong untuk mempertimbangkan Chiang Rai dan Mae Hong Son sebagai alternatif perjalanan.

Kedua wilayah tersebut menawarkan pengalaman yang berbeda dari destinasi pantai seperti Phuket dan Koh Samui. TAT juga melihat peluang pada sektor kesehatan dan kebugaran atau health and wellness tourism, yang dinilai dapat menarik wisatawan dengan pengeluaran lebih tinggi.

Strategi ini sejalan dengan arah pariwisata Thailand pada 2027 yang mengutamakan nilai ekonomi dari setiap kunjungan, bukan hanya mengejar jumlah wisatawan. Dalam arah kebijakan Value Over Volume, TAT ingin memperluas distribusi pengunjung dan manfaat ekonomi ke lebih banyak komunitas lokal.

Selain memperkenalkan destinasi baru, Thailand juga berupaya mengembangkan pengalaman berbasis budaya, kuliner, kesehatan, dan kreativitas lokal. Dengan demikian, wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama dan mengunjungi lebih dari satu kawasan.

200 Ribu Lentera Yi Peng Ancam Penerbangan, Chiang Mai Batalkan 108 Jadwal

Inggris Masih Menjadi Pasar Penting, tetapi Menghadapi Tekanan

Meski pasar Eropa secara keseluruhan masih menjadi sumber pendapatan penting, kinerja Inggris menunjukkan tantangan yang perlu diperhatikan.

TAT memperkirakan kedatangan wisatawan Inggris ke Thailand mencapai 1,04 juta orang pada 2026. Angka tersebut diproyeksikan turun 3,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan dari pasar Inggris juga diperkirakan berkurang 3,9 persen menjadi 71,6 miliar baht.

Salah satu faktor yang memengaruhi penurunan tersebut adalah pembatalan penerbangan pada tahap awal konflik di Timur Tengah. Gangguan penerbangan membuat perjalanan jarak jauh menjadi lebih sulit bagi sebagian wisatawan.

Namun, pemesanan untuk musim liburan hingga Maret 2027 menunjukkan perkembangan positif. TAT mencatat pemesanan awal dari Inggris meningkat 15,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Saat ini terdapat sekitar 47 penerbangan langsung setiap pekan antara Inggris dan Thailand. Konektivitas tersebut turut diperkuat dengan layanan baru London–Phuket dari Virgin Atlantic untuk musim perjalanan akhir tahun.

Konflik Timur Tengah Mengubah Pilihan Wisatawan

Ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan pola perjalanan. Sejumlah wisatawan yang sebelumnya mempertimbangkan destinasi di Timur Tengah mulai mengalihkan pilihan ke Asia, termasuk Thailand.

Pekerja Media Publik Ceko Mogok, Protes Rencana Pemerintah Ubah Pendanaan

Sam Collins, senior product manager kawasan Timur Jauh dari operator tur Inggris Best at Travel, mengatakan pemesanan perjalanan ke Thailand meningkat sejak Juli 2026.

“Within the last four months, Asia has become our most profitable destination,” ujar Collins, menggambarkan perubahan kinerja pasar perjalanan perusahaan tersebut.

Menurutnya, Thailand masih menawarkan nilai yang menarik bagi wisatawan Inggris meskipun biaya penerbangan meningkat. Destinasi seperti Koh Samui, Phuket, dan Khao Lak menjadi pilihan populer, sementara operator tur juga mulai mempromosikan lokasi yang lebih jauh seperti Koh Lipe.

Helen Wheat dari Audley Travel juga menyebut perusahaannya belum melihat perlambatan pemesanan perjalanan ke Thailand. Perusahaan tersebut menawarkan pengalaman wisata premium dan mencatat Chiang Mai sebagai salah satu destinasi utama dalam portofolio Asia Tenggara mereka.

Kecenderungan ini menunjukkan bahwa perubahan rute penerbangan dan kondisi geopolitik dapat memengaruhi pilihan destinasi. Namun, peluang tersebut tetap bergantung pada harga tiket, ketersediaan penerbangan, serta daya beli wisatawan.

Harga Tiket dan Persaingan Destinasi Masih Menjadi Tantangan

Di balik target pertumbuhan tersebut, Thailand masih menghadapi sejumlah risiko. Kenaikan harga energi dapat mendorong biaya operasional maskapai dan membuat tiket pesawat lebih mahal.

Situasi ini berpotensi memengaruhi pemesanan untuk kuartal kedua dan ketiga 2027, ketika wisatawan Eropa biasanya mempertimbangkan perjalanan musim panas. Jika biaya perjalanan ke Asia semakin tinggi, sebagian wisatawan dapat memilih berlibur di negara-negara Eropa sendiri.

Thailand juga menghadapi persaingan dari destinasi lain seperti Jepang dan Vietnam. Perubahan nilai tukar dapat membuat kedua negara tersebut menawarkan pengalaman wisata dengan harga yang lebih kompetitif bagi pengunjung Eropa.

Honda ADV125 Resmi Diperkenalkan di Eropa, Ini Spesifikasi dan Fiturnya

Selain itu, pelaku industri perhotelan menilai Thailand perlu terus memperbarui produk wisata, layanan, dan infrastruktur agar tetap menarik bagi wisatawan internasional.

Karena itu, target pertumbuhan pendapatan 5–7 persen bukan hanya bergantung pada kampanye pemasaran. Konektivitas penerbangan, kualitas pengalaman wisata, dan kemampuan menawarkan harga yang kompetitif akan ikut menentukan hasilnya.

Thailand Ingin Menjaga Wisatawan Bernilai Tinggi

Upaya menarik wisatawan Eropa memperlihatkan perubahan pendekatan Thailand dalam mengembangkan industri pariwisatanya. Negara tersebut tidak hanya berusaha meningkatkan jumlah kedatangan, tetapi juga mendorong pengeluaran yang lebih besar melalui pengalaman wisata premium, kesehatan, budaya, dan destinasi alternatif.

Dalam jangka panjang, strategi tersebut diharapkan dapat memperluas manfaat ekonomi pariwisata ke berbagai wilayah. Namun, tantangan eksternal seperti konflik geopolitik, biaya penerbangan, dan persaingan antarnegara tetap dapat memengaruhi keputusan wisatawan.

Dengan target pendapatan Eropa tumbuh 5–7 persen pada 2027, Thailand kini berupaya mengubah peluang dari pergeseran perjalanan global menjadi permintaan yang lebih stabil. Keberhasilan strategi tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan negara itu mempertahankan daya tariknya di tengah biaya perjalanan internasional yang semakin tidak pasti.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *