Endoxa Asia – Gunung Fuji di Jepang dilanda tanah longsor setelah hujan deras mengguyur Prefektur Shizuoka pada Rabu, 9 September 2026. Material longsor menimbun tiga kendaraan di area parkir dekat Fuji Miyaguchi atau jalur Fujinomiya, salah satu akses utama menuju gunung tertinggi di Jepang tersebut.
Tidak ada orang di dalam kendaraan ketika longsor terjadi. Namun, pada hari yang sama, dua pendaki ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di lokasi berbeda di jalur Gunung Fuji. Keduanya kemudian dilaporkan meninggal dunia.
Peristiwa ini terjadi sehari sebelum musim pendakian resmi Gunung Fuji ditutup pada 10 September 2026. Cuaca ekstrem berupa hujan lebat, angin kencang, dan kabut tebal membuat proses penyelamatan serta akses menuju kawasan gunung menjadi sulit.
Longsor Menimbun Tiga Kendaraan
Tanah longsor terjadi sekitar tengah malam di area parkir stasiun kelima jalur Fujinomiya, Prefektur Shizuoka. Material tanah dan batu dari lereng di sekitar area tersebut mengalir ke tempat parkir dan menimbun tiga kendaraan milik pekerja operasional.
Menurut laporan media lokal Jepang, ketiga kendaraan tidak sedang ditumpangi ketika tertimbun. Tidak ada korban luka yang dilaporkan dari titik longsor utama. Jalan menuju area tersebut juga sempat ditutup untuk seluruh kendaraan, termasuk bus dan taksi, karena material longsoran menutup akses.
Hujan deras disebut menjadi pemicu utama longsor. Rekaman dari lokasi memperlihatkan material tanah mengalir dari sisi lereng menuju area parkir. Otoritas setempat kemudian melakukan pembersihan dan menyiapkan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui kondisi lereng serta langkah pencegahan berikutnya.
Dua Pendaki Ditemukan Tidak Sadarkan Diri
Di tengah kondisi cuaca yang memburuk, dua pendaki ditemukan tidak sadarkan diri di jalur berbeda.
Pendaki pertama, seorang pria yang diperkirakan berusia 30 hingga 40 tahun, ditemukan di sekitar area puncak Gunung Fuji pada pagi hari. Pendaki kedua, pria berusia sekitar 60 tahun, ditemukan terjatuh di sekitar kawasan jalur Fujinomiya, dekat area stasiun ketujuh.
Keduanya diduga melakukan pendakian secara terpisah. Tim penyelamat dari Kepolisian Prefektur Shizuoka dikerahkan untuk mencapai lokasi, tetapi kondisi angin kencang, hujan deras, dan jarak pandang yang sangat terbatas membuat proses evakuasi berlangsung sulit.
Laporan awal menyebut kedua pendaki berada dalam kondisi tidak sadarkan diri atau mengalami henti jantung. Dalam perkembangan berikutnya, media Jepang melaporkan bahwa keduanya meninggal dunia. Polisi masih melakukan konfirmasi identitas dan pemeriksaan lebih lanjut terkait penyebab kematian.
Cuaca Ekstrem Mengganggu Akses Pendakian
Kawasan Gunung Fuji mengalami cuaca buruk sejak malam sebelum insiden. Hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang membuat sejumlah jalur pendakian tertutup kabut tebal.
Di sekitar ketinggian 2.800 meter, angin dilaporkan bertiup sangat kuat hingga menyulitkan pendaki untuk berdiri dan melihat jalur di depan mereka. Jalan menuju kawasan stasiun kelima juga sempat ditutup akibat hujan dan risiko longsor susulan.
Akses lain menuju Gunung Fuji, termasuk Fuji Subaru Line, turut terdampak cuaca buruk. Penutupan jalan dilakukan sebagai langkah pencegahan karena kondisi permukaan jalan dan lereng dinilai berbahaya bagi kendaraan maupun pendaki.
Musim Pendakian Resmi Ditutup pada 10 September
Insiden ini terjadi menjelang penutupan musim pendakian resmi Gunung Fuji pada 10 September 2026. Di sisi Shizuoka, pendakian melalui jalur Fujinomiya, Gotemba, dan Subashiri berlangsung selama periode pembukaan musim panas yang dimulai pada awal Juli.
Pemerintah Prefektur Shizuoka menerapkan sejumlah aturan selama musim pendakian, termasuk kewajiban registrasi sebelum memasuki jalur, pembayaran biaya masuk, serta pengendalian jumlah pendaki. Aturan tersebut ditujukan untuk meningkatkan keselamatan dan mengurangi risiko pendakian tanpa persiapan memadai.
Pemerintah Jepang juga memantau jumlah pendaki melalui sistem penghitung di sekitar stasiun kedelapan. Data resmi lingkungan Jepang menunjukkan bahwa jumlah pendaki Gunung Fuji tetap menjadi perhatian karena tingginya aktivitas wisata di sepanjang empat jalur utama.
Overtourism dan Risiko Bullet Climbing
Gunung Fuji merupakan salah satu destinasi wisata alam paling populer di Jepang. Tingginya jumlah pengunjung setiap musim panas membuat otoritas setempat menghadapi persoalan overtourism, mulai dari kepadatan jalur, sampah, gangguan terhadap fasilitas, hingga pendakian tanpa persiapan.
Salah satu kebiasaan yang menjadi perhatian adalah bullet climbing, yaitu pendakian cepat dari kaki gunung menuju puncak tanpa menginap atau beristirahat secara memadai. Pola ini meningkatkan risiko kelelahan, hipotermia, gangguan kesehatan akibat ketinggian, serta kecelakaan ketika kondisi cuaca berubah secara tiba-tiba.
Regulasi yang diberlakukan pemerintah tidak hanya berkaitan dengan pembatasan jumlah pengunjung, tetapi juga bertujuan mendorong pendaki untuk mempersiapkan perjalanan dengan lebih baik. Reservasi tempat menginap, registrasi pendakian, dan pengaturan akses menjadi bagian dari upaya mengurangi tekanan terhadap lingkungan serta menjaga keselamatan wisatawan.
Penutupan Musim Tidak Menghapus Risiko di Luar Periode Resmi
Berakhirnya musim pendakian resmi bukan berarti Gunung Fuji sepenuhnya aman atau otomatis dapat didaki tanpa batasan. Di luar periode pembukaan, cuaca dapat berubah lebih cepat dan sejumlah fasilitas, pos pendakian, serta jalur pendukung tidak beroperasi seperti pada musim panas.
Longsor dan kecelakaan yang terjadi pada hari terakhir musim pendakian 2026 kembali menunjukkan bahwa kondisi Gunung Fuji tidak hanya ditentukan oleh popularitasnya sebagai tujuan wisata. Hujan ekstrem, angin kencang, visibilitas rendah, dan kesiapan pendaki tetap menjadi faktor penting yang dapat menentukan keselamatan perjalanan.
Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat bahwa pengalaman mendaki gunung ikonik membutuhkan perencanaan, pemantauan cuaca, serta kepatuhan terhadap aturan resmi. Keindahan Gunung Fuji tidak menghilangkan risiko alam yang menyertainya.



Komentar