SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekonomi Bisnis

PGN Catat Penurunan Emisi 29.574 Ton, Kembangkan Biomethane dan Teknologi CCS

PGN Catat Penurunan Emisi 29.574 Ton, Kembangkan Biomethane dan Teknologi CCS
PGN Catat Penurunan Emisi 29.574 Ton, Kembangkan Biomethane dan Teknologi CCS

Endoxa Asia – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) memperkuat strategi bisnis berbasis energi rendah karbon melalui pengembangan infrastruktur gas bumi, efisiensi operasional, dan penjajakan teknologi baru. Hingga Agustus 2026, perusahaan melaporkan penurunan emisi sebesar 29.574,87 ton karbon dioksida ekuivalen (tCO₂eq).

Capaian tersebut diklaim 35,3% lebih tinggi dibandingkan target pengurangan emisi yang ditetapkan untuk periode tersebut. PGN menyebut hasil ini sebagai bagian dari upaya memperkuat operasional sekaligus mempersiapkan peluang bisnis di sektor energi rendah karbon.

Trip.com dan Live Nation Perluas Paket Wisata Konser di Asia

Sebagai Subholding Gas Pertamina, PGN mengelola jaringan transmisi dan distribusi gas bumi serta layanan energi untuk pelanggan industri, komersial, rumah tangga, dan pembangkit listrik.

Di luar bisnis gas konvensional, perusahaan juga mulai menjajaki pengembangan biomethane dari limbah cair pabrik kelapa sawit serta studi teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung rantai pasok amonia rendah karbon.

PGN Catat Penurunan Emisi 29.574 Ton CO₂

Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, menyampaikan bahwa perusahaan terus mengoptimalkan penggunaan gas bumi sebagai salah satu sumber energi transisi. Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan infrastruktur dan perluasan layanan kepada berbagai sektor.

“PGN terus mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi sebagai energi transisi melalui penguatan infrastruktur dan perluasan layanan kepada berbagai sektor. Di saat yang sama, kami juga mengembangkan berbagai inisiatif dekarbonisasi sebagai bagian dari upaya mendukung keberlanjutan bisnis dan transisi energi nasional,” ujar Fajriyah dalam keterangan tertulis pada 5 November 2026.

Berdasarkan data perusahaan, penurunan emisi hingga Agustus 2026 mencapai 29.574,87 ton CO₂ ekuivalen. Angka tersebut melampaui target perusahaan sebesar 35,3% untuk periode yang sama.

PGN menyebut pengurangan emisi dilakukan melalui sejumlah langkah, termasuk peningkatan efisiensi operasional dan optimalisasi penggunaan energi. Capaian tersebut menjadi dasar bagi perusahaan untuk melanjutkan program dekarbonisasi pada periode 2027–2030.

Korea Selatan Perluas Misi Militer Dekat Selat Hormuz, Tegaskan Tak Ikut Perang Iran

Meski demikian, angka pengurangan emisi tersebut merupakan laporan kinerja perusahaan. Untuk menilai dampak lingkungannya secara lebih menyeluruh, diperlukan informasi tambahan mengenai metode penghitungan, cakupan emisi yang dihitung, serta periode pembanding yang digunakan.

Infrastruktur Gas Bumi Tetap Jadi Bisnis Utama

Di tengah pengembangan energi rendah karbon, infrastruktur gas bumi masih menjadi fondasi bisnis PGN.

Perusahaan mengelola jaringan pipa transmisi dan distribusi untuk menyalurkan gas kepada berbagai pelanggan. Selain melalui pipa, PGN juga menyediakan layanan berbasis moda beyond pipeline, seperti Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquefied Natural Gas (LNG).

CNG merupakan gas bumi yang dimampatkan agar dapat disimpan dan didistribusikan menggunakan fasilitas khusus. Sementara LNG merupakan gas bumi yang dicairkan melalui proses pendinginan sehingga lebih mudah disimpan dan diangkut dalam volume besar.

DPR Dukung Target Cadangan Minyak 60 Hari, Indonesia Siapkan Storage di Sumatra

Kedua teknologi tersebut memungkinkan distribusi gas menjangkau wilayah atau pelanggan yang tidak selalu terhubung langsung dengan jaringan pipa.

Menurut profil perusahaan, PGN mengelola lebih dari 95% infrastruktur gas bumi hilir nasional dan menguasai lebih dari 90% pasar niaga gas bumi di Indonesia. Posisi tersebut membuat perusahaan memiliki peran penting dalam distribusi gas untuk sektor industri, komersial, rumah tangga, dan pembangkit listrik.

Namun, pengembangan gas bumi sebagai energi transisi juga perlu dilihat dalam konteks target penurunan emisi jangka panjang. Gas alam tetap merupakan bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi karbon ketika dibakar. Karena itu, manfaatnya terhadap transisi energi bergantung pada jenis energi yang digantikan, efisiensi penggunaannya, serta pengendalian kebocoran metana dalam rantai pasok.

