Endoxa Asia – Zheng Qinwen mengubah US Open 2026 menjadi panggung kebangkitan setelah menyingkirkan Iga Swiatek di babak 16 besar. Petenis China itu membalikkan keadaan dari tertinggal 0-5 pada set pertama sebelum menang 7-5, 6-3 di Arthur Ashe Stadium, New York.
Kemenangan tersebut menjadi semakin istimewa karena Zheng melakukan comeback dari posisi 0-5 untuk kedua kalinya dalam dua pertandingan beruntun. Hanya beberapa hari sebelumnya, ia melakukan hal serupa saat menghadapi Madison Keys.
Dari posisi yang terlihat hampir mustahil diselamatkan, Zheng justru merebut tujuh gim berturut-turut untuk mengambil set pembuka dari Swiatek. Ia kemudian mempertahankan momentum pada set kedua dan mengakhiri pertandingan dalam waktu 1 jam 56 menit.
Swiatek Unggul 5-0, Zheng Membalikkan Semuanya
Swiatek memasuki pertandingan sebagai unggulan kedelapan dan sempat terlihat berada di jalur yang tepat untuk melanjutkan dominasinya atas Zheng.
Petenis Polandia itu unggul 5-0 pada set pertama hanya dalam waktu sekitar 23 menit. Dengan rekor pertemuan yang sebelumnya berpihak kuat kepadanya, Swiatek berada dalam posisi ideal untuk kembali mengalahkan Zheng.
Namun, Zheng menolak membiarkan pertandingan berakhir sesuai skenario tersebut.
Ia mulai memperpanjang reli, meningkatkan agresivitas, dan memaksa Swiatek bekerja lebih keras dalam setiap poin. Perlahan, keunggulan lima gim itu menghilang.
Zheng memenangkan tujuh gim secara beruntun dan mengubah kedudukan 0-5 menjadi 7-5.
“I guess coming back from 0-5 [on Saturday] is not lucky. That’s all I can say,” kata Zheng setelah pertandingan, merujuk pada comeback sebelumnya melawan Madison Keys.
Dua Kali Bangkit dari 0-5 dalam Dua Pertandingan
Comeback melawan Swiatek bukan kejadian tunggal.
Pada babak ketiga, Zheng menghadapi Madison Keys dan mengalami situasi yang bahkan lebih kritis. Setelah kehilangan set pertama 1-6, ia kembali tertinggal 0-5 pada set penentuan.
Keys bahkan memiliki match point ketika memimpin 5-1.
Namun, Zheng menyelamatkan peluang tersebut dan memenangkan tujuh gim terakhir untuk merebut pertandingan 1-6, 7-6(3), 7-5.
Dengan demikian, Zheng menjadi pemain yang dua kali dalam rentang sangat singkat mampu menghapus defisit 0-5 melawan dua mantan juara Grand Slam.
US Open sendiri mencatat bahwa Zheng telah memenangkan dua set berturut-turut dari posisi 0-5, sesuatu yang membuat perjalanan comeback-nya menjadi salah satu cerita paling mencolok di turnamen 2026.
Dari Peringkat 121 ke Babak Delapan Besar
Perjalanan Zheng semakin menarik jika melihat bagaimana ia tiba di New York.
Petenis berusia 23 tahun itu harus mengikuti babak kualifikasi setelah peringkatnya merosot ke posisi 121 dunia. Penurunan tersebut terjadi setelah ia menjalani operasi siku kanan pada 2025 dan mengalami periode panjang tanpa pertandingan kompetitif.
Zheng kemudian memenangkan tiga pertandingan kualifikasi untuk mendapatkan tempat di undian utama US Open.
Sejak saat itu, ia tidak berhenti membuat comeback.
Sebelum mengalahkan Keys dan Swiatek, Zheng sudah melewati pertandingan-pertandingan panjang. Menurut US Open, total waktu yang ia habiskan di lapangan hingga mencapai perempat final mencapai 14 jam 47 menit, termasuk tiga pertandingan kualifikasi. Ia juga telah memainkan empat pertandingan tiga set di turnamen tersebut.
Situasi itu membuat pencapaiannya terasa lebih besar daripada sekadar kemenangan atas Swiatek.
