Endoxa Asia – Agensi ENHYPEN, BELIFT LAB, mengambil langkah hukum setelah Jay diduga menjadi korban stalking dan pelanggaran privasi sejak Juni 2026. Individu yang dilaporkan tersebut disebut berulang kali menghubungi nomor pribadi sang idol dengan menyamar sebagai pegawai layanan pemasangan internet dan televisi.
Kasus ini menjadi perhatian setelah BELIFT LAB mengungkap bahwa orang tersebut juga diduga merekam percakapan telepon dengan Jay tanpa izin, kemudian menyebarkannya melalui sejumlah platform digital. Agensi memastikan telah mengajukan pengaduan pidana dan meminta bantuan perusahaan telekomunikasi untuk mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab.
Pernyataan resmi itu disampaikan melalui platform komunitas penggemar Weverse pada 3 November 2026. BELIFT LAB menegaskan tidak akan memberikan toleransi terhadap tindakan yang mengancam keselamatan dan privasi artisnya.
Stalker Diduga Menyamar sebagai Pegawai Layanan Internet
Menurut keterangan BELIFT LAB, individu tersebut mulai berusaha menghubungi nomor pribadi Jay beberapa kali sejak Juni 2026. Dalam kontak awal, orang itu mengaku sebagai pegawai pusat layanan pemasangan internet dan televisi.
Individu tersebut juga disebut membawa-bawa keluarga Jay ketika menghubunginya. Dengan dalih memberikan informasi mengenai layanan, orang itu berusaha membangun komunikasi, menanyakan waktu yang tepat untuk menelepon kembali, serta meninggalkan nomor kontak pribadinya.
Jay kemudian memeriksa informasi tersebut secara langsung kepada keluarganya. Dari pengecekan itu, klaim individu yang mengaku sebagai pegawai layanan tersebut diketahui tidak benar.
Meski Jay tidak memberikan tanggapan, upaya menghubungi sang idol disebut terus berlanjut. BELIFT LAB menyatakan tindakan tersebut telah berkembang menjadi gangguan berulang yang melanggar privasi artis.
Rekaman Percakapan Disebar ke Sejumlah Platform

Agensi ENHYPEN Tempuh Jalur Hukum atas Kasus Stalker Jay, Rekaman Telepon Disebar
Selain menghubungi Jay secara berulang, individu tersebut diduga merekam percakapan telepon tanpa izin. Rekaman itu kemudian disebarkan melalui beberapa platform, termasuk KakaoTalk, Instagram, dan X Spaces.
BELIFT LAB juga menyebut individu tersebut memberikan sejumlah alasan setelah tindakannya diketahui publik. Menurut agensi, orang itu mengklaim bahwa percakapan tersebut berkaitan dengan pekerjaan atau bahwa dirinya telah diretas. Individu tersebut juga disebut menghapus akun-akunnya.
Agensi menilai penyebaran rekaman percakapan dan informasi pribadi berpotensi menimbulkan kerugian lanjutan bagi Jay. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan privasi, tetapi juga kondisi psikologis dan keamanan sang artis.
Dalam pernyataan resminya, BELIFT LAB mengatakan tindakan berulang tersebut telah menyebabkan Jay mengalami tekanan psikologis dan kecemasan.
BELIFT LAB Ajukan Pengaduan Pidana

BELIFT LAB memastikan telah mengajukan pengaduan pidana terhadap individu yang diduga melakukan tindakan tersebut. Keputusan itu diambil setelah agensi mempertimbangkan sejumlah hal, mulai dari kontak berulang, penggunaan informasi palsu untuk mendekati Jay, hingga perekaman dan penyebaran percakapan tanpa izin.
Agensi juga mengirimkan surat resmi kepada tiga perusahaan telekomunikasi utama di Korea Selatan untuk meminta kerja sama dalam mengidentifikasi orang tersebut.
Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui Weverse, BELIFT LAB menegaskan akan menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap tindakan stalking dan penyebaran informasi pribadi secara ilegal.
Agensi menyatakan tidak akan memberikan keringanan maupun menyelesaikan perkara melalui kesepakatan dengan pihak yang bertanggung jawab. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya melindungi privasi dan keselamatan artis.
BELIFT LAB turut mengapresiasi penggemar yang memberikan informasi selama proses penanganan kasus. Agensi meminta penggemar tetap melaporkan dugaan pelanggaran hak artis melalui laman perlindungan hak artis milik HYBE.
Kasus Privasi Artis K-Pop Kembali Jadi Sorotan
Kasus yang menimpa Jay kembali memperlihatkan persoalan keamanan dan privasi yang dihadapi idol K-Pop di luar aktivitas profesional mereka. Akses terhadap nomor pribadi, upaya menghubungi artis tanpa persetujuan, hingga penyebaran percakapan pribadi dapat membuat batas antara kehidupan publik dan ruang pribadi semakin rentan dilanggar.
Masalah serupa sebelumnya juga pernah disoroti BELIFT LAB. Pada Maret 2025, agensi tersebut menyampaikan pembaruan mengenai langkah hukum terhadap berbagai bentuk pelanggaran privasi dan stalking yang menimpa artis ENHYPEN.
Dalam pengumuman tersebut, BELIFT LAB menyinggung tindakan seperti memperoleh informasi perjalanan secara ilegal, mengikuti penerbangan yang sama dengan artis, hingga mengambil foto tanpa izin di ruang pribadi.
Namun, kasus Jay kali ini memiliki rangkaian dugaan tindakan yang lebih spesifik, yakni penggunaan identitas palsu untuk memperoleh akses komunikasi, kontak berulang, serta penyebaran rekaman percakapan telepon.
Hingga pengumuman 3 November 2026, BELIFT LAB telah menyatakan pengaduan pidana diajukan dan proses identifikasi individu tersebut sedang diupayakan melalui kerja sama dengan perusahaan telekomunikasi. Identitas terduga pelaku maupun perkembangan hasil penyelidikan belum diumumkan secara terbuka.
Langkah hukum ini menjadi bagian dari upaya agensi menegaskan bahwa popularitas seorang idol tidak menghilangkan haknya atas privasi dan keamanan pribadi.




Komentar