Endoxa Asia – Televisi pemerintah Iran menayangkan secara langsung pertunjukan simulasi penggantungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Teheran. Adegan tersebut memperlihatkan seorang aktor yang mengenakan topeng wajah Trump dan pakaian tahanan, kemudian menjalani simulasi eksekusi oleh seseorang berseragam Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Pertunjukan itu berlangsung di Lapangan Tajrish, Teheran, dan menjadi bagian dari rangkaian kampanye anti-Amerika yang digelar di sejumlah lokasi di ibu kota Iran. Sejumlah warga terlihat menyaksikan dan bersorak ketika adegan tersebut berlangsung.
Menurut laporan Iran International pada 5 November 2026, siaran langsung tersebut muncul setelah Partai Republik mengalami kekalahan dalam pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November. Hasil pemilu itu menjadi bahan ejekan dan propaganda politik dari sejumlah pihak di Iran.
Aksi tersebut bukan kejadian eksekusi sungguhan, melainkan pertunjukan simbolis yang menampilkan figur Trump sebagai tahanan.
Simulasi Eksekusi Trump Disiarkan Televisi Pemerintah

Rekaman yang beredar memperlihatkan aktor bertopeng Trump mengenakan pakaian tahanan berwarna oranye. Ia kemudian diperagakan menjalani adegan penggantungan oleh seseorang yang mengenakan seragam menyerupai anggota IRGC.
Pertunjukan itu berlangsung di hadapan penonton di Lapangan Tajrish. Televisi pemerintah Iran menayangkannya secara langsung, sehingga aksi tersebut tidak hanya menjadi tontonan di ruang publik, tetapi juga menjangkau pemirsa melalui siaran nasional.
Pemerintah Kota Teheran sebelumnya menggelar pameran bertema penjara di lokasi yang sama. Instalasi tersebut mencakup sel penjara berukuran sebenarnya dan seorang aktor yang memerankan Trump di balik jeruji.
Menurut laporan Iran International, pertunjukan simulasi eksekusi menjadi bagian dari rangkaian aksi yang lebih luas. Namun, tidak ada bukti bahwa Trump benar-benar menjadi sasaran serangan fisik dalam peristiwa tersebut.
Kampanye Anti-Amerika Meluas ke Lapangan Enghelab

TV Pemerintah Iran Siarkan Simulasi Penggantungan Donald Trump di Teheran
Selain pertunjukan di Lapangan Tajrish, sejumlah aksi anti-Amerika juga berlangsung di Lapangan Enghelab, Teheran.
Video yang beredar memperlihatkan massa membakar spanduk besar bergambar Trump, Wakil Presiden AS JD Vance, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan utusan khusus AS Steve Witkoff pada Rabu malam, 4 November 2026.
Para pendukung pemerintah yang berkumpul di lokasi meneriakkan seruan “We Will Kill Trump” atau “Kami Akan Membunuh Trump” ketika gambar tersebut terbakar.
Sebuah papan reklame besar di kawasan yang sama juga menampilkan Trump di balik jeruji penjara dengan kepala tertunduk. Di bawah gambar itu terdapat tulisan berbahasa Inggris, “We Will Kill Trump”.
Rangkaian aksi tersebut memperlihatkan bagaimana simbol dan pertunjukan visual digunakan untuk menyampaikan pesan politik pemerintah Iran kepada publik.
Kedutaan Iran Ikut Mengejek Kekalahan Partai Republik
Kampanye anti-Trump juga muncul melalui akun diplomatik Iran di luar negeri.
Akun resmi Kedutaan Besar Republik Islam Iran di India membagikan video buatan kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan Trump dibawa keluar dari Gedung Putih oleh beberapa orang, lalu dimasukkan ke tempat sampah bertuliskan “Hazardous Waste” atau limbah berbahaya.
Video tersebut merupakan konten satir buatan AI, bukan rekaman kejadian nyata. Unggahan itu muncul setelah hasil pemilu sela AS dan digunakan untuk mengejek kemunduran politik Partai Republik.
Kampanye digital tersebut memperlihatkan bahwa respons Iran terhadap kekalahan Partai Republik tidak terbatas pada demonstrasi dan instalasi di ruang publik. Media sosial dan konten visual juga dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan politik.
Kekalahan Partai Republik Jadi Latar Belakang Kampanye Iran
Rangkaian pertunjukan dan pesan anti-Trump tersebut muncul setelah pemilu sela AS pada 3 November 2026. Partai Demokrat berhasil mengambil alih kendali Kongres, memberikan pukulan politik bagi Partai Republik yang dipimpin Trump.
Presiden AS itu mengaitkan sebagian kekalahan partainya dengan perang AS-Israel melawan Iran serta dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat, termasuk kenaikan harga bensin dan inflasi.
Meski demikian, Trump tetap mempertahankan pandangannya bahwa perang tersebut sepadan dengan pengorbanan yang telah dilakukan.
Reuters melaporkan bahwa sejumlah pejabat Iran menyambut hasil pemilu tersebut sebagai bentuk penolakan pemilih Amerika terhadap perang dan konsekuensi ekonominya. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf bahkan menyerukan agar Washington mendengarkan pesan dari para pemilih.
Situasi ini memperlihatkan bagaimana perkembangan politik domestik Amerika Serikat ikut dimanfaatkan dalam persaingan narasi antara Washington dan Teheran.
Ketegangan Iran dan Amerika Masih Membayangi
Pertunjukan simulasi penggantungan Trump juga berlangsung ketika hubungan Iran dan Amerika Serikat masih diwarnai ketegangan.
Sejumlah pejabat dan media Iran sebelumnya berulang kali melontarkan ancaman terhadap Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ancaman tersebut berkaitan dengan konflik militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang pecah pada 28 Februari 2026.
Dalam konteks tersebut, pertunjukan di Teheran menjadi bagian dari pesan politik yang lebih luas. Simulasi eksekusi, pembakaran spanduk, dan konten digital digunakan untuk menunjukkan sikap keras terhadap pemerintah Amerika Serikat.
Namun, pertunjukan simbolis tersebut perlu dibedakan dari ancaman operasional atau tindakan kekerasan yang benar-benar terjadi. Siaran televisi itu menunjukkan kampanye propaganda dan sentimen anti-Amerika, bukan bukti bahwa Trump telah mengalami serangan fisik.
Perkembangan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana konflik geopolitik dapat merembet ke ruang publik, media, dan budaya visual, bahkan ketika peristiwa yang ditampilkan hanya berupa pertunjukan simbolis.




Komentar