Tekno Inovasi

Mantan Wakil Direktur CIA Usul AS Memata-matai Perusahaan China demi Persaingan Teknologi

Mantan Wakil Direktur CIA Usul AS Memata-matai Perusahaan China demi Persaingan Teknologi
Mantan Wakil Direktur CIA Usul AS Memata-matai Perusahaan China demi Persaingan Teknologi

Endoxa Asia – Persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China memunculkan perdebatan baru mengenai batas aktivitas intelijen ekonomi. David S. Cohen, mantan wakil direktur Central Intelligence Agency (CIA), mendorong Washington mempertimbangkan penggunaan intelijen untuk membantu perusahaan Amerika bersaing dengan rival asing, termasuk perusahaan China.

Dalam artikel berjudul The Case for Economic Espionage yang diterbitkan Foreign Affairs pada 8 Oktober 2026, Cohen berpendapat bahwa keunggulan Amerika dalam sejumlah teknologi strategis semakin ditantang oleh kemajuan China. Menurutnya, mempertahankan norma yang membatasi penggunaan intelijen untuk keuntungan komersial perusahaan Amerika dapat membuat persaingan berlangsung tidak seimbang.

ByteDance Gabungkan Xiaoyunque ke Dreamina, Fokus Bisnis AI Bergeser ke Kreator Profesional

Gagasan ini menandai perdebatan mengenai perubahan pendekatan Washington terhadap intelijen ekonomi. Isunya bukan hanya persaingan dalam kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan teknologi mutakhir lainnya, tetapi juga pertanyaan tentang apakah informasi yang diperoleh badan intelijen boleh digunakan untuk membantu perusahaan swasta memenangkan persaingan pasar.

Mengapa Mantan Pejabat CIA Mendorong Perubahan?

Cohen, yang pernah menjabat sebagai wakil direktur CIA di bawah pemerintahan Barack Obama dan Joe Biden, menilai batas tradisional antara kepentingan keamanan nasional dan kepentingan komersial semakin sulit dipertahankan.

Dalam wawancaranya dengan NPR, Cohen menyebut setidaknya tiga perkembangan yang menurutnya mengubah situasi. Pertama, perusahaan teknologi swasta semakin penting bagi pertahanan nasional, terutama dalam bidang AI, semikonduktor, dan komputasi kuantum.

Kedua, perusahaan China semakin mampu menyaingi atau bahkan melampaui perusahaan Amerika dalam sejumlah teknologi mutakhir. Ketiga, kebijakan industri Amerika sendiri semakin menempatkan keamanan nasional sebagai pertimbangan utama dalam pengembangan sektor strategis.

Atas dasar itu, Cohen berpendapat bahwa intelijen ekonomi perlu dipertimbangkan sebagai instrumen untuk menjaga kepentingan nasional. Ia menilai informasi yang dikumpulkan badan intelijen dapat membantu perusahaan Amerika memahami perkembangan pesaing asing dan mempertahankan daya saing teknologi.

Namun, usulan tersebut merupakan pandangan Cohen sebagai mantan pejabat, bukan bukti bahwa seluruh pemerintah Amerika telah menyepakati perubahan kebijakan tersebut.

Akai Sample Key Buka Peluang Modifikasi Berbasis AI, Sampler Keyboard Ini Bisa Jadi Synthesizer

Apa yang Dimaksud dengan Intelijen Ekonomi?

Intelijen ekonomi dalam konteks perdebatan ini merujuk pada pengumpulan informasi mengenai aktivitas dan kemampuan ekonomi negara lain, termasuk perkembangan teknologi serta perusahaan strategisnya.

Selama ini, Amerika Serikat telah menggunakan intelijen asing untuk berbagai kepentingan pemerintah, seperti mendukung kebijakan luar negeri, negosiasi perdagangan, penerapan sanksi, dan memperingatkan perusahaan mengenai ancaman serangan siber.

Batas yang dipersoalkan Cohen adalah penggunaan informasi intelijen secara langsung untuk membantu perusahaan Amerika bersaing secara komersial. Dalam pendekatan tradisional yang ia gambarkan, pemerintah dapat memberi peringatan kepada perusahaan tentang ancaman dari luar negeri, tetapi tidak memberikan informasi rahasia hasil intelijen semata-mata agar perusahaan tersebut lebih unggul dalam persaingan bisnis.

Cohen mengusulkan agar norma tersebut ditinjau kembali. Artinya, informasi yang diperoleh melalui aktivitas intelijen berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung perusahaan di sektor tertentu, bukan hanya untuk kebutuhan diplomatik atau pertahanan.

Perubahan semacam itu akan membawa konsekuensi besar terhadap hubungan antara badan intelijen, pemerintah, dan sektor swasta.

AI dan Semikonduktor Menjadi Bagian dari Persaingan Strategis

AI dan semikonduktor menjadi dua bidang yang paling menonjol dalam persaingan teknologi Amerika Serikat dan China. Keduanya berperan dalam pengembangan komputasi canggih, layanan digital, otomatisasi, dan sejumlah aplikasi pertahanan.

