Sport Sport lain

Ben Shelton Tumbangkan Alcaraz di US Open 2026, Lalu Bawa Amerika ke Final Setelah 23 Tahun

Ben Shelton

Endoxa Asia – Ben Shelton menjadi salah satu nama paling menonjol di US Open 2026 setelah menyingkirkan juara bertahan Carlos Alcaraz dalam pertandingan lima set yang berlangsung hingga dini hari di Arthur Ashe Stadium, New York.

Petenis Amerika Serikat itu mengalahkan Alcaraz dengan skor 6-7(5), 6-1, 6-3, 1-6, 7-6(10-7) dalam laga yang berlangsung selama 4 jam 28 menit. Pertandingan baru berakhir pada pukul 03.33 waktu setempat, menjadikannya laga yang selesai paling larut dalam sejarah US Open.

Zheng Qinwen Bangkit dari 0-5, Singkirkan Iga Swiatek, dan Hidupkan Kembali Kariernya di US Open 2026

Kemenangan tersebut sekaligus menghentikan 18 kemenangan beruntun Alcaraz di pertandingan Grand Slam dan mengakhiri upaya petenis Spanyol itu mempertahankan gelar US Open. Bagi Shelton, hasil tersebut menjadi kemenangan terbesar dalam kariernya sekaligus mengantarkannya ke semifinal Grand Slam untuk ketiga kalinya.

Shelton Bangkit Setelah Kehilangan Set Pertama

Alcaraz lebih dulu mengambil kendali pada set pembuka. Setelah pertarungan ketat, juara bertahan tersebut mengamankan set pertama melalui tiebreak 7-5.

Namun, Shelton segera mengubah jalannya pertandingan. Petenis yang dikenal dengan servis keras dan forehand agresif itu mulai mengambil lebih banyak inisiatif dari baseline dan membuat Alcaraz berada di bawah tekanan dalam reli.

Shelton kemudian merebut set kedua 6-1 dan melanjutkan momentumnya dengan kemenangan 6-3 pada set ketiga.

Keunggulan tersebut tidak bertahan mudah. Alcaraz kembali menemukan variasi permainan pada set keempat dan memaksa Shelton kehilangan ritmenya. Petenis Spanyol itu menang 6-1 sehingga pertandingan harus ditentukan melalui set kelima.

Pada fase tersebut, kedua pemain mempertahankan servis hingga kedudukan 6-6. Tidak ada yang mampu menciptakan break yang cukup untuk mengakhiri pertandingan sebelum tiebreak.

Travis Scott Rilis Cactus Court Bersama Carlos Alcaraz di US Open

Shelton akhirnya tampil lebih tenang ketika tekanan mencapai titik tertinggi. Ia memenangkan tiebreak penentuan 10-7 dan mengakhiri pertandingan dengan sebuah ace keras yang tercatat mencapai 146 mph. Data resmi US Open mencatat servis Shelton bahkan mencapai 149 mph dalam kemenangan tersebut, yang menjadi servis tercepat di turnamen hingga saat itu.

“That was a war; an epic match,” kata Shelton setelah kemenangan tersebut, menggambarkan duel melawan Alcaraz sebagai pertarungan yang sangat berat.

Kemenangan yang Mengubah Posisi Shelton

Hasil tersebut penting bukan hanya karena lawannya berstatus juara bertahan.

Shelton datang ke pertandingan dengan catatan belum pernah mengalahkan pemain peringkat tiga besar. Kemenangan atas Alcaraz sekaligus mengakhiri rangkaian 17 kekalahan beruntun Shelton ketika menghadapi pemain dari kelompok Top 3.

Ia juga menjadi petenis Amerika Serikat pertama yang mengalahkan Alcaraz di pertandingan Grand Slam.

Pada usia 23 tahun, Shelton menunjukkan bahwa kekuatan servis dan permainan agresif yang selama ini menjadi cirinya mulai disertai kemampuan mengelola pertandingan panjang di panggung terbesar.

