
Key Insights:
- AESI Solar Run 2026 mengajak 500 peserta menghubungkan gaya hidup sehat dengan gerakan menuju kemandirian energi surya.
- Kegiatan ini melibatkan AESI bersama Kementerian ESDM, Dewan Energi Nasional, dan PLN untuk mendorong kolaborasi dalam transisi energi.
- Pemanfaatan PLTS atap menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkenalkan energi surya kepada masyarakat secara lebih dekat.
Sebanyak 500 peserta mengikuti kategori lari 5K dan 10K dengan rute dari Jalan M.H. Thamrin hingga kawasan Jalan Sudirman. Kegiatan tersebut berlangsung bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dewan Energi Nasional (DEN), dan PT PLN (Persero).
Momentum pelaksanaannya juga berdekatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan RI. Namun, pesan yang dibawa tidak berhenti pada semangat perayaan. AESI mengaitkan gagasan kemerdekaan dengan kebutuhan Indonesia membangun kemandirian energi, termasuk melalui pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di tingkat rumah tangga.
Staf Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan Kementerian ESDM, Prof. Dr. Tirta Nugraha Mursitama, mengatakan pemerintah tengah mendorong pembangunan ekosistem energi surya secara lebih luas. Ia menilai kegiatan seperti Solar Run dapat menjadi sarana untuk membawa pembahasan energi surya lebih dekat kepada masyarakat.
Dari sisi PLN, Direktur Manajemen Risiko PT PLN (Persero) Denny Triyanto menyamakan transisi energi dengan lari jarak jauh. Menurutnya, pencapaian target energi bersih membutuhkan ketahanan dan kerja sama lintas pihak, bukan hanya upaya satu institusi.
Gambaran tersebut terlihat dari keterlibatan Dewan Energi Nasional dalam kegiatan. Sekretaris Jenderal DEN Dadan Kusdiana bahkan ikut berlari dalam kategori 10K. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam mempercepat pemanfaatan energi surya.
Bagi AESI, format lari dipilih karena relatif mudah diterima berbagai kelompok masyarakat. Ketua Acara AESI Solar Run 2026 yang juga Wakil Ketua Umum AESI Bidang Riset dan Teknologi, I Made Aditya Suryawidya, menyebut olahraga dapat menjadi pintu masuk untuk memulai percakapan tentang energi surya.
Pendekatan tersebut menjadi relevan karena isu energi terbarukan kerap identik dengan pembahasan kebijakan, investasi, atau teknologi yang cukup teknis. Dengan membawa isu tersebut ke ruang publik melalui kegiatan olahraga, pesan mengenai energi surya dapat disampaikan dalam konteks yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat.
Terlebih, rute yang melewati kawasan Car Free Day membuat pesan kegiatan tidak hanya menjangkau 500 peserta yang terdaftar. Masyarakat yang beraktivitas di sepanjang jalur juga dapat melihat langsung kampanye mengenai pemanfaatan energi surya.
Ketua Umum AESI Mada Ayu Habsari menempatkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari agenda membangun ekosistem energi surya nasional. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lain diperlukan agar berbagai program energi surya dapat berjalan lebih cepat.
Di tingkat konsumen, salah satu isu yang ingin diperkuat AESI adalah pemahaman mengenai pemanfaatan Solar PV pada sektor residensial, komersial, hingga industri. Dengan demikian, transisi energi tidak hanya dipahami sebagai pembangunan pembangkit berskala besar, tetapi juga sebagai perubahan pada cara masyarakat dan pelaku usaha memperoleh serta menggunakan energi.
Solar Run 2026 pada akhirnya menjadi contoh bagaimana isu transisi energi mulai dikemas melalui pendekatan yang lebih dekat dengan publik. Pesan tentang kemandirian energi tidak hanya dibicarakan dalam ruang kebijakan, tetapi dibawa ke jalanan Jakarta dan dikaitkan dengan aktivitas yang dapat diikuti masyarakat secara langsung.
Bagi AESI, perjalanan menuju energi surya membutuhkan partisipasi banyak pihak. Jika pemanfaatan energi bersih ingin berkembang lebih luas, membangun pemahaman publik menjadi langkah awal yang tidak kalah penting dari pengembangan teknologi dan infrastrukturnya.