Zheng bukan hanya kembali dari cedera. Ia juga sedang berusaha kembali ke posisi yang pernah ditempatinya sebelum mengalami masalah fisik.
Ia sebelumnya pernah mencapai peringkat empat dunia dan memenangkan medali emas tunggal putri di Olimpiade Paris 2024. Namun, cedera siku membuatnya harus melewatkan US Open 2025.
Kemenangan atas Swiatek Mengubah Rekor Pertemuan
Kemenangan di New York juga memperbaiki catatan Zheng ketika menghadapi Swiatek.
Sebelum pertandingan tersebut, Zheng hanya pernah mengalahkan Swiatek satu kali dalam tujuh pertemuan. Kemenangan itu terjadi pada semifinal Olimpiade Paris 2024, ketika Zheng kemudian melanjutkan perjalanan hingga memenangkan medali emas.
Kali ini, Zheng mengalahkan Swiatek di panggung Grand Slam.
Swiatek sendiri mengakui bahwa ia kehilangan kendali setelah memiliki keunggulan besar pada set pertama.
“I let her back into the match,” ujar Swiatek setelah pertandingan.
Kekalahan tersebut mengakhiri peluang Swiatek untuk kembali memenangkan US Open setelah menjadi juara pada 2022.
Perempat Final Membawa Ujian yang Berbeda
Kemenangan atas Swiatek membawa Zheng ke perempat final, tetapi perjalanan comeback tersebut akhirnya berhenti di tangan Elena Rybakina.
Rybakina, unggulan kedua, mengalahkan Zheng 3-6, 6-1, 6-4 dalam pertandingan perempat final.
Hasil tersebut memang mengakhiri perjalanan Zheng di New York, tetapi tidak menghapus pencapaian yang sudah dibuatnya.
Zheng mencapai perempat final US Open untuk ketiga kalinya secara beruntun. Ia sebelumnya juga menembus delapan besar pada 2023 dan 2024.
Bahkan, US Open mencatat bahwa Zheng menjadi pemain kualifikasi kedua yang mampu mencapai perempat final dalam perjalanan menuju turnamen tersebut. Emma Raducanu menjadi qualifier pertama yang kemudian memenangkan US Open pada 2021.
US Open 2026 Menjadi Titik Balik Zheng
Perjalanan Zheng di New York pada akhirnya bukan tentang seberapa jauh ia berhasil mencapai final.
Cerita utamanya justru berada pada cara ia kembali ke level kompetitif setelah periode sulit.
Ia datang dengan ranking 121 dunia. Ia harus melalui tiga pertandingan kualifikasi. Ia menghadapi defisit 0-5 melawan Madison Keys dan menyelamatkan match point. Beberapa hari kemudian, ia kembali tertinggal 0-5 melawan Swiatek dan sekali lagi membalikkan keadaan.
Dua comeback tersebut memperlihatkan sisi mental yang berbeda dari Zheng.
Alih-alih terburu-buru mengejar skor, ia berusaha memenangkan poin demi poin dan mencari kembali pola permainan yang membuatnya nyaman. Pendekatan itu terbukti efektif ketika lawan mulai kehilangan momentum.
US Open bahkan menggambarkan perjalanan Zheng sebagai salah satu kisah comeback paling menarik di edisi 2026. Dalam turnamen yang sama, ia mampu melewati 14 jam pertandingan, memenangkan empat laga tiga set, menyelamatkan match point, dan bangkit dari defisit 0-5 melawan dua mantan juara Grand Slam.
Kekalahan dari Rybakina kemudian menutup perjalanannya, tetapi tidak mengubah makna dua kemenangan sebelumnya.
Zheng meninggalkan New York bukan sebagai petenis peringkat 121 yang sekadar berhasil lolos dari kualifikasi, melainkan sebagai salah satu pemain yang kembali menjadi sorotan setelah menunjukkan bahwa level permainan dan mentalitasnya masih mampu bersaing dengan nama-nama terbesar di tenis putri.
US Open 2026 mungkin belum menjadi Grand Slam yang membawa Zheng ke semifinal atau final. Namun, dari dua kali tertinggal 0-5 hingga mencapai perempat final, turnamen ini memberi tanda kuat bahwa perjalanan kembalinya setelah cedera telah memasuki babak baru.



Komentar