Biomethane dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

Salah satu peluang bisnis rendah karbon yang sedang dijajaki PGN adalah pengembangan biomethane dari Palm Oil Mill Effluent (POME), yaitu limbah cair yang dihasilkan dalam proses pengolahan kelapa sawit.

POME memiliki kandungan bahan organik yang dapat menghasilkan biogas melalui proses penguraian tanpa oksigen atau anaerobik. Biogas tersebut dapat dimurnikan untuk meningkatkan kandungan metana sehingga menghasilkan biomethane.

Caltex dan Petron Mulai Bayar Kompensasi Kerusakan Kendaraan Akibat RON95 di Malaysia

Biomethane memiliki karakteristik yang mendekati gas alam dan berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi. Apabila memenuhi spesifikasi teknis yang dibutuhkan, gas ini juga dapat menjadi alternatif untuk mendukung pemanfaatan infrastruktur gas yang sudah tersedia.

Pengolahan POME menjadi biomethane memiliki potensi manfaat ganda. Selain menghasilkan energi, proses tersebut dapat membantu mengelola limbah cair industri kelapa sawit yang berpotensi menghasilkan gas rumah kaca apabila tidak ditangani dengan baik.

Meski demikian, PGN belum menyampaikan rincian kapasitas produksi, lokasi proyek, nilai investasi, maupun jadwal operasional komersial dalam pengumuman tersebut. Pengembangan biomethane masih perlu mempertimbangkan kesiapan teknologi, ketersediaan bahan baku, kelayakan ekonomi, dan kebutuhan pasar.

PGN Jajaki Teknologi Carbon Capture and Storage

Selain biomethane, PGN turut menjajaki studi teknologi Carbon Capture and Storage atau CCS.

CCS merupakan teknologi yang dirancang untuk menangkap karbon dioksida dari sumber emisi industri atau fasilitas energi, kemudian mengangkutnya untuk disimpan di formasi geologi bawah tanah dalam jangka panjang.

Dalam rencana yang disampaikan perusahaan, teknologi tersebut menjadi salah satu opsi untuk mendukung pengembangan rantai pasok amonia rendah karbon.

Amonia merupakan bahan kimia yang banyak digunakan dalam industri pupuk dan memiliki potensi pemanfaatan lebih luas, termasuk sebagai pembawa hidrogen dan bahan bakar dalam pengembangan teknologi energi tertentu.

Produksi amonia konvensional umumnya menggunakan gas alam sebagai bahan baku dan sumber energi. Proses tersebut menghasilkan emisi karbon. Penggunaan teknologi CCS berpotensi mengurangi emisi dari proses produksi dengan menangkap sebagian karbon dioksida sebelum dilepaskan ke atmosfer.

Vietnam Diproyeksi Salip Indonesia dalam PDB per Kapita, Thailand Jadi Target Berikutnya

Namun, keberhasilan CCS bergantung pada kemampuan menangkap emisi, ketersediaan fasilitas transportasi, kapasitas penyimpanan geologis, serta pengawasan kebocoran dalam jangka panjang.

PGN menyatakan pengembangan peluang tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan teknologi, kelayakan ekonomi, serta karakteristik pasar energi. Perusahaan belum mengumumkan proyek CCS yang sudah memasuki tahap pembangunan atau operasi komersial dalam keterangan terbarunya.

PGN Peroleh Penghargaan Industry Award 2026

Atas berbagai inisiatif tersebut, PGN memperoleh penghargaan “Most Outstanding Natural Gas Transition & Carbon Emission Reduction Excellence” dalam ajang Industry Award 2026.

Penghargaan yang diselenggarakan oleh industry.co.id dan emiten.org tersebut mempertimbangkan kinerja bisnis dan infrastruktur gas bumi, pemanfaatan gas sebagai energi transisi, pengurangan emisi karbon, serta inovasi dekarbonisasi.

PGN menyatakan akan melanjutkan koordinasi dengan pemerintah, Pertamina Group, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat layanan gas bumi sekaligus mengembangkan peluang energi rendah karbon.

Strategi tersebut memperlihatkan dua arah pengembangan bisnis perusahaan: mempertahankan peran gas bumi dalam memenuhi kebutuhan energi saat ini dan mempersiapkan sumber energi serta teknologi yang berpotensi mengurangi emisi pada masa mendatang.

Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa berbagai inisiatif tersebut dapat berkembang dari tahap penjajakan menjadi proyek yang layak secara ekonomi dan memberikan pengurangan emisi terukur. Dengan demikian, kontribusi PGN terhadap transisi energi tidak hanya dinilai dari penghargaan atau target perusahaan, tetapi juga dari hasil implementasi dan dampak lingkungannya.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *