
Key Insights
- Ekspor Korea Selatan mencapai rekor US$102,25 miliar pada Juni 2026, pertama kali melampaui US$100 miliar dalam satu bulan.
- Ledakan permintaan AI mendorong ekspor semikonduktor hampir tiga kali lipat menjadi US$44,82 miliar dan menjadi motor utama pertumbuhan perdagangan.
- Asia Tenggara muncul sebagai pasar strategis dengan kenaikan ekspor 86,6%, menegaskan peran kawasan dalam rantai pasok teknologi global.
Lonjakan permintaan global terhadap semikonduktor dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) mendorong ekspor negara itu naik tajam sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat manufaktur teknologi dunia.
Data Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan menunjukkan ekspor pada Juni melonjak 70,9% secara tahunan menjadi US$102,25 miliar. Pada saat yang sama, impor meningkat 30,1% menjadi US$66,1 miliar, menghasilkan surplus perdagangan sebesar US$36,15 miliar, rekor tertinggi baru yang juga menjadi kali pertama melampaui level US$30 miliar dalam satu bulan.
Pencapaian tersebut menjadikan Korea Selatan sebagai negara keempat di dunia yang mampu membukukan ekspor bulanan di atas US$100 miliar, menyusul Jerman, Amerika Serikat, dan China.
Penggerak utama pertumbuhan berasal dari industri semikonduktor. Nilai ekspor chip hampir tiga kali lipat menjadi US$44,82 miliar dan untuk pertama kalinya menembus US$40 miliar dalam satu bulan. Kenaikan ini sejalan dengan lonjakan investasi global pada pusat data dan server AI yang meningkatkan kebutuhan terhadap chip memori berkapasitas tinggi.
Baca juga: SK Hynix Akhiri Dominasi 26 Tahun Samsung Sebagai Perusahaan Paling Bernilai di Korea Selatan
Efek limpahan dari ekspansi AI juga terlihat pada produk teknologi lainnya. Ekspor produk komputer melonjak lebih dari 300% menjadi US$5,41 miliar, sementara pengiriman perangkat seluler naik 51,9% menjadi US$1,55 miliar seiring meningkatnya permintaan smartphone generasi baru.
Sektor industri tradisional juga menunjukkan pemulihan. Ekspor otomotif meningkat 5,8% menjadi US$6,71 miliar setelah pasokan komponen kembali stabil. Pengiriman produk minyak bumi dan petrokimia masing-masing naik 49,8% dan 18,8%, didukung kenaikan harga energi dan perbaikan permintaan industri.
Dari sisi pasar tujuan, ekspor ke China dan Amerika Serikat sama-sama mencapai US$20 miliar, masing-masing tumbuh 92,1% dan 78,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja ke Asia Tenggara juga menguat dengan pertumbuhan 86,6% menjadi US$18,3 miliar, menegaskan semakin besarnya peran kawasan ini dalam rantai pasok dan permintaan teknologi global.
Sepanjang Januari hingga Juni, total ekspor Korea Selatan mencapai US$496,7 miliar, meningkat 48,4% secara tahunan dan menjadi rekor tertinggi untuk periode semester pertama. Ekspor semikonduktor selama enam bulan pertama melonjak 163%.
“KorSel mampu membukukan kinerja ekspor tertinggi pada semester pertama berkat kuatnya ekspor semikonduktor yang didorong oleh permintaan server AI,” kata Menteri Industri Kim Jung-kwan.
Meski demikian, pemerintah tetap mengingatkan bahwa momentum pertumbuhan masih dibayangi sejumlah risiko eksternal. Tarif perdagangan Amerika Serikat, volatilitas harga minyak, dan potensi perlambatan ekonomi global diperkirakan dapat memengaruhi kinerja ekspor pada paruh kedua tahun ini.
Bagi investor dan pelaku industri, pencapaian Korea Selatan memperlihatkan bagaimana transformasi menuju ekonomi berbasis AI mulai menciptakan pemenang baru dalam perdagangan global. Ketergantungan dunia pada infrastruktur komputasi dan chip canggih semakin memperkuat posisi negara-negara dengan kapasitas manufaktur teknologi tinggi dan membuka peluang ekspansi perdagangan yang lebih besar di Asia, termasuk Asia Tenggara.