Performa tersebut juga menjadi bagian dari tren kebangkitan tenis putra Amerika di US Open 2026. Shelton tidak sendirian. Frances Tiafoe juga mencapai semifinal setelah melewati pertandingan lima set melawan Alex Michelsen.

Situasi itu memastikan satu petenis Amerika akan tampil di final nomor tunggal putra.

Shelton Singkirkan Tiafoe dan Tembus Final Grand Slam Pertama

Pertemuan sesama petenis Amerika tersebut akhirnya berlangsung di semifinal.

Shelton kembali kehilangan set pembuka, tetapi ia sekali lagi mampu membalikkan keadaan. Ia mengalahkan Tiafoe 4-6, 6-3, 6-3, 7-5 untuk mencapai final Grand Slam pertamanya.

Kemenangan itu juga memiliki makna historis. Shelton menjadi petenis putra kulit hitam Amerika pertama yang mencapai final tunggal US Open sejak Arthur Ashe pada 1972.

Dengan hasil tersebut, Shelton mendapat kesempatan mengakhiri penantian panjang tenis putra Amerika. Sebelum final 2026, petenis putra Amerika terakhir yang memenangkan gelar Grand Slam adalah Andy Roddick di US Open 2003.

Namun, lawan di final bukan pemain sembarangan. Alexander Zverev datang sebagai unggulan pertama sekaligus juara French Open 2026.

Final Melawan Zverev Menjadi Ujian Terakhir

Final US Open 2026 mempertemukan dua pemain dengan momentum berbeda. Shelton membawa energi dari kemenangan dramatis atas Alcaraz dan Tiafoe, sementara Zverev tampil sebagai unggulan teratas yang sedang menjalani musim Grand Slam terbaik dalam kariernya.

Zverev akhirnya memenangkan pertandingan 6-3, 7-6(2), 5-7, 6-2 dan mengangkat trofi US Open untuk pertama kalinya. Kemenangan tersebut menjadi gelar Grand Slam keduanya pada 2026 setelah sebelumnya menjuarai French Open.

Bagi Shelton, kekalahan tersebut memang menutup peluangnya menjadi petenis putra Amerika pertama sejak 2003 yang memenangkan Grand Slam. Namun, perjalanan menuju final tetap menjadi pencapaian terbesar dalam karier Grand Slam-nya.

Ia juga menjadi petenis Amerika ke-13 yang mencapai final tunggal putra US Open pada era Open.

Setelah pertandingan, Shelton tidak menutupi besarnya pengalaman yang baru saja dilewati.

“There’s nothing like it. I’ve never felt anything like that before,” ujar Shelton mengenai pengalamannya berjalan ke lapangan untuk memainkan final Grand Slam pertamanya.

Dari Kejutan atas Alcaraz ke Generasi Baru Tenis Amerika

Perjalanan Shelton di US Open 2026 memperlihatkan bagaimana satu pertandingan dapat mengubah narasi seorang atlet.

Kemenangan atas Alcaraz bukan sekadar keberhasilan mengalahkan juara bertahan. Laga tersebut memperlihatkan bahwa Shelton mampu bertahan dalam pertandingan panjang, bangkit setelah kehilangan set, dan tetap agresif ketika tekanan mencapai titik tertinggi.

Dua hari kemudian, ia kembali melakukan comeback melawan Tiafoe untuk mencapai final. Pada akhirnya, Zverev menghentikan langkahnya, tetapi Shelton meninggalkan New York dengan status sebagai finalis Grand Slam untuk pertama kalinya.

US Open 2026 juga menjadi penanda penting bagi tenis putra Amerika. Shelton membawa negara tersebut kembali ke final tunggal putra setelah penantian panjang, sekaligus menjadi petenis putra kulit hitam Amerika pertama yang mencapai final US Open sejak era Arthur Ashe.

Dengan usia baru 23 tahun, perjalanan Shelton di New York menunjukkan bahwa kekalahan di final mungkin bukan akhir dari ceritanya. Justru, kemenangan atas Alcaraz dan perjalanan hingga partai puncak memberi gambaran bahwa ia mulai mampu mengubah kekuatan mentah menjadi performa yang konsisten di panggung Grand Slam.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *