Ekonomi Bisnis

Canva Restrukturisasi Besar, 1.271 Karyawan Terdampak PHK dan Perubahan Posisi

Canva Restrukturisasi Besar, 1.271 Karyawan Terdampak PHK dan Perubahan Posisi
Canva Restrukturisasi Besar, 1.271 Karyawan Terdampak PHK dan Perubahan Posisi

Endoxa Asia – Canva mengumumkan restrukturisasi besar yang berdampak pada 1.271 karyawan atau sekitar 22 persen dari total tenaga kerjanya. Perubahan ini mencakup pemutusan hubungan kerja (PHK), pemindahan lokasi kerja, hingga perubahan tanggung jawab dan posisi sejumlah pegawai.

Kasus Dugaan Penyadapan Listyo Sigit Meluas, Media dan Pengusaha Ikut Jadi Target

Keputusan tersebut diumumkan pada Rabu, 4 November 2026, melalui pesan internal yang ditulis CEO sekaligus salah satu pendiri Canva, Melanie Perkins. Ia menyebut keputusan ini sebagai momen tersulit sepanjang 13 tahun perjalanan perusahaan teknologi asal Australia tersebut.

Dalam pengumuman resminya, Canva menjelaskan bahwa restrukturisasi dilakukan untuk menyederhanakan organisasi dan mempersiapkan perusahaan menghadapi perubahan industri teknologi. Langkah ini muncul setelah pertumbuhan bisnis Canva melambat untuk pertama kalinya dalam satu dekade.

1. Sebanyak 1.271 Karyawan Terdampak Restrukturisasi

Jumlah 1.271 orang yang terdampak setara dengan sekitar 22 persen dari keseluruhan tenaga kerja Canva. Namun, angka tersebut tidak berarti seluruh karyawan akan kehilangan pekerjaan.

Perusahaan menyatakan bahwa sebagian pegawai akan mengalami perubahan peran, sementara sebagian lainnya diminta mempertimbangkan relokasi ke lokasi kerja yang lebih terpusat. Di sisi lain, sejumlah karyawan akan meninggalkan perusahaan melalui kebijakan PHK.

Canva belum merinci secara terbuka berapa banyak dari 1.271 orang tersebut yang benar-benar akan terkena PHK. Karena itu, angka 1.271 lebih tepat disebut sebagai jumlah karyawan terdampak restrukturisasi, bukan jumlah pasti pekerja yang diberhentikan.

Dalam surat kepada karyawan, Perkins mengakui beratnya keputusan tersebut. Ia menulis, “Ini tanpa diragukan lagi merupakan momen tersulit dalam sejarah 13 tahun kami.”

Vietnam Diproyeksi Salip Indonesia dalam PDB per Kapita, Thailand Jadi Target Berikutnya

Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada para pegawai yang terdampak dan mengakui bahwa keputusan tersebut akan membawa konsekuensi bagi mereka, keluarga, serta rekan kerja.

2. Pertumbuhan Melambat Setelah Satu Dekade

Salah satu alasan utama restrukturisasi adalah perlambatan pertumbuhan bisnis. Perkins mengatakan Canva mengalami tahun yang paling sulit sejauh ini, dengan pertumbuhan yang melambat untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun.

Perusahaan menilai perubahan kecil tidak lagi cukup untuk mempersiapkan bisnis menghadapi fase berikutnya. Canva pun memilih melakukan pembenahan organisasi secara lebih menyeluruh.

Tekanan terhadap bisnis Canva juga berlangsung ketika industri perangkat lunak menghadapi perubahan akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI). Teknologi generatif memungkinkan pengguna membuat desain, gambar, dan berbagai materi visual dengan semakin banyak pilihan alat.

Sebelumnya, Canva juga menghadapi tantangan biaya dalam mengembangkan fitur AI. Laporan The Information pada Agustus 2026 menyebut tingginya permintaan terhadap fitur AI membuat biaya operasional meningkat dan mendorong perusahaan menyesuaikan rencana pertumbuhan pendapatannya.

Canva dilaporkan menurunkan proyeksi pertumbuhan pendapatan 2026 menjadi sekitar 20 persen, dari target sebelumnya 30 persen. Meski demikian, perusahaan tidak secara eksplisit menyebut AI sebagai satu-satunya penyebab restrukturisasi terbaru.

The Federalist Soroti Pemilih AS yang Kian Menerima Gagasan Sosialisme

3. Tim Produk, Pertumbuhan, dan Platform Akan Digabung

Restrukturisasi Canva tidak hanya menyangkut jumlah karyawan. Perusahaan juga akan mengubah cara sejumlah tim bekerja dan mengambil keputusan.

