News Internasional

Singapura Kejar Target 4 GWp Energi Surya pada 2035, Panel Dipasang di Fasad dan Kanopi

Singapura Kejar Target 4 GWp Energi Surya pada 2035, Panel Dipasang di Fasad dan Kanopi
Singapura Kejar Target 4 GWp Energi Surya pada 2035, Panel Dipasang di Fasad dan Kanopi

Endoxa Asia – Singapura memperluas strategi energi surya dengan mencari lokasi pemasangan panel di luar atap bangunan konvensional. Pemerintah negara tersebut menaikkan target kapasitas energi surya menjadi 4 gigawatt-peak (GWp) pada 2035, di tengah keterbatasan lahan dan kebutuhan listrik yang terus meningkat.

Target baru itu diumumkan dalam rangkaian Singapore International Energy Week 2026. Per 27 Oktober 2026, kapasitas energi surya Singapura telah mencapai 2,3 GWp, sementara sasaran sebelumnya adalah 3 GWp pada 2030.

GRECO 2026 Digelar di Vietnam, Pamerkan Robotika hingga Teknologi Hijau

Untuk mengejar target tersebut, pemerintah menjajaki pemanfaatan kanopi parkir, fasad bangunan, lahan kosong, hingga genteng surya yang dirancang menyerupai genteng tanah liat. Berbagai inisiatif itu menunjukkan bagaimana Singapura berupaya memaksimalkan ruang perkotaan untuk menghasilkan listrik dari energi terbarukan.

Panel Surya Tak Lagi Terbatas di Atap

Salah satu langkah yang diumumkan Energy Market Authority (EMA) adalah memperluas pemasangan panel surya pada properti milik pemerintah. Melalui kerangka pengadaan bersama, sejumlah lembaga pemerintah dapat menggabungkan kebutuhan mereka untuk membuka peluang pemasangan panel di berbagai lokasi.

Skema ini mencakup teknologi seperti solar carports, yaitu kanopi parkir yang dilengkapi panel surya, serta building-integrated photovoltaics (BIPV), yakni teknologi fotovoltaik yang menjadi bagian dari elemen bangunan.

Panel yang dipasang pada fasad juga menjadi salah satu fokus pengembangan. Namun, pemasangannya memiliki tantangan tersendiri, termasuk orientasi bangunan, kekuatan struktur, biaya, kinerja, dan kebutuhan perawatan.

Untuk mendorong inovasi, pengembang kawasan industri JTC meluncurkan dua tantangan teknologi. Salah satunya mencari solusi panel yang dapat dipasang langsung pada fasad bangunan. Tantangan lainnya berfokus pada panel surya dalam kontainer yang dapat dipasang dengan cepat dan dipasangkan dengan sistem penyimpanan energi baterai bergerak.

Solusi berbasis kontainer tersebut ditujukan antara lain untuk lokasi konstruksi yang memiliki akses terbatas ke jaringan listrik dan masih mengandalkan generator diesel.

Warga China Ditahan di Hong Kong Bawa 2 Kg Kokain, Dijanjikan Upah Rp4,8 Juta

Genteng Surya untuk Bangunan Bersejarah

Pemerintah Singapura juga menjajaki teknologi genteng surya untuk bangunan milik negara yang memiliki nilai sejarah. Tujuannya adalah menghasilkan listrik tanpa mengubah karakter arsitektur bangunan secara signifikan.

EMA bekerja sama dengan Singapore Land Authority dan pusat inovasi teknologi Swiss, CSEM, untuk meneliti serta mengembangkan teknologi tersebut. Genteng fotovoltaik dirancang menyerupai genteng tanah liat tradisional, sehingga dapat menjadi alternatif bagi bangunan yang tidak cocok menggunakan panel surya konvensional pada seluruh permukaan atapnya.

Teknologi ini masih berada dalam tahap penelitian dan pengembangan serta penjajakan proyek percontohan. Karena itu, belum semua bangunan bersejarah akan langsung menggunakan genteng surya.

Selain aspek estetika, penerapannya perlu mempertimbangkan keamanan, keandalan, kinerja, serta integrasi dengan jaringan listrik. Jika berhasil, pendekatan tersebut dapat membuka peluang pemasangan energi surya pada bangunan yang sebelumnya menghadapi kendala desain.

Pemilik Rumah Akan Dibantu Melalui Portal Digital

Perluasan energi surya juga menyasar rumah pribadi. EMA dan Sustainable Energy Association of Singapore (SEAS) telah menandatangani kesepakatan untuk menjajaki pengembangan portal digital terpadu bagi pemilik rumah tapak yang ingin memasang panel surya.

Platform tersebut dirancang untuk mengumpulkan informasi dan layanan terkait energi surya dalam satu tempat. Pemilik rumah diharapkan dapat memahami pilihan pemasangan, menemukan penyedia jasa instalasi, dan menjajaki pembelian bersama dengan pemilik rumah lain.

Menurut laporan The Straits Times pada 27 Oktober, Singapura telah memiliki lebih dari 8.000 instalasi surya di properti residensial. Pemerintah juga bekerja sama dengan Energy Research Institute @ NTU untuk memetakan kapasitas jaringan listrik lokal agar dapat menampung peningkatan aliran listrik dari panel rumah ke jaringan.

11 Buffet Hotpot di Singapura, dari Porsi Hemat hingga Pilihan Premium

Langkah ini penting karena pertumbuhan instalasi surya tidak hanya membutuhkan panel dan ruang pemasangan. Jaringan listrik juga harus mampu mengelola pasokan yang berubah-ubah mengikuti kondisi cuaca dan pola konsumsi.

Target 2035 dan Batas Potensi Energi Surya

Target 4 GWp pada 2035 menunjukkan peningkatan ambisi Singapura dalam memanfaatkan energi terbarukan domestik. Namun, pemerintah mengakui bahwa energi surya memiliki batas dalam memenuhi kebutuhan listrik negara tersebut.

Menteri Negara untuk Energi, Perdagangan dan Industri Gan Siow Huang mengatakan energi surya diperkirakan hanya dapat memenuhi paling banyak 10 persen kebutuhan listrik Singapura pada 2050.

Keterbatasan lahan dan perubahan intensitas sinar matahari menjadi faktor yang membatasi kontribusinya. Karena itu, pemerintah tetap memandang impor listrik rendah karbon dari negara lain sebagai salah satu bagian penting dari strategi transisi energi.

Singapura sedang membangun jalur kerja sama untuk impor listrik regional sekaligus mengembangkan infrastruktur yang diperlukan. Pendekatan ini melengkapi upaya meningkatkan kapasitas energi surya di dalam negeri.

Dengan demikian, target 2035 bukan berarti Singapura akan bergantung sepenuhnya pada energi surya. Pemerintah justru menggabungkan berbagai sumber energi dan teknologi untuk menjaga pasokan listrik tetap aman sekaligus mengurangi emisi.

Perkembangan berikutnya akan bergantung pada keberhasilan proyek percontohan, kesiapan jaringan listrik, dan kemampuan teknologi baru untuk diterapkan secara ekonomis. Bagi Singapura, tantangannya adalah memanfaatkan setiap ruang yang tersedia tanpa mengabaikan kebutuhan energi, keselamatan, dan karakter bangunan.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *