Endoxa Asia – Lonjakan kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (AI) mendorong perusahaan teknologi mencari sumber listrik di luar jaringan konvensional. Di Amerika Serikat, sejumlah pengembang pusat data mulai memanfaatkan mesin jet bekas dari pesawat yang sudah dipensiunkan, lalu mengubahnya menjadi generator berbahan bakar gas alam.
Langkah ini muncul karena pembangunan pusat data berkembang lebih cepat daripada kemampuan infrastruktur listrik untuk memasok energi. Perusahaan yang ingin segera mengoperasikan fasilitas AI menghadapi antrean panjang untuk mendapatkan sambungan jaringan maupun turbin pembangkit baru.
Mesin pesawat yang sebelumnya digunakan untuk menghasilkan daya dorong kini mendapat fungsi berbeda. Setelah direkondisi dan dimodifikasi, mesin tersebut dapat menghasilkan listrik untuk memasok kebutuhan pusat data. Namun, solusi ini juga membawa persoalan efisiensi dan emisi yang membuatnya lebih cocok dipandang sebagai jalan pintas daripada jawaban jangka panjang.
Antrean Sambungan Listrik Menghambat Ekspansi AI
Kebutuhan listrik menjadi salah satu hambatan utama dalam pembangunan pusat data berskala besar. Fasilitas AI membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar dan stabil untuk menjalankan server serta perangkat komputasi yang bekerja terus-menerus.
Menurut laporan TechCrunch pada 3 November 2026, menghubungkan kapasitas listrik sebesar 100 megawatt ke jaringan di Northern Virginia dapat memerlukan waktu sekitar tujuh tahun, berdasarkan data International Energy Agency (IEA). Sementara itu, generator berbasis mesin jet yang telah dikonversi diklaim dapat membantu sebuah pusat data mulai beroperasi dalam waktu sekitar 24 bulan.
Perbedaan waktu tersebut membuat kecepatan memperoleh listrik menjadi pertimbangan penting bagi pengembang. Audun Martinsen, analis Rystad Energy, mengatakan kepada The New York Times bahwa perusahaan kini berfokus mendapatkan pasokan energi secepat mungkin.
Tekanan ini bukan sekadar persoalan jadwal pembangunan. Keterlambatan pasokan listrik dapat memengaruhi rencana bisnis dan membuat calon pelanggan mengubah keputusan investasi. TechCrunch mencontohkan Microsoft yang pada bulan sebelumnya mundur sebagai pelanggan utama proyek pusat data Nscale di Loughton, Inggris. Keputusan itu terjadi setelah perusahaan utilitas setempat menyatakan belum dapat menyediakan listrik yang cukup hingga awal atau pertengahan 2030-an.
Bagaimana Mesin Jet Bekas Diubah Menjadi Generator?
Mesin jet bekerja dengan mengisap udara, memampatkannya, lalu mencampurkannya dengan bahan bakar di ruang pembakaran. Proses tersebut menghasilkan energi untuk memutar poros mesin dan menciptakan daya dorong yang menggerakkan pesawat.
Dalam pembangkit listrik, prinsip dasarnya tetap memanfaatkan energi dari proses pembakaran untuk memutar poros. Namun, fungsi mesin diubah agar putaran tersebut menggerakkan generator, bukan kipas yang menghasilkan daya dorong pesawat.
Dalam proses konversi yang dijelaskan The New York Times, bagian luar dan kipas mesin dilepas. Ruang pembakaran kemudian dimodifikasi agar dapat menggunakan gas alam. Poros mesin dihubungkan dengan kotak roda gigi dan generator untuk menghasilkan listrik.
Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang ini adalah ProEnergy. Perusahaan asal Missouri tersebut merekondisi mesin General Electric yang umum digunakan pada pesawat Boeing, kemudian mengubahnya menjadi unit pembangkit listrik.
Menurut laporan The New York Times yang dikutip TechCrunch, xAI telah memasang delapan turbin hasil konversi di Mississippi untuk membantu memasok listrik bagi pusat data Colossus 2 di Memphis. Informasi mengenai pemasangan tersebut merujuk pada dokumen perizinan negara bagian dan citra satelit yang ditinjau oleh media tersebut.
ProEnergy juga memasok unit untuk proyek lain. Crusoe, perusahaan pengembang pusat data AI yang membangun kampus Stargate di Abilene, Texas, memesan 13 unit hasil konversi dari ProEnergy pada April 2026. Sebelumnya, OpenAI telah menggunakan turbin gas di lokasi pertama proyek Stargate di Abilene pada 2025.
Mesin dari Pesawat Pensiun Menjadi Sumber Energi
Potensi penggunaan mesin pesawat bekas juga terlihat dari inventaris pesawat militer yang sudah tidak beroperasi. Dalam analisis pada Januari 2026, U.S. Energy Information Administration (EIA) memperkirakan mesin dari sekitar 4.000 pesawat militer yang disimpan di Davis-Monthan Air Force Base, Arizona, secara teoritis dapat menghasilkan kapasitas listrik hingga 40.000 megawatt.
Angka tersebut merupakan estimasi potensi teknis, bukan kapasitas yang siap digunakan. EIA menekankan adanya sejumlah kendala, mulai dari kondisi mesin yang telah lama disimpan, kebutuhan militer, hingga proses pelepasan dan pemasangan mesin ke sistem generator.
EIA juga menjelaskan bahwa mesin turbofan menjadi sumber potensi kapasitas terbesar dalam inventaris tersebut, dengan perkiraan sekitar 32.000 megawatt. Meski demikian, mesin yang memang dirancang untuk pembangkit listrik kemungkinan tetap memiliki optimasi lebih baik dibandingkan mesin pesawat yang dimodifikasi setelah masa pakainya berakhir.
Artinya, keberadaan ribuan mesin pesawat yang tidak lagi digunakan tidak otomatis menyelesaikan persoalan pasokan listrik. Setiap unit tetap membutuhkan pemeriksaan, rekondisi, konversi, serta infrastruktur pendukung sebelum dapat dioperasikan.
Kecepatan Pasokan Berhadapan dengan Efisiensi dan Polusi
Penggunaan mesin jet bekas menawarkan keuntungan dari sisi waktu, tetapi terdapat konsekuensi lingkungan. Menurut laporan The New York Times yang dirangkum TechCrunch, mesin hasil konversi cenderung kurang efisien dan menghasilkan lebih banyak polusi dibandingkan turbin yang sejak awal dirancang untuk pembangkit listrik konvensional.
Dampaknya, pengembang membutuhkan lebih banyak unit mesin untuk menghasilkan daya yang setara. Operasional juga harus mempertimbangkan kebutuhan bahan bakar, perawatan, panas yang dihasilkan, serta biaya untuk menjaga pasokan listrik tetap tersedia.
Persoalan emisi terlihat dalam dokumen perizinan untuk unit pembangkit yang dipasang xAI di Mississippi. Menurut laporan The New York Times, generator tersebut memperoleh izin dengan batas emisi karbon monoksida dua kali lebih tinggi dibandingkan turbin lain di lokasi yang sama. Batas untuk senyawa organik volatil atau volatile organic compounds (VOC) juga tercatat 25 persen lebih tinggi.
Karbon monoksida dan VOC dapat menimbulkan risiko kesehatan. Karena itu, penggunaan generator berbasis mesin pesawat tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan energi perusahaan teknologi, tetapi juga dampak operasionalnya terhadap lingkungan sekitar.
Kritik datang dari kelompok lingkungan. Patrick Anderson, pengacara Southern Environmental Law Center, menilai pembangkitan listrik untuk industri masa depan semestinya bergerak menuju teknologi yang lebih bersih, bukan lebih kotor.
Solusi Cepat, tetapi Bukan Pengganti Infrastruktur Listrik
Pemanfaatan mesin jet bekas memperlihatkan bagaimana kebutuhan AI mulai mengubah cara perusahaan membangun infrastruktur energi. Ketika sambungan jaringan dan turbin baru sulit diperoleh dalam waktu singkat, pengembang mencari alternatif yang dapat dipasang lebih cepat, meski harus menerima kompromi dalam efisiensi dan dampak lingkungan.
Namun, mesin hasil konversi tidak menghilangkan kebutuhan untuk memperluas jaringan listrik dan membangun pembangkit yang lebih efisien. Solusi tersebut juga memiliki batas dari sisi ketersediaan mesin, kondisi teknis, biaya perawatan, serta pasokan bahan bakar.
Bagi industri AI, persoalan listrik kini sama pentingnya dengan ketersediaan chip dan kapasitas komputasi. Pusat data dapat dibangun dan perangkat keras dapat dipesan, tetapi seluruh investasi itu tidak akan berfungsi optimal tanpa pasokan energi yang memadai.
Pemakaian mesin jet bekas menjadi gambaran nyata dari tekanan tersebut. Di tengah perlombaan membangun infrastruktur AI, perusahaan tidak hanya mencari cara untuk memperoleh komputasi lebih besar, tetapi juga cara agar listrik tersedia sebelum peluang bisnisnya terlewat.




Komentar