Endoxa Asia – Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, mengalami dua kali erupsi dalam rentang waktu sekitar 42 menit pada Senin pagi, 2 November 2026. Salah satu letusan menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 950 meter di atas puncak, sementara erupsi berikutnya tidak dapat diamati secara visual karena tertutup awan atau kabut.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa erupsi pertama terjadi pukul 09.11 Waktu Indonesia Timur (WIT). Kolom abu teramati mencapai ketinggian 2.037 meter di atas permukaan laut atau sekitar 950 meter dari puncak gunung.
Abu yang keluar berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak condong ke arah barat. Aktivitas tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 18 milimeter dan durasi gempa 38,57 detik.
Erupsi Kedua Terekam dengan Amplitudo Lebih Besar

Aktivitas vulkanik kembali terjadi pada pukul 09.53 WIT. Meski kolom abu tidak terlihat akibat tertutup awan atau kabut, instrumen pemantauan tetap merekam letusan tersebut.
Erupsi kedua memiliki amplitudo maksimum 31 milimeter dengan durasi gempa 44,76 detik. Angka amplitudo ini lebih besar dibandingkan rekaman erupsi pertama yang mencapai 18 milimeter.
Kedua letusan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Dukono masih berlangsung. Namun, perbedaan amplitudo seismogram saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa letusan kedua menghasilkan kolom abu yang lebih tinggi atau dampak yang lebih besar.
Status Gunung Dukono Masih Level II atau Waspada
Badan Geologi menyatakan status aktivitas Gunung Dukono masih berada pada Level II atau Waspada setelah dua erupsi tersebut.
Dalam rekomendasinya, masyarakat di sekitar gunung, pengunjung, dan wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas, mendaki, maupun mendekati Kawah Malupang Warirang dalam radius 4 kilometer dari kawah aktif.
Lana juga mengingatkan bahwa erupsi yang disertai sebaran abu vulkanik dapat terjadi secara periodik. Arah penyebaran abu bergantung pada kecepatan dan arah angin sehingga wilayah yang terdampak tidak selalu sama.
Masyarakat di sekitar kawasan gunung diimbau menyediakan masker atau penutup hidung dan mulut untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik yang dapat mengganggu sistem pernapasan.
Warga Diminta Memperhatikan Sebaran Abu Vulkanik
Aktivitas erupsi Dukono menjadi perhatian karena abu vulkanik tidak selalu menyebar ke arah yang sama. Kondisi angin dapat mengubah arah pergerakannya, sehingga masyarakat perlu memperhatikan informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas gunung.
Selain menghindari kawasan kawah sesuai radius rekomendasi, warga perlu menggunakan pelindung pernapasan ketika terjadi hujan abu. Pengunjung dan wisatawan juga perlu mematuhi larangan mendekati Kawah Malupang Warirang.
Dua erupsi pada Senin pagi ini kembali memperlihatkan aktivitas vulkanik Gunung Dukono yang masih berlangsung. Meski statusnya tetap Level II, masyarakat di sekitar Halmahera Utara diminta tidak mengabaikan rekomendasi keselamatan dari Badan Geologi.




Komentar