News Internasional

Trump Kehilangan Sekutu di Serbia dan Brasil, Hasil Pemilu Guncang Jaringan Politiknya

Trump Kehilangan Sekutu di Serbia dan Brasil, Hasil Pemilu Guncang Jaringan Politiknya
JOINT BASE ANDREWS, MARYLAND - OCTOBER 26: U.S. President Donald Trump answers questions from the press before boarding Air Force One on October 26, 2026 in Joint Base Andrews, Maryland. Trump is scheduled to travel to Mississippi today to continue his campaign for Republican candidates in the midterm elections. Chip Somodevilla/Getty Images/AFP (Photo by CHIP SOMODEVILLA / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Endoxa Asia – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi kemunduran bagi jaringan sekutu politiknya di luar negeri setelah hasil pemilu di Serbia dan Brasil pada 25 Oktober 2026. Di Brasil, Presiden Luiz Inácio Lula da Silva kembali terpilih setelah mengalahkan Flávio Bolsonaro, putra mantan presiden Jair Bolsonaro. Sementara di Serbia, gerakan oposisi yang dipimpin mahasiswa berhasil mengakhiri dominasi partai yang dipimpin kubu Presiden Aleksandar Vučić.

Kedua hasil tersebut menjadi pukulan bagi tokoh-tokoh yang memiliki kedekatan politik dengan Trump. Jair Bolsonaro dan keluarganya selama ini dikenal sebagai mitra politik Trump di Amerika Latin. Di Eropa, Vučić juga pernah menyebut dirinya memiliki pandangan yang sejalan dengan presiden AS tersebut.

Trump Klaim AS Lebih Hebat Memata-matai China dan Rusia, Isu Spionase Kembali Disorot

Meski demikian, hasil pemilu di dua negara itu tidak secara langsung mengubah kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Dampaknya lebih terlihat pada berkurangnya sejumlah mitra politik yang selama ini dapat memperkuat pengaruh Trump di kawasan masing-masing.

Lula Kembali Menang, Keluarga Bolsonaro Gagal Merebut Kekuasaan

Di Brasil, Lula da Silva memenangkan pemilihan presiden setelah memperoleh 51,8 persen suara, mengungguli Flávio Bolsonaro yang meraih 48,2 persen. Hasil tersebut membuat Lula kembali memimpin negara dengan ekonomi terbesar di Amerika Latin dan menggagalkan upaya keluarga Bolsonaro untuk kembali ke pemerintahan.

Kemenangan Lula juga memutus rangkaian tujuh kemenangan kandidat konservatif dalam pemilihan presiden di kawasan Amerika Latin selama sekitar 18 bulan terakhir. Sebelumnya, sejumlah kandidat berhaluan kanan memperoleh dukungan dengan membawa agenda keamanan dan pendekatan politik yang memiliki kemiripan dengan gerakan Trump.

Bagi Trump, Brasil merupakan negara penting. Jika Flávio menang, pemerintahan AS berpeluang memiliki mitra yang lebih dekat dalam agenda keamanan regional, termasuk rencana koalisi yang dipimpin Washington untuk menghadapi jaringan kartel.

Sebaliknya, Lula selama ini mempertahankan pendekatan politik luar negeri yang lebih independen. Pemerintahannya menjalin hubungan dengan berbagai kekuatan global, termasuk China dan kelompok BRICS, serta menolak bergabung dengan koalisi keamanan Shield of the Americas yang dipimpin Amerika Serikat.

Hubungan Washington dan Brasil juga sempat memanas akibat kebijakan tarif AS terhadap sejumlah produk Brasil. Trump menerapkan tarif tersebut di tengah perselisihan terkait proses hukum terhadap Jair Bolsonaro atas dugaan keterlibatan dalam rencana kudeta untuk menggulingkan Lula.

Menkes Buka Suara soal Beeru Stevia, BPOM Masih Uji Dugaan Kandungan Pemanis Buatan

Setelah hasil pemilu diumumkan, Trump menyebut pemungutan suara di Brasil terlihat seperti pemilu yang dicurangi, tetapi tidak menyertakan bukti untuk mendukung pernyataan tersebut. Flávio Bolsonaro juga menolak mengakui kekalahan dan menuduh terdapat penyimpangan dalam pemungutan suara.

Gerakan Mahasiswa Akhiri Dominasi Kubu Vučić di Serbia

Perubahan politik juga terjadi di Serbia. Gerakan oposisi yang dikenal sebagai Student List berhasil mengalahkan kubu Partai Progresif Serbia atau Serbian Progressive Party (SNS), yang telah mendominasi pemerintahan selama 14 tahun.

Kemenangan tersebut mengakhiri kekuasaan politik kubu Vučić. Sebelumnya, ia menjabat sebagai presiden sejak 2017 dan pernah menjadi perdana menteri pada periode 2014–2017. Menjelang pemilu, Vučić mengundurkan diri dari jabatan presiden untuk maju sebagai perdana menteri.

Hubungan Vučić dengan Trump terbangun melalui kedekatan politik dan komunikasi antara kedua kubu. Vučić pernah menyebut dirinya dan Trump memiliki pandangan yang serupa. Putra sulung Trump, Donald Trump Jr., juga pernah mengunjungi Vučić di Belgrade, termasuk menjelang pemilihan presiden AS pada 2024.

Vučić menjadi salah satu mitra politik Trump yang relatif dekat di Eropa. Ia juga mempertahankan hubungan baik dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan tidak mengikuti kebijakan sanksi Uni Eropa terhadap Moskow setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Kekalahan kubu Vučić karena itu berpotensi mengubah hubungan politik Serbia dengan sejumlah mitra internasional. Namun, hasil pemilu tersebut belum otomatis berarti seluruh kerja sama Serbia dengan Amerika Serikat atau negara lain akan dihentikan. Arah kebijakan pemerintahan berikutnya masih akan bergantung pada proses pembentukan pemerintahan dan keputusan politik yang diambil setelah pemilu.

Amran Sebut Indonesia Bisa Hentikan Ekspor Sawit, Negara Pengimpor Bakal Terdampak

Kekalahan Sekutu Tidak Otomatis Mengubah Politik AS

Meski kehilangan sejumlah tokoh yang dekat dengannya, dampak pemilu Serbia dan Brasil terhadap politik domestik Amerika Serikat diperkirakan terbatas. Pemilih AS menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026 akan lebih banyak mempertimbangkan persoalan dalam negeri, seperti biaya hidup dan kebijakan pemerintahan.

Hasil pemilu di luar negeri juga tidak serta-merta menentukan arah hubungan diplomatik Washington dengan kedua negara. Brasil dan Amerika Serikat masih memiliki kepentingan ekonomi yang saling terkait, termasuk perdagangan, investasi, keamanan, serta pasokan mineral penting.

Brasil memiliki cadangan tanah jarang yang besar dan merupakan produsen utama niobium, bahan yang digunakan dalam berbagai kebutuhan industri dan pertahanan. Kepentingan tersebut membuat Washington tetap memiliki alasan untuk bernegosiasi dengan pemerintahan Lula, meskipun keduanya memiliki perbedaan pandangan politik.

Di sisi lain, Lula juga membutuhkan investasi asing dan ruang negosiasi untuk mengatasi persoalan tarif perdagangan. Hubungan kedua negara karena itu masih berpeluang berjalan melalui pendekatan pragmatis, meski tidak selalu sejalan secara politik.

Hasil di Serbia dan Brasil menunjukkan bahwa kedekatan seorang pemimpin dengan tokoh internasional tidak menjamin keberlangsungan kekuasaannya. Pada akhirnya, pemilih di masing-masing negara tetap menentukan arah politik melalui pemilu, sementara pengaruh Trump di luar negeri akan bergantung pada siapa yang memegang pemerintahan dan bagaimana kepentingan kedua pihak bertemu.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *