SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mobil Otomotif

BMW China Dilaporkan PHK 1.800 Pekerja, Mayoritas dari Bagian Produksi

BMW China Dilaporkan PHK 1.800 Pekerja, Mayoritas dari Bagian Produksi
BMW China Dilaporkan PHK 1.800 Pekerja, Mayoritas dari Bagian Produksi

Endoxa Asia – BMW dilaporkan mulai mengurangi sekitar 1.800 tenaga kerja di China. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 10 persen dari total karyawan BMW Brilliance Automotive (BBA), perusahaan patungan BMW Group dan Brilliance Group yang mengoperasikan fasilitas produksi BMW di negara tersebut.

Informasi pemutusan hubungan kerja (PHK) ini muncul di tengah tekanan yang dihadapi BMW di pasar otomotif China. Penurunan penjualan, persaingan dari produsen lokal, serta program efisiensi di tingkat global membuat pabrikan asal Jerman itu harus menata kembali operasionalnya.

Penang Gratiskan Tarif Feri untuk Warga Malaysia pada 8 November Saat Deepavali

Namun, hingga berita ini disusun, BMW belum memberikan pernyataan resmi mengenai pengurangan tenaga kerja di China. Perusahaan juga belum mengonfirmasi apakah langkah tersebut merupakan bagian dari program restrukturisasi global yang sebelumnya diumumkan.

Sekitar 1.800 Pekerja Disebut Terdampak

Laporan mengenai PHK di China pertama kali diberitakan media otomotif CarNewsChina pada 2 November 2026, kemudian dikutip sejumlah media, termasuk detikOto. Pengurangan tenaga kerja disebut menyasar sekitar 1.800 karyawan atau kurang lebih 10 persen dari total pekerja BMW Brilliance Automotive.

Sejumlah karyawan dilaporkan membenarkan adanya pengurangan tenaga kerja tersebut. Posisi yang terdampak mencakup bagian produksi hingga administrasi. Meski demikian, pekerja dari lini produksi disebut menjadi kelompok yang paling banyak terkena dampak, terutama di fasilitas utama perusahaan di Shenyang, Provinsi Liaoning.

BMW dilaporkan menawarkan kompensasi dengan skema N+5. Dalam skema tersebut, komponen N dihitung berdasarkan gaji bulanan sebelum pajak, sementara tambahan lima bulan menggunakan perhitungan gaji pokok dan tidak memasukkan bonus kinerja.

Pengurangan tenaga kerja disebut menyentuh karyawan dengan masa kerja yang beragam, mulai dari sekitar tiga hingga lima tahun, pekerja senior, sampai manajemen tingkat lini depan.

Meski informasi tersebut telah diberitakan sejumlah media, rincian jumlah pekerja, unit yang terdampak, dan ketentuan kompensasi masih menunggu konfirmasi langsung dari BMW.

El Niño Ekstrem Picu Cuaca Tak Menentu di Asia Timur, Topan dan Banjir Mengancam

Berbeda dengan Restrukturisasi BMW di Jerman

Pengurangan tenaga kerja di China muncul setelah BMW mengumumkan rencana restrukturisasi besar di Jerman. Pada Juli 2026, perusahaan menyampaikan rencana mengurangi beberapa ribu posisi hingga akhir 2027. Reuters melaporkan jumlah pengurangan secara keseluruhan diperkirakan mencapai sekitar 8.000 pekerja.

Program di Jerman memiliki karakter berbeda dari laporan PHK di China. BMW dan perwakilan pekerja menyepakati skema pengunduran diri sukarela serta pengurangan melalui pergantian tenaga kerja alami. Fokusnya terutama pada bagian administrasi dan pengembangan, sedangkan pekerja produksi dikecualikan dari program tersebut.

Respons karyawan terhadap tawaran pesangon di Jerman dilaporkan sangat tinggi. Menurut laporan media Jerman yang dikutip detikOto, sekitar 5.000 kuota pengajuan telah terisi dalam tiga hari sehingga pendaftaran ditutup lebih cepat.

Dengan demikian, dua langkah pengurangan tenaga kerja tersebut tidak bisa dianggap sebagai satu program yang identik. Di Jerman, BMW mengandalkan pengunduran diri sukarela dan pengurangan posisi nonproduksi. Sementara itu, laporan dari China menyebut pekerja produksi juga terdampak, tetapi belum ada konfirmasi resmi mengenai hubungan kedua kebijakan tersebut.

Honda Bawa Teknologi Sensing Mobil ke Motor, Africa Twin 2027 Dapat 10 Fitur ADAS

Penjualan di China Menjadi Salah Satu Tekanan Utama

China merupakan salah satu pasar penting bagi BMW. Namun, persaingan di negara tersebut semakin ketat karena produsen lokal menawarkan kendaraan dengan harga kompetitif serta teknologi yang semakin menarik bagi konsumen.

Data yang dikutip detikOto menunjukkan penjualan BMW dan Mini di China selama sembilan bulan pertama 2026 turun 21,8 persen menjadi sekitar 376 ribu unit. Pada periode yang sama, pengiriman kendaraan BMW Group secara global mencapai sekitar 1,71 juta unit, turun 4,9 persen dibandingkan periode Januari-September tahun sebelumnya.

Tekanan di China juga tercermin dalam laporan Reuters pada 3 November 2026. BMW kembali menurunkan proyeksi margin EBIT segmen otomotif untuk tahun ini, dari kisaran 1-3 persen menjadi minus 0,5 hingga 0,5 persen. Perusahaan mengaitkan perubahan proyeksi tersebut dengan biaya restrukturisasi dan melemahnya permintaan di China.

Reuters juga melaporkan BMW mempercepat penataan organisasi dan pengurangan fungsi manajemen. Perusahaan menghadapi perubahan perilaku konsumen di pasar China, yang semakin memilih merek domestik dengan harga lebih rendah.

Situasi tersebut menjadi tantangan bagi produsen otomotif premium seperti BMW. Mereka perlu mempertahankan daya saing di pasar yang semakin kompetitif, sekaligus menanggung biaya pengembangan teknologi baru dan transisi menuju kendaraan listrik.

Suzuki GSX-10R 2027 Meluncur, Moge 999 cc Dibekali 15 Fitur Elektronik

BMW Brilliance Automotive Punya Peran Penting di China

BMW Brilliance Automotive merupakan perusahaan patungan BMW Group dengan Brilliance Group yang berdiri pada Mei 2003. BMW memegang 75 persen saham perusahaan tersebut, sementara Brilliance memiliki 25 persen.

Berbasis di Shenyang, BBA menjadi salah satu pusat produksi utama BMW di dunia. Fasilitasnya memproduksi sejumlah model untuk pasar China, termasuk BMW Seri 3, Seri 5 versi wheelbase panjang, X1, X3, X5, dan mobil listrik i5.

Kapasitas produksi dan posisi strategis BBA membuat perkembangan operasional perusahaan ini penting bagi bisnis BMW di China. Karena itu, laporan pengurangan 1.800 pekerja juga menjadi perhatian terhadap arah bisnis pabrikan tersebut di pasar otomotif terbesar dunia.

Meski demikian, belum ada keterangan resmi yang menjelaskan apakah pengurangan tenaga kerja di BBA akan memengaruhi kapasitas produksi, model kendaraan tertentu, atau rencana investasi BMW di China.

Restrukturisasi Berlanjut di Tengah Tekanan Industri

Laporan PHK di China memperlihatkan tantangan yang dihadapi BMW tidak hanya terjadi di kantor pusat Jerman. Perusahaan juga menghadapi tekanan operasional di pasar yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu penopang bisnisnya.

Di tengah perubahan pasar kendaraan listrik dan persaingan harga, BMW perlu menyeimbangkan efisiensi biaya dengan kemampuan mempertahankan produksi serta pengembangan produk. Pengurangan tenaga kerja dapat menjadi salah satu cara menekan pengeluaran, tetapi dampaknya terhadap operasional dan strategi jangka panjang masih perlu dilihat.

Untuk saat ini, angka sekitar 1.800 pekerja di China masih bersumber dari laporan media dan keterangan karyawan yang dikutip. Konfirmasi BMW mengenai jumlah pekerja terdampak, skema kompensasi, serta keterkaitan langkah tersebut dengan restrukturisasi global masih dinantikan.

Vietnam Diproyeksi Salip Indonesia dalam PDB per Kapita, Thailand Jadi Target Berikutnya

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *