Endoxa Asia – Papeda, sayur gedi, sagu, hingga ulat sagu bakar menjadi bagian dari pengalaman kuliner yang diperkenalkan melalui kegiatan Jelajah Kemolekan Sorong Selatan di Hutan Kota by Plataran, Jakarta. Hidangan tersebut membawa cita rasa Papua Barat Daya lebih dekat kepada masyarakat ibu kota, sekaligus memperkenalkan hubungan antara tradisi pangan, keanekaragaman hayati, dan kehidupan masyarakat adat.
Kegiatan yang berlangsung pada 1–4 Oktober 2026 ini merupakan bagian dari kolaborasi Konservasi Indonesia, National Geographic Indonesia, dan Legenda Khatulistiwa. Melalui pendekatan ekowisata dan gastronomi, Sorong Selatan diperkenalkan bukan hanya sebagai destinasi dengan kekayaan alam, tetapi juga wilayah dengan pengetahuan lokal yang diwariskan antargenerasi.
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah keterlibatan mama-mama dari Sorong Selatan yang memperkenalkan langsung bahan pangan dan cara pengolahannya. Sejumlah bahan utama bahkan dibawa langsung dari daerah asalnya untuk disajikan kepada pengunjung.
Papeda dan Pangan Lokal Jadi Pintu Masuk Mengenal Sorong Selatan

Dalam kegiatan tersebut, pengunjung dapat mencicipi beberapa hidangan khas Sorong Selatan, termasuk papeda, sayur gedi, sagu, dan ulat sagu bakar.
Papeda merupakan makanan berbahan dasar sagu yang telah lama menjadi bagian dari tradisi pangan masyarakat Papua. Teksturnya yang bening dan kenyal berasal dari proses pengolahan sagu dengan air panas.
Selain papeda, sayur gedi juga diperkenalkan sebagai bagian dari kekayaan bahan pangan lokal. Sementara itu, ulat sagu bakar memperlihatkan cara masyarakat memanfaatkan sumber daya alam di lingkungan sekitar sebagai bahan makanan.
Kehadiran hidangan-hidangan tersebut tidak hanya menawarkan pengalaman mencicipi kuliner yang berbeda. Setiap bahan juga membawa cerita mengenai kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan hasil hutan dan pengetahuan yang diwariskan melalui kehidupan sehari-hari.
Bahan Pangan Didatangkan Langsung dari Sorong Selatan
Salah satu hal yang membuat pengalaman gastronomi ini berbeda adalah penggunaan bahan pangan yang berasal langsung dari Sorong Selatan.
Sagu menjadi salah satu bahan penting yang didatangkan dari wilayah tersebut. Bagi masyarakat setempat, sagu bukan sekadar bahan makanan, melainkan bagian dari kehidupan sosial dan budaya yang telah berlangsung lintas generasi.
Proses pengolahan pangan juga diperkenalkan langsung oleh Lidia Sawor dan Orpa Sawen, dua mama dari Sorong Selatan. Mereka memperlihatkan cara mengolah sagu menjadi papeda kepada pengunjung di Hutan Kota by Plataran.
Demonstrasi tersebut memberikan kesempatan bagi masyarakat Jakarta untuk mengenal proses di balik hidangan yang selama ini mungkin hanya mereka temui sebagai makanan siap santap.
Menghubungkan Kuliner dengan Ekowisata Berbasis Masyarakat

Pengenalan kuliner Sorong Selatan menjadi bagian dari program Jelajah Kemolekan Sorong Selatan: Ekowisata, Kebudayaan, dan Gastronomi Kepala Burung Papua.
Program ini mengangkat tiga kampung di Kabupaten Sorong Selatan, yaitu Klaogin, Konda, dan Bariat. Ketiganya tengah mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat dengan menempatkan warga lokal sebagai pelaku utama sekaligus penjaga lingkungan.
Kekayaan alam kawasan tersebut mencakup hutan rawa gambut tropis yang menjadi habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa. Bagi masyarakat, hutan juga berfungsi sebagai ruang hidup, sumber pangan, serta tempat menyimpan pengetahuan tradisional.
Karena itu, pengembangan ekowisata tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan pemandangan alam. Budaya, tradisi pangan, dan keterlibatan masyarakat juga menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa gastronomi dapat menjadi salah satu cara untuk memahami sebuah destinasi. Makanan yang disajikan tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan lingkungan tempat bahan pangan diperoleh dan masyarakat yang mengolahnya.
Mengenal Destinasi Lewat Alam, Budaya, dan Masyarakat
Selain pengalaman kuliner, Jelajah Kemolekan Sorong Selatan menghadirkan pameran foto, pertunjukan seni, serta diskusi mengenai masa depan keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.
Rangkaian kegiatan ini berlangsung di Hutan Kota by Plataran pada 1–4 Oktober 2026. Melalui berbagai aktivitas tersebut, pengunjung diajak mengenal Sorong Selatan dari sudut pandang yang lebih luas, mulai dari bentang alam hingga kehidupan masyarakatnya.
Kolaborasi Konservasi Indonesia, National Geographic Indonesia, dan Legenda Khatulistiwa juga menekankan pentingnya menempatkan masyarakat lokal sebagai bagian utama dalam pengembangan ekowisata.
Dengan demikian, pengalaman mencicipi papeda, sayur gedi, atau ulat sagu bakar menjadi lebih dari sekadar kegiatan kuliner. Hidangan tersebut membuka ruang untuk mengenal tradisi, pengetahuan pangan, serta hubungan masyarakat Sorong Selatan dengan alam yang menopang kehidupan mereka.




Komentar