Endoxa Asia – Demonstrasi memperingati dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berlangsung di sejumlah titik di Jakarta pada Selasa, 20 Oktober 2026. Aksi mahasiswa dan masyarakat sipil di kawasan Tugu Tani serta Jalan Medan Merdeka Selatan diwarnai simbol tiga jari, pembentangan spanduk tuntutan, hingga pembakaran keranda bambu bertuliskan “Kemanusiaan”.
Mengutip laporan Kompas.com, massa menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, mulai dari keterlibatan militer dalam program pemerintah, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga persoalan biaya pendidikan dan layanan publik.
Aksi tersebut juga diwarnai ketegangan ketika mahasiswa berusaha menerobos pembatas jalan menuju Istana Negara. Di tengah demonstrasi, massa menyatakan akan kembali menggelar aksi dengan skala lebih besar pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.
Simbol Tiga Jari Jadi Bentuk Kritik Mahasiswa
Aksi yang digelar aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil dalam Komite Sadar atau Seruan Kedaulatan Rakyat dimulai di kawasan Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat, sekitar pukul 15.20 WIB.
Massa berkumpul di sekitar Monumen Patung Pahlawan dan membentuk barisan setengah melingkar. Sejumlah perwakilan kemudian bergantian menyampaikan orasi di hadapan peserta aksi.
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) turut hadir dalam demonstrasi tersebut. Koordinator Sosial dan Politik BEM UI, Hafidz Hernanda, menginstruksikan peserta untuk mengangkat tiga jari sebagai simbol protes terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Tiga jari ini adalah lambang kemarahan kita dan kekecewaan kita, lambang perlawanan masyarakat atas pemimpin yang gagal!” seru Hafidz dalam orasinya, seperti dikutip Kompas.com.
Selain simbol tiga jari, peserta aksi membentangkan spanduk dan mengangkat poster berisi kritik terhadap pemerintah. Salah satu spanduk menyerukan penghentian peran militer dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Satgas PKH, PT Agrinas, dan proyek strategis lainnya.
Poster lain menyoroti persoalan lingkungan dengan pesan, “Mimpiku Ga Muluk-muluk: Bisa Bernapas Lega, Hutanku Terjaga”.
Mahasiswa Jayabaya Bawa Keranda Bertuliskan Kemanusiaan
Di lokasi berbeda, mahasiswa Universitas Jayabaya tiba di Jalan Medan Merdeka Selatan sekitar pukul 16.30 WIB. Mereka datang menggunakan angkutan kota dan sepeda motor dari arah Tugu Tani, dengan satu mobil komando memimpin rombongan.
Massa yang mengenakan jas almamater berwarna oranye dan abu-abu membawa sejumlah atribut demonstrasi, termasuk keranda bambu berwarna hijau bertuliskan “Kemanusiaan”.
Salah satu peserta menyebut keranda tersebut sebagai “oleh-oleh” untuk pemerintahan Prabowo-Gibran. Atribut itu menjadi salah satu simbol yang menonjol dalam demonstrasi hari itu.
Kehadiran massa juga berdampak pada lalu lintas di sekitar lokasi. Sebagian akses Jalan Medan Merdeka Selatan ditutup total, sehingga kendaraan dari arah Patung Kuda untuk sementara tidak dapat melintas di ruas tersebut.
Kendaraan dari arah Tugu Tani masih dapat melewati Jalan Medan Merdeka, tetapi hanya bisa berbelok ke Jalan H. Agus Salim dan tidak dapat melanjutkan perjalanan menuju Patung Kuda.
Massa Coba Menerobos Pembatas Menuju Istana Negara
Ketegangan terjadi ketika mahasiswa Universitas Jayabaya berusaha menerobos pembatas jalan atau barrier untuk menuju Istana Negara.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, massa bergerak ke arah pembatas sambil meneriakkan seruan reformasi. Mereka kemudian mendorong, menendang, dan memukul pembatas beton hingga posisinya sempat goyah dan miring.
Kapolsek Metro Gambir AKBP Agus Ady Wijaya bersama sejumlah personel kepolisian yang berjaga mendekati mahasiswa dan meminta mereka menenangkan diri.
Ketegangan berlanjut ketika massa membakar keranda bambu yang dibawa dalam aksi tersebut. Situasi sempat memanas setelah polisi menghampiri titik pembakaran dan terjadi cekcok dengan peserta demonstrasi.
Dalam situasi tersebut, polisi menyemprotkan alat pemadam api ringan (APAR) berisi busa ke arah kerumunan.
Spanduk Tuntutan Dibentangkan di Atas Patung Tugu Tani

Sementara itu, di kawasan Tugu Tani, sejumlah peserta aksi memanjat Monumen Patung Pahlawan untuk membentangkan spanduk berisi tuntutan mereka. Aksi tersebut dimulai sekitar pukul 18.00 WIB.
Sekitar lima orang bekerja sama untuk membantu dua peserta naik ke bagian atas patung. Setelah berhasil mencapai posisi yang dituju, massa dari bawah melemparkan spanduk dan tali untuk dipasang.
Salah satu peserta kemudian memanjat bagian patung petani perempuan untuk mengikat spanduk. Keberhasilan membentangkan spanduk disambut sorakan dan tepuk tangan dari peserta lain.
Massa juga meneriakkan seruan revolusi dan menyanyikan lagu “Buruh Tani” serta “Darah Juang” bersama-sama.
Spanduk tersebut memuat lima tuntutan utama. Pertama, menetapkan karhutla dan bencana banjir sebagai bencana nasional. Kedua, menjamin dan memulihkan kesehatan warga serta mengadili dan mencabut izin korporasi yang dinilai bertanggung jawab atas krisis tersebut.
Ketiga, memperbaiki tata kelola kebijakan ekonomi, mengembalikan kepercayaan pasar, dan menghentikan pembatasan kebebasan berpendapat. Keempat, memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Kelima, menurunkan biaya pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik sekaligus memastikan akses yang merata bagi masyarakat.
Mahasiswa Ancam Kembali Berdemo pada 28 Oktober
Setelah pembacaan pernyataan sikap, perwakilan mahasiswa menegaskan bahwa demonstrasi tersebut bukan akhir dari perjuangan mereka. Massa menyatakan berencana kembali menggelar aksi dengan jumlah peserta yang lebih besar pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.
Pernyataan itu disampaikan di tengah kritik terhadap kondisi bangsa yang dinilai menghadapi berbagai persoalan, termasuk bencana lingkungan, kebijakan ekonomi, korupsi, dan akses terhadap layanan dasar.
Sekitar pukul 18.35 WIB, ketika massa di Tugu Tani hendak membubarkan diri, polisi datang dan menurunkan spanduk yang dibentangkan di patung. Peserta aksi sempat menyoraki petugas, tetapi tidak terjadi keributan lanjutan. Massa kemudian meninggalkan lokasi.
Rencana demonstrasi pada 28 Oktober menjadi perkembangan berikutnya yang perlu diperhatikan, terutama terkait tuntutan yang akan dibawa mahasiswa dan respons pemerintah terhadap berbagai kritik yang disampaikan.




Komentar