Endoxa Asia – Musisi legendaris Bob Dylan bertemu Paus Leo XIV dalam sebuah audiensi pribadi di Istana Apostolik, Vatikan, pada Rabu, 4 November 2026. Pertemuan singkat tersebut mempertemukan dua tokoh dari latar berbeda yang memiliki perhatian pada isu perdamaian, terutama melalui karya Dylan yang pernah dikutip oleh sang Paus.
Dalam pertemuan itu, Paus Leo XIV memberikan sebuah rosario kepada Dylan. Sebagai balasan, musisi berusia 85 tahun tersebut menghadiahkan satu eksemplar autobiografinya, Chronicles: Volume One, yang diterbitkan pada 2004.
Pertemuan ini berlangsung ketika Dylan berada di Roma untuk melanjutkan rangkaian tur Rough and Rowdy Ways. Momen tersebut juga menjadi pertemuan keduanya dengan seorang pemimpin Gereja Katolik setelah sebelumnya bertemu Paus Yohanes Paulus II pada 1997.
Paus Leo XIV Pernah Mengutip Karya Bob Dylan tentang Senjata Nuklir
Salah satu hal yang membuat pertemuan ini menarik adalah ketertarikan Paus Leo XIV terhadap karya Dylan. Dalam buku Disarmed and Disarming: Peace Is a Gift, yang diterbitkan pada Juli 2026, Leo mengutip bagian dari karya Dylan berjudul “Go Away You Bomb”.
Karya tersebut ditulis pada 1963, ketika ketegangan Perang Dingin dan ancaman senjata nuklir menjadi perhatian dunia. Berbeda dari lagu-lagu Dylan yang dikenal luas, “Go Away You Bomb” tidak pernah direkam atau dirilis secara resmi dalam sebuah album.
Naskah asli karya tersebut baru ditemukan dan menjadi perhatian publik setelah muncul dalam proses lelang pada 2013. Dylan menulisnya sebagai bentuk protes terhadap senjata nuklir.
Paus Leo menggunakan kutipan dari karya itu untuk memperkuat pesan mengenai bahaya perlombaan senjata dan ancaman penggunaan senjata nuklir. Dengan demikian, hubungan antara keduanya bukan semata pertemuan selebritas dengan pemimpin agama, melainkan juga bersinggungan dengan gagasan perdamaian yang pernah disuarakan Dylan melalui tulisannya.
Buku Disarmed and Disarming: Peace Is a Gift sendiri memuat pemikiran dan pidato Paus Leo mengenai perdamaian serta perlucutan senjata. Dylan menjadi salah satu seniman yang karyanya dirujuk dalam pembahasan tersebut.
Pertemuan Berlangsung di Tengah Tur Eropa Bob Dylan
Dylan datang ke Vatikan ketika sedang berada di Italia untuk rangkaian tur Rough and Rowdy Ways. Setelah tampil di Milan, ia dijadwalkan menggelar konser di Palazzo dello Sport, Roma, pada Kamis, 5 November 2026.
Pertemuan dengan Paus Leo berlangsung singkat, berupa salam dan percakapan ringan. Vatikan tidak mengungkapkan secara terperinci topik pembicaraan keduanya.
Pertemuan tersebut turut difasilitasi oleh Pastor Antonio Spadaro, pejabat Vatikan dari kalangan Yesuit yang dikenal membantu membangun hubungan antara Gereja Katolik dan sejumlah figur budaya populer.
Spadaro juga terlibat dalam pertemuan Paus Leo dengan musisi Patti Smith pada tahun yang sama. Ia menggambarkan pertemuan Dylan dan Paus sebagai pengalaman yang memiliki makna sejarah.
Bagi Dylan, yang dikenal menjaga kehidupan pribadinya dari sorotan publik, pertemuan tersebut menjadi salah satu momen langka di luar aktivitas panggungnya.
Bukan Kali Pertama Bob Dylan Bertemu Pemimpin Gereja Katolik
Pertemuan dengan Paus Leo XIV bukan pengalaman pertama Dylan berhadapan langsung dengan seorang pemimpin Gereja Katolik. Pada 1997, ia tampil dalam Kongres Ekaristi Nasional ke-23 di Bologna, Italia, di hadapan Paus Yohanes Paulus II dan sekitar 300.000 orang.
Dalam acara tersebut, Dylan membawakan sejumlah lagu, termasuk “Knockin’ on Heaven’s Door”. Setelah tampil, ia menghampiri panggung Paus dan berjabat tangan dengannya.
Paus Yohanes Paulus II kemudian merujuk lagu Dylan berjudul “Blowin’ in the Wind” dalam pidatonya kepada para peserta. Ia menggunakan pertanyaan dalam lagu tersebut sebagai titik awal untuk menyampaikan refleksi mengenai perjalanan manusia dan iman Kristen.
Hampir tiga dekade kemudian, Dylan kembali bertemu seorang Paus. Kali ini, pertemuan berlangsung lebih personal di lingkungan Vatikan, bukan di hadapan ratusan ribu penonton.
Bob Dylan dan Pengaruhnya Melampaui Dunia Musik
Bob Dylan merupakan salah satu figur penting dalam sejarah musik modern. Ia dikenal melalui lagu-lagu yang memadukan musik folk, rock, kritik sosial, dan refleksi mengenai kehidupan manusia.
Pengaruhnya juga diakui di luar industri musik. Pada 2016, Dylan menerima Hadiah Nobel Sastra atas kontribusinya dalam menciptakan ekspresi puitis baru dalam tradisi lagu Amerika.
Pertemuan dengan Paus Leo XIV memperlihatkan bagaimana karya seorang musisi dapat menjangkau ruang yang lebih luas daripada panggung pertunjukan. Dalam kasus Dylan, tulisan tentang ancaman senjata nuklir dari lebih enam dekade lalu kembali mendapat perhatian melalui pesan perdamaian yang disampaikan pemimpin Gereja Katolik.
Meski percakapan pribadi mereka tidak dipublikasikan, pertukaran hadiah dan rujukan terhadap karya Dylan memberikan konteks tersendiri bagi pertemuan tersebut. Di tengah tur musiknya di Italia, Dylan kembali menjadi sorotan bukan karena album atau konser, melainkan karena perjumpaannya dengan Paus Leo XIV di Vatikan.




Komentar