Salah satu perubahan utamanya adalah menggabungkan tim Product, Growth, dan Platform ke dalam satu organisasi produk. Sebelumnya, ketiga fungsi tersebut bekerja dengan pembagian tanggung jawab yang lebih terpisah.

Menurut Canva, struktur lama menciptakan terlalu banyak proses koordinasi dan serah terima pekerjaan antartim. Kondisi tersebut dinilai membuat pengembangan produk menjadi kurang terpadu dan memperlambat pengambilan keputusan.

Perusahaan juga akan mengurangi lapisan manajemen, menyatukan tanggung jawab yang tumpang tindih, serta mengurangi spesialisasi yang terlalu sempit. Dengan struktur baru, Canva ingin memberi tim tanggung jawab lebih luas dari awal hingga akhir proses pengembangan produk.

Perkins menyebut perusahaan ingin kembali pada pendekatan tim kecil yang memiliki otonomi lebih besar dalam mengambil keputusan.

4. Sydney Jadi Pusat Utama Tim Produk

Perubahan lain menyangkut lokasi kerja. Canva akan menjadikan Sydney sebagai pusat utama bagi lebih banyak tim produk dan sejumlah fungsi lain yang membutuhkan kolaborasi intensif.

Canva saat ini memiliki tim yang tersebar di 37 negara. Perusahaan menyatakan tetap akan berinvestasi pada jaringan globalnya, tetapi ingin mempertemukan lebih banyak tim yang memiliki keterkaitan pekerjaan secara langsung.

Kebijakan kerja dari kantor juga akan diperkuat. Mulai Januari 2027, sebagian besar karyawan dengan skema kerja hybrid diperkirakan perlu bekerja dari kantor sekitar dua hingga tiga hari setiap pekan. Penerapannya akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.

Kebijakan tersebut berarti sebagian pegawai juga harus mempertimbangkan relokasi apabila posisi atau fungsi pekerjaannya dipusatkan di lokasi tertentu.

5. Paket Dukungan untuk Karyawan yang Keluar

Di tengah keputusan PHK, Canva mengumumkan sejumlah dukungan bagi karyawan yang meninggalkan perusahaan.

Berdasarkan pengumuman resmi perusahaan, setiap pegawai yang keluar akan menerima kompensasi setara sedikitnya enam bulan gaji, termasuk hak sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Mereka juga akan memperoleh dukungan kesehatan dan kesejahteraan.

Canva turut menyediakan perpanjangan perlindungan layanan kesehatan selama 12 bulan di negara-negara tempat fasilitas tersebut tersedia. Selain itu, karyawan dan anggota keluarga dapat mengakses program bantuan Canva Care selama periode yang sama.

Dukungan lain mencakup pendampingan karier, persiapan wawancara, akses LinkedIn Premium selama satu tahun, serta bantuan tim rekrutmen Canva untuk memperbaiki CV dan mencari peluang kerja berikutnya.

Perusahaan juga memperkenalkan Canva Collective Fund. Melalui program tersebut, karyawan yang keluar dapat mengajukan hibah sebesar US$10.000 untuk memulai usaha atau menjalankan proyek komunitas. Canva menyatakan tidak akan mengambil kepemilikan maupun ekuitas dari kegiatan yang didanai.

Restrukturisasi Canva Menjadi Gambaran Tekanan Industri Teknologi

Keputusan Canva memperlihatkan bagaimana perusahaan teknologi harus menyesuaikan struktur bisnis ketika pertumbuhan melambat dan kebutuhan industri berubah. Perusahaan yang sebelumnya berkembang dengan memperluas tim kini mulai meninjau kembali pembagian pekerjaan, biaya, serta cara pengembangan produk.

Namun, perkembangan AI perlu ditempatkan secara proporsional dalam membaca keputusan ini. Teknologi tersebut memang mengubah persaingan perangkat lunak dan menambah tekanan biaya pengembangan, tetapi Canva secara resmi menekankan perlambatan pertumbuhan serta kebutuhan menyederhanakan organisasi sebagai alasan restrukturisasi.

Bagi Canva, perubahan ini menjadi upaya membangun kembali struktur kerja yang dianggap lebih gesit untuk menghadapi persaingan berikutnya. Bagi ribuan karyawan yang terdampak, keputusan tersebut sekaligus menandai perubahan besar dalam perjalanan karier mereka.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *