Endoxa Asia – Thailand mengajak warga negaranya di seluruh dunia mengenakan pakaian tradisional sepanjang Desember. Kampanye ini digelar menjelang pertimbangan UNESCO atas nominasi delapan gaya busana Chut Thai Phra Ratcha Niyom sebagai warisan budaya takbenda. Keputusan tersebut belum ditetapkan; pembahasan nominasi dijadwalkan berlangsung pada awal Desember.
Ajakan dari Kementerian Kebudayaan Thailand itu menghubungkan peringatan budaya dengan upaya memperkenalkan busana nasional kepada publik lintas negara. Warga Thailand diajak mengenakan pakaian tradisional sembari menunggu hasil pembahasan dan, bila nominasi disetujui, bersiap merayakannya.

Menunggu pembahasan UNESCO
Thailand mengajukan delapan gaya Chut Thai Phra Ratcha Niyom kepada UNESCO pada 2024. Nominasi tersebut diperkirakan dipertimbangkan pada 1–3 Desember dalam sidang ke-21 Komite Antarpemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda. Sidang dijadwalkan berlangsung di Xiamen, China, pada 30 November hingga 5 Desember.
Rentang tanggal itu penting: 1–3 Desember merupakan waktu yang diperkirakan untuk membahas nominasi, sedangkan masa sidang secara keseluruhan berlangsung lebih lama. Dengan demikian, ajakan mengenakan busana tradisional hadir sebelum hasilnya diketahui, bukan sebagai perayaan atas pengakuan yang sudah diberikan. Kementerian mendorong partisipasi sambil menantikan keputusan.
Bahan yang tersedia tidak menyebut kriteria evaluasi UNESCO, kemungkinan hasil pembahasan, ataupun apakah ada keputusan resmi setelah sidang. Karena itu, status nominasi sebaiknya dipahami sebagai masih menunggu pertimbangan. Kampanye berpakaian tradisional merupakan kegiatan promosi yang berjalan menjelang proses tersebut, bukan bukti bahwa pencalonan telah diterima.
Delapan gaya dalam satu koleksi
Delapan gaya yang diajukan adalah Ruean Ton, Chitlada, Amarin, Boromphiman, Dusit, Chakri, Siwalai, dan Chakkraphat. Menurut keterangan yang diberitakan, koleksi itu dikembangkan oleh para ahli atas arahan Ratu Sirikit, Ratu Ibu Thailand. Ia meminta para ahli mempelajari busana yang dikenakan di lingkungan istana Thailand dan mengadaptasinya agar dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Asal-usul tersebut memberi konteks bagi nama Chut Thai Phra Ratcha Niyom dan tujuan koleksinya. Busana ini tidak hanya ditampilkan sebagai pakaian untuk acara seremonial, tetapi juga sebagai hasil penyesuaian dari busana istana untuk pemakaian sehari-hari. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci bentuk, bahan, warna, atau perbedaan desain di antara delapan gaya tersebut. Karena itu, tiap nama tidak dapat dijelaskan lebih jauh tanpa menambahkan keterangan yang belum terverifikasi.
Kementerian Kebudayaan juga mempromosikan busana tersebut melalui pameran di sejumlah negara, termasuk Belanda, Jepang, dan Prancis. Di Den Haag, pakaian Thailand ditampilkan di toko serba ada de Bijenkorf untuk memperkenalkan rancangan dan keterampilannya kepada khalayak lebih luas. Pameran itu menjadi salah satu cara mempertemukan busana tradisional dengan pengunjung di luar Thailand.

Pameran di luar negeri memperluas pengenalan
Di Tokyo, delapan gaya tersebut ditampilkan bersama kimono yang dibuat dari sutra Thailand dan busana Thailand dengan sulaman bermotif anime Jepang. Materi yang tersedia tidak menjelaskan rincian karya-karya itu, tetapi penyandingan tersebut menunjukkan bagaimana promosi busana Thailand ditempatkan dalam konteks pertukaran budaya dengan Jepang.
Sementara itu, pameran di Paris disertai peluncuran buku mengenai sejarah dan identitas busana Thailand. Kehadiran buku memperluas pendekatan promosi: pengunjung tidak hanya melihat pakaian, tetapi juga mendapat pengantar tentang latar sejarah dan makna identitasnya. Putri Sirivannavari Nariratana Rajakanya turut membantu menyampaikan sejarah busana dan tekstil Thailand dalam berbagai kegiatan di luar negeri.
Pameran-pameran ini memberi gambaran tentang cara Thailand memperkenalkan nominasi sebelum pembahasan UNESCO. Peragaan, penjelasan sejarah, dan penampilan busana di ruang publik menjadi bagian dari upaya membuat koleksi itu dikenal. Meski demikian, informasi yang tersedia tidak menunjukkan ukuran keberhasilan pameran ataupun dampaknya terhadap keputusan UNESCO.
Ajakan budaya, bukan pengumuman hasil
Ajakan untuk mengenakan busana tradisional sepanjang Desember memberi ruang bagi warga Thailand di berbagai negara untuk terlibat dalam kampanye tanpa harus berada di lokasi sidang. Kementerian menyampaikan kampanye itu sebagai cara menunggu keputusan sekaligus menyiapkan perayaan apabila nominasi disetujui. Dengan kata lain, partisipasi publik dimulai sebelum hasil resmi tersedia.
Bagi pembaca, pembedaan antara nominasi dan pengakuan akhir menjadi penting. Thailand telah mengajukan delapan gaya pada 2024, dan pertimbangannya dijadwalkan dalam sidang komite UNESCO pada Desember. Sampai keputusan diumumkan, statusnya tetap sebagai nominasi yang menunggu pembahasan.
Kampanye tersebut juga mengangkat busana tradisional sebagai bentuk identitas budaya yang dapat diperkenalkan melalui kegiatan sehari-hari maupun pameran internasional. Namun, rincian tentang cara warga di luar Thailand dapat berpartisipasi, aturan berpakaian, atau kegiatan khusus selama Desember tidak disebutkan dalam informasi yang tersedia. Fokus yang dapat dipastikan adalah ajakan Kementerian Kebudayaan kepada warga Thailand di seluruh dunia untuk mengenakan pakaian tradisional sembari menanti hasil pembahasan UNESCO.




Komentar