Endoxa Asia – Asia Timur menghadapi rangkaian cuaca ekstrem sepanjang 2026. Filipina, Taiwan, China, dan Jepang dilanda badai tropis serta topan yang memicu korban jiwa, gangguan penerbangan, kerusakan infrastruktur, hingga kerugian sektor pertanian.
Kondisi tersebut terjadi ketika fenomena El Niño berkembang semakin kuat di Samudra Pasifik. Badan Meteorologi Jepang mencatat suhu permukaan laut di wilayah NINO.3 pada September 2026 mencapai 4 derajat Celsius di atas normal, melampaui rekor sebelumnya sebesar 3,6 derajat Celsius yang tercatat pada Desember 1997.
Dalam laporan BBC pada 4 November 2026, rangkaian badai tersebut disebut semakin mengkhawatirkan karena pola cuaca di Pasifik menjadi lebih sulit diprediksi. Sejumlah topan juga bergerak melalui jalur yang tidak biasa dan membawa dampak luas bagi negara-negara di kawasan.
Namun, El Niño bukan satu-satunya faktor yang menentukan kekuatan dan dampak badai. Perubahan pola angin, suhu permukaan laut, serta pemanasan atmosfer ikut memengaruhi perkembangan siklon tropis dan intensitas hujan yang dibawanya.
Topan Champi Membuat Taiwan Siaga Menghadapi Badai Besar

Salah satu badai yang menjadi perhatian pada Oktober 2026 adalah Topan Champi. Badai tersebut berkembang menjadi super topan dengan kecepatan angin yang dilaporkan mencapai sekitar 295 kilometer per jam.
Taiwan menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak ancaman Champi. Pemerintah setempat mengambil langkah antisipasi dengan menghentikan berbagai aktivitas, termasuk penerbangan dan kegiatan publik, menjelang kedatangan badai.
Meski pusat topan tidak menghantam daratan Taiwan secara langsung, dampaknya tetap terasa. Ratusan penerbangan dibatalkan di Taiwan, Hong Kong, dan Jepang. Gelombang tinggi juga mengganggu jalur pesisir di sejumlah wilayah Filipina.
Di Kepulauan Batanes, Filipina, otoritas membatasi aktivitas pelayaran dan menutup bandara akibat kondisi laut yang membahayakan. Sementara itu, di Okinawa, Jepang, sekitar 15.000 rumah dilaporkan mengalami pemadaman listrik.
Menurut laporan Associated Press, Champi sempat mencapai kecepatan angin maksimum sekitar 298 kilometer per jam sebelum melemah ketika melewati kawasan Taiwan. Badai tersebut juga menyebabkan gangguan transportasi dan kerusakan di beberapa wilayah.
Jepang Menghadapi Rangkaian Badai Sejak Pertengahan Tahun

Ancaman cuaca ekstrem tidak hanya muncul pada Oktober. Jepang juga menghadapi sejumlah badai tropis sejak pertengahan 2026.
Pada Juni, dua sistem badai, Mekkhala dan Higos, bergerak mendekati Jepang dan memicu hujan deras. Pemerintah mengeluarkan peringatan longsor tingkat tinggi serta imbauan evakuasi yang mencakup sekitar satu juta orang.
Dampaknya meluas ke transportasi dan industri. Lebih dari 200 penerbangan dibatalkan, sejumlah layanan kereta dan jalan tol dihentikan, sementara Toyota sempat menghentikan produksi di salah satu pabriknya di Kyushu.
Taiwan juga mengalami hujan deras pada periode tersebut. Beberapa wilayah, termasuk Kaohsiung, Pingtung, Tainan, dan Hsinchu, menghentikan kegiatan sekolah serta perkantoran. Curah hujan di Pingtung bahkan mendekati satu meter.

Pada Agustus, Jepang kembali menghadapi Topan Chan-Hom. Badai tersebut bergerak melintasi wilayah Honshu dari timur ke barat, termasuk kawasan sekitar Tokyo.
Menurut Japan Meteorological Agency, Chan-Hom menjadi badai pertama yang mendarat di Prefektur Ibaraki sejak pencatatan dimulai pada 1951. Peristiwa ini menunjukkan bahwa perubahan jalur badai dapat menghadirkan risiko di wilayah yang tidak selalu menjadi jalur utama topan.
El Niño Mengubah Pola Pergerakan Topan di Pasifik
El Niño merupakan fenomena iklim alami yang ditandai oleh peningkatan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis, disertai perubahan pola angin atmosfer.
Fenomena ini dapat memengaruhi sirkulasi atmosfer global dan mengubah kondisi pembentukan serta pergerakan siklon tropis.
Dalam konteks Pasifik barat laut, El Niño dapat membuat sejumlah badai lebih mudah bergerak ke arah utara dibandingkan terus menuju barat ke Asia Timur dan Asia Tenggara.
NASA Earth Observatory menjelaskan bahwa pola tersebut dapat meningkatkan kemungkinan badai bergerak menuju Guam, Kepulauan Mariana Utara, Jepang, dan Semenanjung Korea.
Dampaknya bukan berarti seluruh wilayah akan mengalami lebih banyak topan atau setiap badai pasti menjadi lebih kuat. Pengaruh El Niño terhadap siklon tropis bergantung pada kondisi atmosfer dan laut di masing-masing wilayah.
Kepala Klimatologi badan meteorologi Filipina, Ana Liza Solis, menggambarkan kondisi Samudra Pasifik saat ini seperti seseorang yang sedang mengalami demam tinggi.
“Pacific can be likened to someone burning with fever,” ujarnya dalam penjelasan yang dikutip BBC.
Gambaran tersebut merujuk pada suhu laut yang sangat tinggi dan perubahan kondisi atmosfer yang dapat memicu cuaca lebih tidak menentu.
Badan Meteorologi Jepang mencatat suhu permukaan laut wilayah NINO.3 pada September 2026 mencapai anomali positif 4 derajat Celsius. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1949.
Badan tersebut memperkirakan kondisi El Niño yang sangat kuat masih akan bertahan hingga musim dingin belahan bumi utara.
Sementara itu, badan meteorologi Filipina atau PAGASA pada 4 November 2026 menyatakan El Niño sangat kuat sedang berlangsung dan diperkirakan bertahan hingga paruh pertama 2027, dengan kemungkinan mencapai puncak pada akhir 2026.
Pemanasan Atmosfer Berpotensi Membuat Hujan Topan Lebih Ekstrem
Selain El Niño, pemanasan global juga menjadi faktor penting dalam memahami risiko badai tropis.
Atmosfer yang lebih hangat mampu menampung lebih banyak uap air. Ketika sistem badai terbentuk, ketersediaan kelembapan tersebut dapat meningkatkan potensi curah hujan ekstrem.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Natural Hazards and Earth System Sciences pada Juli 2026 mengkaji dampak pemanasan terhadap curah hujan dari tiga topan besar yang pernah melanda Filipina, yaitu Haiyan, Bopha, dan Mangkhut.
Penelitian yang dilakukan Rafaela Jane Delfino dan rekan-rekannya menggunakan simulasi iklim beresolusi tinggi untuk membandingkan karakteristik hujan dalam kondisi iklim yang berbeda.
Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi iklim yang lebih hangat dapat meningkatkan curah hujan yang dihasilkan topan. Kenaikan kelembapan atmosfer menjadi faktor utama, meskipun perubahan struktur dan dinamika badai juga memengaruhi hasil akhirnya.
Temuan ini penting bagi Filipina yang setiap tahun menghadapi sekitar 20 badai tropis. Curah hujan ekstrem dapat meningkatkan risiko banjir, longsor, dan kerusakan infrastruktur, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi.
Simulasi tersebut tidak berarti setiap topan di masa mendatang akan menghasilkan curah hujan dengan kenaikan persentase yang sama. Besarnya dampak tetap dipengaruhi karakteristik masing-masing badai dan kondisi lingkungan ketika terbentuk.
Ancaman Cuaca Ekstrem Diperkirakan Belum Berakhir

Kondisi Samudra Pasifik menunjukkan bahwa risiko cuaca ekstrem masih perlu diwaspadai dalam beberapa bulan mendatang.
PAGASA memperkirakan El Niño sangat kuat dapat bertahan hingga paruh pertama 2027. Fenomena tersebut berpotensi memicu kekurangan curah hujan dan kekeringan di sejumlah wilayah Filipina.
Namun, kondisi kering tidak berarti negara tersebut bebas dari hujan deras. PAGASA mengingatkan bahwa badai tropis dan sistem cuaca pembawa hujan masih dapat memicu curah hujan ekstrem secara lokal.
Di Jepang, China, Taiwan, dan wilayah Pasifik lainnya, perubahan jalur badai juga menjadi tantangan bagi sistem peringatan dini dan kesiapan infrastruktur.
Rangkaian peristiwa sepanjang 2026 memperlihatkan bahwa dampak cuaca ekstrem tidak berhenti pada wilayah yang dilintasi badai. Gangguan penerbangan, rantai pasok, produksi industri, pertanian, dan pasokan listrik dapat menjalar ke berbagai sektor.
Karena itu, penguatan sistem peringatan dini, kesiapan evakuasi, serta perlindungan infrastruktur menjadi semakin penting. Di tengah El Niño yang sangat kuat dan tren pemanasan global, kemampuan negara-negara Asia menghadapi cuaca ekstrem akan menjadi salah satu tantangan utama hingga 2027.




Komentar