
Key Insights
- Industri kecantikan dan ekonomi kreatif digital Indonesia tumbuh bersamaan, dengan kreator konten menjadi salah satu pendorong utama strategi pemasaran brand.
- Tantangan terbesar bukan kekurangan peluang, melainkan menemukan kecocokan antara identitas brand dan karakter kreator beserta audiensnya.
- Forum business matching mencerminkan pergeseran menuju kolaborasi yang lebih terstruktur, autentik, dan berorientasi jangka panjang.
Situasi inilah yang menjadi latar digelarnya Exclusive Matchmaking Beauty Brand Day di Jakarta, Kamis (26/6). Forum yang diinisiasi Otto Media Grup tersebut mempertemukan 13 brand kecantikan dengan ratusan content creator dalam sesi networking dan business matching.
Pertemuan semacam ini muncul pada saat ekonomi kreatif digital Indonesia menunjukkan skala yang semakin besar. Kontribusi sektor tersebut disebut telah mencapai Rp450 triliun, dengan jumlah content creator aktif diperkirakan mencapai 12 hingga 15 juta orang. Di sisi lain, pasar kosmetik Indonesia sepanjang 2025 membukukan pendapatan sekitar Rp35,6 triliun dan diproyeksikan terus tumbuh rata-rata 4,73 persen per tahun.
Di dalam ekosistem tersebut, kreator konten semakin memainkan peran penting dalam membentuk persepsi dan keputusan konsumen. Namun, di balik derasnya kolaborasi yang terlihat di media sosial, menemukan pasangan kerja yang tepat masih menjadi tantangan bagi kedua pihak.
“Brand kesulitan menemukan kreator yang tepat, dan kreator pun tidak selalu punya akses langsung ke brand yang mereka inginkan,” kata COO Otto Media Grup, Firman Chen.

Selama acara berlangsung, para peserta tidak hanya saling bertukar kartu nama atau memperkenalkan profil media sosial. Brand berkesempatan memahami karakter audiens dan gaya komunikasi para kreator, sementara kreator memperoleh gambaran lebih jelas mengenai kebutuhan komunikasi dan ekspektasi masing-masing perusahaan.
Baca juga: Dangdut di Era Google dan Ritme Digital Gen Z
Sebanyak 13 brand kecantikan ikut berpartisipasi, di antaranya Wosh Day, Carasun, Ignio Man, In The Mood For, BC Skin, Brasov, NEWLAB+, Bonvie, Bodify, Deorex, Derma Express, Loruva, dan NDR. Acara juga dilengkapi workshop yang menghadirkan kreator Alfina Alrasyid dan Shela Oktav.
Bagi para kreator, tantangan kolaborasi kini tidak lagi semata soal memperoleh proyek atau meningkatkan jangkauan. Kesesuaian nilai dan kedekatan dengan audiens menjadi pertimbangan yang semakin penting.
“Sebagai kreator, tantangan terbesar bukan hanya soal konten, tapi menemukan brand yang benar-benar sejalan dengan nilai dan audiens yang saya miliki,” ujar Alfina Alrasyid.

Fenomena ini menunjukkan perubahan dalam lanskap pemasaran digital. Di tengah banjir konten dan semakin selektifnya konsumen, kolaborasi yang terasa relevan dan autentik cenderung lebih bernilai dibanding sekadar kemitraan berbasis angka pengikut atau tingkat engagement.
Forum yang mempertemukan brand dan kreator secara langsung juga mencerminkan kebutuhan baru dalam industri kreatif, yakni membangun hubungan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Ke depan, seiring pertumbuhan pasar kecantikan dan bertambahnya jumlah kreator digital, ruang-ruang pertemuan semacam ini kemungkinan akan menjadi bagian penting dari cara industri mencari kolaborasi yang lebih efektif dan saling menguntungkan.