Kemajuan perusahaan China dalam bidang-bidang tersebut membuat persaingan tidak lagi terbatas pada perdagangan produk akhir. Kemampuan mengembangkan teknologi, menguasai pengetahuan teknis, dan mempertahankan keunggulan inovasi juga menjadi faktor strategis.

Google Perluas Iklan di AI Search ke 10 Negara, Indonesia Belum Masuk Daftar

Pada September 2026, wakil direktur CIA yang sedang menjabat, Michael Ellis, juga menyatakan bahwa badan intelijen Amerika memperluas perhatian terhadap perusahaan China dalam sektor seperti AI, semikonduktor, dan bioteknologi. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa peran sektor swasta dalam persaingan strategis telah menjadi bagian dari pembahasan terbuka di kalangan pejabat intelijen Amerika.

Meski demikian, pernyataan Ellis mengenai pengumpulan intelijen untuk kepentingan keamanan nasional perlu dibedakan dari usulan Cohen untuk menggunakan intelijen demi membantu daya saing komersial perusahaan Amerika. Keduanya berkaitan, tetapi tidak identik.

Risiko Favoritisme dan Penyalahgunaan Informasi

Cohen mengakui bahwa penggunaan intelijen untuk mendukung perusahaan swasta membawa risiko. Salah satu persoalan utamanya adalah bagaimana pemerintah memilih perusahaan yang akan menerima informasi.

Jika akses diberikan secara selektif tanpa kriteria yang jelas, kebijakan tersebut dapat menciptakan keuntungan yang tidak adil bagi perusahaan tertentu. Risiko lain adalah munculnya favoritisme berdasarkan kedekatan politik, bukan kepentingan strategis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk mengurangi risiko tersebut, Cohen mengusulkan agar presiden bekerja sama dengan Kongres untuk menetapkan kriteria yang netral dan diketahui sejak awal. Ia juga menginginkan pengawasan oleh komite Kongres dan inspektur jenderal di komunitas intelijen.

Mekanisme itu dimaksudkan untuk membatasi penyalahgunaan informasi dan memastikan keputusan tidak digunakan untuk menguntungkan perusahaan tertentu karena hubungan pribadi atau politik.

Namun, keberadaan pengawasan tidak otomatis menghilangkan seluruh persoalan. Pemerintah tetap perlu menentukan sektor yang layak menerima dukungan, perusahaan yang memenuhi syarat, dan batas penggunaan informasi rahasia. Penerapan kebijakan tersebut juga akan menimbulkan pertanyaan mengenai persaingan yang adil dan perlindungan rahasia dagang.

Beijing Menentang Aktivitas Spionase terhadap Perusahaan China

Perdebatan ini berlangsung di tengah keberatan pemerintah China terhadap aktivitas intelijen Amerika yang menyasar perusahaan-perusahaan China.

Pada September 2026, Kementerian Perdagangan China meminta Amerika Serikat menghentikan aktivitas spionase terhadap perusahaan China dan memperingatkan kemungkinan tindakan balasan. Pernyataan tersebut muncul setelah Michael Ellis secara terbuka membela perluasan pengumpulan intelijen terhadap sektor teknologi China.

Pemerintah China menilai aktivitas semacam itu melanggar prinsip persaingan yang adil dan mengancam kepentingan perusahaan domestiknya. Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan bahwa intelijen ekonomi telah menjadi salah satu titik sensitif dalam hubungan bilateral kedua negara.

Di sisi lain, pendukung pendekatan yang lebih agresif di Amerika berargumen bahwa persaingan teknologi telah menjadi bagian dari keamanan nasional. Perbedaan inilah yang membuat perdebatan tidak sekadar menyangkut teknik pengumpulan informasi, tetapi juga batas yang seharusnya memisahkan kepentingan negara dan kepentingan bisnis.

Arah Kebijakan AS Masih Menjadi Perdebatan

Usulan Cohen belum dengan sendirinya menjadi kebijakan resmi. Gagasannya membuka pertanyaan mengenai bagaimana pemerintah Amerika akan menyeimbangkan kepentingan keamanan nasional, daya saing perusahaan, pengawasan intelijen, dan prinsip persaingan yang adil.

Jika pendekatan itu diterapkan, pemerintah perlu menetapkan batas yang jelas tentang jenis informasi yang boleh disalurkan kepada perusahaan, penerima yang memenuhi syarat, dan mekanisme pertanggungjawabannya. Tanpa aturan yang kuat, penggunaan intelijen untuk tujuan komersial berpotensi menimbulkan konflik kepentingan baru.

Pada saat yang sama, persaingan AI, semikonduktor, dan teknologi strategis lainnya diperkirakan tetap menjadi bagian penting dari hubungan Amerika Serikat dan China. Perdebatan mengenai intelijen ekonomi menunjukkan bahwa persaingan tersebut tidak hanya berlangsung melalui investasi, riset, perdagangan, dan pembatasan ekspor, tetapi juga melalui pembahasan tentang peran badan intelijen dalam menjaga keunggulan teknologi.

Keputusan yang diambil Washington akan menentukan sejauh mana intelijen negara dapat digunakan untuk mendukung kepentingan bisnis, serta bagaimana batas antara keamanan nasional dan persaingan komersial dipertahankan.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *