Saham Big Banks Melemah di Sesi I, BBCA Jadi Satu-satunya yang Menguat

Key Insights:
• Mayoritas saham bank besar melemah pada sesi pertama perdagangan Kamis
• BBCA menjadi satu-satunya saham big banks yang mencatat kenaikan
• Fluktuasi rupiah dan sentimen global menjadi faktor utama tekanan saham perbankan

Mayoritas saham bank berkapitalisasi besar atau big banks melemah pada sesi pertama perdagangan Bursa Efek Indonesia, Kamis (2/4/2026). Dari empat saham bank besar, hanya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencatatkan penguatan hingga pertengahan hari.

Harga saham BBCA tercatat naik 0,38 persen ke level Rp6.525 per saham. Sementara itu, saham bank besar lainnya berada di zona merah.

Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 0,27 persen ke level Rp3.710 per saham. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga melemah 0,30 persen ke posisi Rp3.340 per saham.

Adapun saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan penurunan terbesar di antara saham big banks lainnya, yakni turun 0,42 persen ke level Rp4.700 per saham.

Keempat saham perbankan tersebut sempat menguat pada awal perdagangan. Namun, tekanan jual kembali terjadi pada sesi berjalan, sehingga mayoritas saham berbalik melemah kecuali BBCA yang masih bertahan di zona hijau.

Pergerakan saham perbankan tersebut terjadi menjelang libur pasar modal pada Jumat (3/4/2026) dalam rangka peringatan Wafat Yesus Kristus. Dengan demikian, perdagangan Kamis menjadi sesi terakhir pada pekan ini.

Head Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyampaikan bahwa pergerakan saham big banks dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar rupiah.

Wafi mengingatkan investor untuk mencermati risiko eksternal yang berpotensi memengaruhi kinerja sektor perbankan, termasuk pergerakan nilai tukar, konflik geopolitik global, serta kondisi ekonomi domestik.

“Kalau rupiah tembus dan bertahan di atas 17.000, maka akan ada risiko inflasi impor dan potensi kenaikan BI rate yang bisa memperlambat laju pertumbuhan kredit dan menaikkan rasio NPL. Tentunya akan memicu capital outflow asing,” kata Wafi, Rabu (1/4/2026).

Meski demikian, Wafi menilai saham big banks masih layak untuk dikoleksi dalam jangka panjang. Menurutnya, fundamental sektor perbankan nasional masih relatif kuat dan menunjukkan kinerja yang stabil.

Ia menyebut investor dapat mempertimbangkan strategi akumulasi bertahap, terutama pada saham bank berkapitalisasi besar yang memiliki kinerja keuangan solid dan posisi likuiditas yang baik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *