Endoxa Asia – Ada sesuatu yang istimewa ketika musik opera dibawakan dalam sebuah pertunjukan yang mempertemukan musisi kelas dunia, orkestra, paduan suara, dan seni pertunjukan lintas budaya. Pengalaman itulah yang dihadirkan Andrea Bocelli dalam konser Romanza 30th Anniversary World Tour di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Selasa (3/11/2026).
Selama kurang lebih dua jam, tenor asal Italia tersebut membawa penonton menikmati perjalanan musikal yang bergerak dari opera klasik, komposisi romantis, hingga lagu-lagu populer yang telah menjadi bagian dari perjalanan kariernya selama puluhan tahun.
Bukan sekadar konser yang mengandalkan nama besar sang maestro, pertunjukan ini juga diperkuat oleh sejumlah penyanyi internasional, musisi instrumental, Jakarta Concert Orchestra, Batavia Madrigal Singers, serta penampilan seni budaya Indonesia.
Salah satu daya tariknya adalah bagaimana Bocelli membangun pertunjukan tanpa banyak interaksi verbal. Ia lebih banyak membiarkan vokal, musik, dan interpretasi setiap lagu menjadi bahasa utama untuk terhubung dengan penonton.

Dibuka dengan Musik Klasik dan Sentuhan Nusantara
Sebelum Andrea Bocelli mengambil alih panggung, penonton terlebih dahulu disuguhi penampilan instrumental dari Iskandar Widjaja.
Pemain biola berdarah Indonesia-Jerman tersebut membawakan Sluku-Sluku Bathok dengan iringan tarian tradisional dari Pagelaran Sabang Merauke. Perpaduan musik instrumental dan pertunjukan tari menjadi pembuka yang memperkenalkan identitas budaya Indonesia ke dalam konser berskala internasional ini.
Rangkaian pembukaan juga menghadirkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Bagimu Negeri dengan iringan Jakarta Concert Orchestra serta Batavia Madrigal Singers. Setelah itu, suasana pertunjukan beralih menuju dunia opera ketika Bocelli muncul di atas panggung.
Penampilan awalnya diisi komposisi klasik, termasuk La Donna è Mobile dari opera Rigoletto karya Giuseppe Verdi. Repertoar tersebut memperlihatkan karakter vokal tenor Bocelli yang menjadi identitas utamanya selama berkarier di dunia musik.

Opera Klasik Menjadi Panggung Utama
Bagian pertama konser menjadi ruang bagi Bocelli dan para kolaborator untuk menampilkan kekayaan repertoar opera. Penyanyi sopran asal Italia, Mariam Battistelli, menjadi salah satu penampil penting dalam segmen ini. Ia membawakan Meine Lippen, sie küssen so heiß karya Franz Lehár, kemudian tampil bersama Bocelli dalam sejumlah komposisi, termasuk Libiamo ne’ lieti calici dari opera La Traviata.
Kehadiran Juan Carlos Heredia, penyanyi bariton asal Meksiko, memberikan warna vokal yang berbeda. Ia membawakan Toreador Song dari opera Carmen karya Georges Bizet. Heredia juga berkolaborasi dengan Bocelli dalam Au fond du temple saint dari opera The Pearl Fishers. Sementara itu, komposisi O Fortuna dari Carmina Burana karya Carl Orff menghadirkan nuansa dramatis melalui perpaduan orkestra, paduan suara, dan elemen pertunjukan visual.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa konser ini tidak hanya menampilkan lagu-lagu populer Andrea Bocelli. Penonton juga diajak menikmati repertoar yang berasal dari tradisi opera Eropa, lengkap dengan karakter musikal yang berbeda pada setiap komposisi.
Rusanda Panfili Membawa Nuansa Sinematik
Salah satu penampilan instrumental yang mencuri perhatian datang dari Rusanda Panfili, pemain biola asal Moldova yang dikenal melalui keterlibatannya dalam proyek musik bersama komposer Hans Zimmer.
Panfili membawakan Csárdás karya Vittorio Monti serta komposisi dari Pirates of the Caribbean, yang menghadirkan nuansa musikal lebih sinematik di tengah rangkaian opera klasik. Ia juga kembali berkolaborasi dengan Bocelli dalam lagu Caruso.
Kehadiran Panfili memberikan variasi dalam struktur konser. Setelah penonton menikmati kekuatan vokal para penyanyi opera, permainan biola menjadi kesempatan untuk mengapresiasi sisi instrumental pertunjukan.

Amy Manford dan Lea Simanjuntak Hadirkan Duet Istimewa
Memasuki bagian yang lebih dekat dengan musik populer, konser menghadirkan Amy Manford, penyanyi soprano asal Australia yang dikenal melalui dunia musikal dan opera. Salah satu penampilan yang paling mudah dikenali adalah ketika Manford membawakan My Heart Will Go On, lagu yang dipopulerkan Celine Dion melalui film Titanic. Aransemen orkestra memberikan dimensi berbeda pada lagu tersebut, membawa nuansa romantis yang kontras dengan komposisi opera pada bagian sebelumnya.
Manford kemudian kembali ke panggung untuk berkolaborasi dengan Bocelli dalam Vivo per Lei dan Canto della Terra. Namun, salah satu momen yang paling dinantikan penonton Indonesia adalah ketika Bocelli berduet dengan Lea Simanjuntak membawakan The Prayer. Lagu yang dikenal melalui kolaborasi Bocelli dan Celine Dion tersebut menjadi salah satu komposisi paling ikonis dalam repertoar sang tenor.
Pertemuan suara tenor Bocelli dengan karakter vokal soprano Lea menghadirkan salah satu kolaborasi istimewa malam itu. Kehadiran penyanyi Indonesia di panggung bersama maestro internasional juga memberikan sentuhan lokal yang terasa relevan bagi penonton Jakarta.

