Endoxa Asia – Standar kecantikan yang selama bertahun-tahun identik dengan kulit bercahaya, alis rapi, dan tampilan flawless mulai mendapat alternatif yang lebih berani. Soft grunge makeup hadir dengan eyeliner yang sengaja dibuat berantakan, lingkaran gelap di bawah mata, bibir bernuansa gelap, hingga alis tipis atau bahkan nyaris tidak terlihat.
Alih-alih menyamarkan setiap kekurangan wajah, gaya ini justru menjadikannya bagian dari tampilan. Kesan lelah, pucat, dan sedikit misterius bukan sesuatu yang harus diperbaiki, melainkan elemen estetika yang dipilih secara sadar.
Tren tersebut kembali mendapat perhatian seiring meningkatnya minat terhadap riasan alternatif dan estetika yang lebih eksperimental. Namun, bagi sebagian anak muda, soft grunge bukan sekadar cara mengikuti tren makeup. Gaya ini juga menjadi ruang untuk mengekspresikan identitas tanpa harus menyesuaikan diri dengan satu definisi cantik.
Soft Grunge Mengubah Cara Memandang Makeup

Soft grunge merupakan interpretasi lebih ringan dari estetika grunge yang populer pada era 1990-an. Gaya klasiknya identik dengan riasan mata gelap, eyeliner smudged, complexion matte, dan lipstik bernuansa cokelat, burgundy, atau hitam.
Versi modernnya mempertahankan karakter tersebut, tetapi memberi lebih banyak ruang untuk bereksperimen. Tampilan tidak harus selalu dramatis atau menyerupai riasan panggung. Penggunaan warna yang lebih lembut, garis eyeliner yang dibaurkan, dan bibir bernuansa muted dapat membuatnya lebih mudah dikenakan sehari-hari.
Perubahan ini juga terlihat dalam perkembangan tren kecantikan beberapa tahun terakhir. Setelah estetika clean girl mendominasi dengan kulit glowing, riasan minimal, dan tampilan yang terkesan terawat, gaya yang lebih gelap dan tidak terlalu sempurna kembali memperoleh perhatian.
Teen Vogue mencatat bahwa soft grunge menjadi pilihan bagi mereka yang ingin mencoba estetika grunge tanpa harus menggunakan riasan yang terlalu intens. Sejumlah figur publik seperti Jenna Ortega dan Gabriette turut memperlihatkan bagaimana tampilan tersebut dapat diadaptasi untuk berbagai kesempatan.
Lingkaran Gelap dan Eyeliner Berantakan Justru Jadi Ciri Khas

Salah satu hal yang membedakan soft grunge dari makeup konvensional adalah cara memperlakukan bagian-bagian wajah yang biasanya dianggap perlu disamarkan.
Lingkaran gelap di bawah mata, misalnya, tidak selalu ditutupi concealer. Sebaliknya, area tersebut dapat dipertahankan atau diperkuat untuk menciptakan kesan lebih muram. Eyeliner hitam juga tidak harus membentuk garis simetris dan tajam. Hasil yang sedikit berantakan justru menjadi bagian dari karakter tampilannya.
Elemen lain yang sering muncul adalah bibir bernuansa gelap, alis tipis, complexion matte, serta penggunaan warna hitam, abu-abu, dan cokelat dingin. Beberapa interpretasi bahkan memasukkan detail gothic dan visual yang menyerupai karakter fantasi.
Namun, tidak ada satu formula wajib untuk menciptakan tampilan soft grunge. Intensitas riasan dapat disesuaikan dengan preferensi masing-masing orang.
Tiga Kreator Singapura Menemukan Gaya Alternatifnya Sendiri


Dalam wawancara FZINE yang diterbitkan pada 4 November 2026, tiga kreator asal Singapura membagikan pengalaman mereka mengeksplorasi makeup alternatif, yaitu Tyra Ng, Joey Yeo, dan Jia Hui.
Ketiganya memiliki pendekatan berbeda. Tyra Ng, 22 tahun, menyukai estetika hitam dan putih dengan tampilan yang sengaja dibuat pucat. Ia menganggap makeup sebagai cara untuk mengubah dan mengekspresikan penampilan fisiknya.
Joey Yeo, 25 tahun, menggabungkan berbagai inspirasi, mulai dari subkultur Jepang, anime, visual kei, hingga gyaru makeup. Latar belakangnya di bidang seni juga memengaruhi cara ia menyusun warna dan detail pada wajah.
Sementara itu, Jia Hui, 22 tahun, yang dikenal melalui karya nail art alternatifnya, mengembangkan gaya makeup melalui proses eksperimen panjang. Ia tidak terpaku pada satu estetika tertentu, tetapi memilih elemen yang dirasa sesuai dengan wajah dan seleranya.
Perbedaan pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa makeup alternatif tidak harus mengikuti satu identitas atau kelompok tertentu. Seseorang dapat mengambil inspirasi dari berbagai budaya visual, lalu menggabungkannya menjadi gaya personal.
Visual Kei, Gyaru, hingga Anime Jadi Sumber Inspirasi

Pengaruh subkultur Jepang cukup kuat dalam pendekatan makeup Joey Yeo. Ia menyebut visual kei dan gyaru sebagai dua inspirasi yang membentuk selera riasannya.
Visual kei dikenal sebagai gerakan musik dan fashion Jepang dengan penampilan teatrikal, termasuk rambut dan makeup yang dramatis. Sementara gyaru merupakan gaya yang berkembang dalam budaya anak muda Jepang dengan karakter riasan ekspresif, mata yang dibuat lebih menonjol, dan pendekatan kecantikan yang berani.
Selain itu, Joey juga mengambil inspirasi dari anime dan fan art. Ia menggabungkan pemahaman tentang warna, seni, anatomi, dan komposisi untuk menciptakan tampilan yang terasa seperti karakter dari dunia imajinatif.
Jia Hui memiliki ketertarikan pada karya seniman H.R. Giger, yang dikenal melalui visual biomekanis dan bentuk-bentuk surealis. Ia menyukai estetika yang terlihat asing atau tidak sepenuhnya menyerupai manusia.
Pengaruh tersebut membuat makeup alternatif tidak hanya berfungsi mempercantik wajah, tetapi juga dapat menjadi medium seni. Wajah diperlakukan seperti kanvas untuk membangun karakter, suasana, dan cerita tertentu.
Makeup sebagai Bentuk Ekspresi, Bukan Sekadar Mengikuti Tren
Bagi para kreator tersebut, kebebasan berekspresi menjadi salah satu alasan utama mereka mempertahankan gaya makeup alternatif.
Tyra mengaku tidak ingin mengubah penampilannya hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Ia bahkan pernah mendapat komentar negatif ketika menghadiri acara dengan lipstik hitam dan smoky eye. Namun, pengalaman itu tidak membuatnya ingin kembali pada standar penampilan yang lebih konvensional.
Joey juga menyebut bahwa ia mulai merasa lebih puas dengan hasil riasannya ketika berhenti terlalu memikirkan apakah tampilannya akan disukai orang lain atau terlihat bagus di media sosial.
Menurutnya, makeup dapat menjadi cara untuk mengekspresikan diri dan membangun rasa percaya diri. Ia menggambarkan makeup seperti war paint, sesuatu yang dapat membantu seseorang merasa lebih dekat dengan identitasnya sendiri.
Pandangan tersebut memperlihatkan bagaimana generasi muda memaknai kecantikan secara lebih personal. Tampilan yang dianggap tidak biasa oleh sebagian orang dapat menjadi sumber kenyamanan dan kepercayaan diri bagi pemakainya.
Soft Grunge Tidak Harus Berarti Makeup yang Dramatis

Meski memiliki karakter gelap, soft grunge tetap dapat disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari. Tidak semua orang harus menggunakan lipstik hitam, alis yang diputihkan, atau riasan mata yang sangat tebal untuk mencoba estetika ini.
Salah satu cara paling sederhana adalah menggunakan eyeliner hitam atau abu-abu, kemudian membaurkan garisnya agar tidak terlihat terlalu tajam. Eyeshadow bernuansa cokelat dingin atau abu-abu dapat menambah kedalaman tanpa membuat tampilan terlalu berat.
Complexion juga bisa dibuat lebih natural dengan hasil matte atau satin, sementara bibir dapat menggunakan warna nude kecokelatan, mauve, atau burgundy yang dibaurkan. Penggunaan produk tidak harus berlapis-lapis karena karakter utama gaya ini justru terletak pada hasil akhir yang terasa lebih bebas.

Makeup artist dan industri kecantikan juga mulai mengadaptasi estetika tersebut. M·A·C, misalnya, memperkenalkan interpretasi Quiet Grunge dengan warna hitam, abu-abu, dan greige. Pendekatan ini mempertahankan semangat grunge, tetapi membuatnya lebih mudah dipadukan dengan gaya modern.
Pada akhirnya, soft grunge menawarkan alternatif bagi mereka yang merasa tidak harus selalu terlihat sempurna. Riasan dapat menjadi eksperimen, permainan estetika, sekaligus cara untuk menunjukkan kepribadian. Dalam pendekatan ini, kecantikan tidak selalu berarti menyamarkan hal-hal yang dianggap kurang ideal, tetapi juga berani menjadikannya bagian dari karakter diri.




Komentar