Balet dan Tarian Nusantara Memperkaya Pertunjukan
Kemegahan konser tidak hanya dibangun melalui musik. Unsur visual turut menjadi bagian penting dari keseluruhan pengalaman. Pagelaran Sabang Merauke menghadirkan berbagai tarian tradisional Indonesia, termasuk Tari Topeng, Tari Pendet, Tari Saman, hingga tarian dari Papua.
Kehadiran tarian tersebut mempertemukan kekayaan budaya Nusantara dengan musik klasik Eropa. Hasilnya, pertunjukan memiliki karakter yang lebih luas daripada konser vokal dan orkestra pada umumnya. Elemen balet internasional juga hadir melalui penampilan Britanny O’Connor dan Paul Barris, serta Angelica Gismondo dan Francesco Costa.
Koreografi balet memberikan dimensi teatrikal pada sejumlah komposisi, termasuk O Fortuna dan Lippen schweigen. Sementara itu, layar panggung turut menampilkan visual dokumenter yang mengangkat isu kemanusiaan dan kehidupan anak-anak di tengah konflik.
Keseluruhan elemen ini memperlihatkan bagaimana musik, tari, dan visual dapat disatukan dalam satu produksi pertunjukan yang memiliki identitas artistik tersendiri.
Romanza, Album yang Menjadi Bagian Penting Karier Andrea Bocelli
Perayaan 30 tahun Romanza menjadi alasan utama di balik konser Jakarta ini. Album yang dirilis pada 1997 tersebut merupakan salah satu karya paling berpengaruh dalam perjalanan internasional Andrea Bocelli. Melalui album ini, musik sang tenor menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk pendengar yang sebelumnya tidak terlalu akrab dengan opera.
Sejumlah lagu dari album tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam repertoarnya, seperti Romanza, Vivo per Lei, dan Con Te Partirò. Menurut Universal Music, Romanza telah terjual hampir 20 juta kopi di seluruh dunia, menjadikannya salah satu album classical crossover paling sukses secara komersial.
Dalam konser Jakarta, Bocelli membawakan Caruso, Melodramma, dan Romanza, sekaligus mengajak penonton kembali mengenang karya-karya yang telah menemani perjalanan kariernya selama tiga dekade. Genre classical crossover sendiri menjadi salah satu kekuatan musikal Bocelli. Ia mempertemukan teknik vokal dan tradisi opera dengan komposisi yang dapat dinikmati oleh pendengar musik populer.
Time to Say Goodbye dan Nessun Dorma Menjadi Penutup
Menjelang akhir pertunjukan, Bocelli kembali menghadirkan sejumlah lagu yang paling dikenal oleh publik. Time to Say Goodbye, yang sebelumnya dipopulerkan melalui kolaborasinya dengan Sarah Brightman, menjadi salah satu momen penting dalam rangkaian encore. Lagu tersebut memiliki hubungan erat dengan perjalanan album Romanza dan menjadi salah satu karya yang paling identik dengan nama Andrea Bocelli.
Sebelumnya, ia juga membawakan Con Te Partirò, termasuk dalam kolaborasi bersama Mariam Battistelli. Namun, penutup konser yang paling kuat datang melalui Nessun Dorma dari opera Turandot karya Giacomo Puccini.
Komposisi yang dikenal dengan klimaks vokalnya tersebut menjadi pilihan tepat untuk mengakhiri pertunjukan. Karakter dramatis dan kekuatan melodinya mengembalikan penonton pada akar musikal Bocelli sebagai penyanyi tenor yang tumbuh dari tradisi opera klasik.
Konser kemudian ditutup dengan standing ovation dan tepuk tangan meriah dari penonton.
Tiga Dekade Romanza, Sebuah Perayaan Musik Lintas Generasi
Konser Andrea Bocelli di JIExpo Jakarta menjadi perayaan yang mempertemukan berbagai generasi pendengar musik. Bagi penggemar opera, pertunjukan ini menawarkan kesempatan menikmati repertoar klasik bersama salah satu tenor paling dikenal di dunia. Sementara bagi pendengar musik populer, lagu-lagu seperti The Prayer, Time to Say Goodbye, dan Vivo per Lei menghadirkan nostalgia yang telah melekat selama bertahun-tahun.
Kehadiran para kolaborator internasional, musisi Indonesia, orkestra, paduan suara, balet, serta tarian Nusantara membuat konser ini memiliki cakupan artistik yang lebih luas. Pada akhirnya, daya tarik Andrea Bocelli bukan hanya terletak pada lagu-lagu populernya, tetapi juga kemampuannya membawa tradisi musik klasik ke hadapan audiens yang lebih luas.
Tiga puluh tahun setelah Romanza memperkenalkan namanya kepada dunia, Jakarta menjadi salah satu panggung untuk merayakan perjalanan tersebut. Sebuah malam ketika opera, musik populer, dan seni pertunjukan bertemu dalam satu pengalaman musikal.




Komentar