
Key Insights
- AI semakin berpindah ke perangkat. Phone (4b) mengandalkan pemrosesan AI on-device untuk menghadirkan respons lebih cepat sekaligus mengurangi ketergantungan pada cloud.
- Earbuds berevolusi menjadi perangkat komputasi mandiri. Penyimpanan internal pada Ear (3a) memungkinkan fitur perekaman dan Audio Snapshot berjalan langsung dari earbuds.
- Nothing memperkuat strategi ekosistem. Integrasi smartphone, AI, dan wearable menunjukkan fokus perusahaan bergeser dari sekadar desain unik menuju pengalaman pengguna yang semakin terhubung.
Melalui peluncuran Phone (4b) dan Ear (3a), perusahaan asal London itu memperluas strategi menghadirkan pengalaman premium di segmen yang lebih terjangkau. Fokusnya bukan hanya pada kecepatan prosesor atau kualitas kamera, tetapi juga pada pemrosesan AI langsung di perangkat serta integrasi yang semakin erat antara smartphone dan earbuds.
Phone (4b) menjadi model pertama dalam lini (b), melengkapi portofolio Nothing dengan perangkat yang mengadopsi banyak elemen dari seri Phone (4a). Desain transparan khas Nothing tetap dipertahankan melalui evolusi Glyph Bar dan konstruksi unibody, sementara peningkatan terbesar justru berada di dalam perangkat.

Smartphone ini ditenagai Qualcomm Snapdragon 6 Gen 4 berbasis proses manufaktur 4 nanometer yang dipadukan dengan Qualcomm 6th Generation AI Engine. Kombinasi tersebut memungkinkan berbagai fungsi kecerdasan buatan diproses langsung di perangkat, mulai dari fotografi komputasional hingga pengenalan suara, tanpa harus selalu mengirim data ke cloud. Pendekatan AI on-device seperti ini semakin banyak diadopsi industri karena menawarkan respons yang lebih cepat sekaligus menjaga privasi pengguna.
Nothing juga berupaya mengatasi salah satu tantangan utama smartphone modern, yaitu panas berlebih ketika menjalankan beban kerja tinggi. Phone (4b) dibekali vapour chamber seluas 4.400 mm² yang diklaim mampu menjaga suhu perangkat hingga 2 derajat Celsius lebih rendah saat digunakan untuk bermain gim atau merekam video 4K. Sistem pendingin tersebut dirancang untuk meminimalkan thermal throttling sehingga performa tetap stabil dalam penggunaan jangka panjang.
Baca juga: Anoma A1 Prehistoric Mengangkat Estetika Purba Menjadi Karya Horologi Modern
Daya tahan juga menjadi perhatian utama. Nothing menyematkan baterai 6.000 mAh, kapasitas terbesar yang pernah digunakan perusahaan pada lini smartphonenya. Teknologi Safe Cell Technology diklaim mampu mempertahankan hingga 90 persen kapasitas baterai setelah sekitar 1.200 siklus pengisian daya, sementara pengisian cepat 33W dapat mengisi setengah kapasitas dalam waktu kurang dari 30 menit.



Di sektor fotografi, Phone (4b) mengusung kamera utama 50 MP dengan Optical Image Stabilization (OIS), dipadukan kamera ultrawide 119 derajat. Mesin pemrosesan gambar TrueLens Engine 4 memanfaatkan fotografi komputasional dengan menggabungkan 13 frame RAW menjadi satu gambar beresolusi tinggi melalui teknologi Ultra XDR. Pendekatan ini bertujuan menghasilkan rentang dinamis yang lebih luas serta reproduksi warna yang lebih akurat dibanding teknik HDR konvensional.
Kemampuan video juga diperluas melalui fitur dual capture yang memungkinkan kamera depan dan belakang merekam secara bersamaan. Bersama berbagai filter kreatif dan mode Playground, Nothing mencoba menjadikan smartphone bukan sekadar alat dokumentasi, tetapi juga perangkat produksi konten yang lebih fleksibel.
Layar Super AMOLED berukuran 6,77 inci melengkapi pengalaman tersebut dengan refresh rate adaptif 120 Hz, tingkat kecerahan hingga 2.000 nit, serta touch sampling rate instan 1.000 Hz untuk respons yang lebih cepat saat bermain gim.
Dari sisi perangkat lunak, Nothing OS 4.1 berbasis Android 16 membawa integrasi AI yang semakin dalam. ChatGPT kini dapat diakses langsung melalui antarmuka sistem, clipboard, maupun widget, berdampingan dengan Google Gemini, Circle to Search, dan Hey Google. Tren integrasi berbagai model AI dalam satu ekosistem menunjukkan bagaimana smartphone mulai berevolusi menjadi pusat komputasi personal yang semakin kontekstual.

Sementara itu, inovasi paling menarik justru hadir pada Ear (3a). Earbuds terbaru ini menjadi produk pertama Nothing yang dibekali penyimpanan internal sebesar 32 MB, memungkinkan sebagian fungsi berjalan secara mandiri tanpa bergantung sepenuhnya pada smartphone.
Salah satu fitur barunya adalah Audio Snapshot, yang memungkinkan pengguna merekam momen suara hanya dengan gerakan mencubit kedua earbuds secara bersamaan. Sistem akan menyimpan audio beberapa saat sebelum dan sesudah gestur dilakukan, menciptakan konsep yang oleh Nothing disebut sebagai “screenshot” untuk suara.
Seluruh rekaman otomatis tersinkron ke aplikasi Nothing X untuk diputar ulang, diedit, ditranskripsikan, hingga diubah menjadi kartu kutipan yang dapat dibagikan. Selain itu, Ear (3a) juga mampu merekam panggilan telepon maupun rapat langsung dari earbuds hingga sekitar dua jam melalui kontrol berbasis gestur. Untuk menjaga transparansi, perangkat akan memberikan notifikasi kepada semua peserta ketika proses perekaman berlangsung.




Kemampuan audio juga mengalami peningkatan melalui driver dinamis 12 mm baru dengan dukungan Hi-Res Audio Wireless dan codec LDAC hingga 24-bit/96 kHz. Sistem Wideband Active Noise Cancellation mampu meredam kebisingan hingga 45 dB, sementara tiga mikrofon di setiap earbuds bekerja bersama algoritma AI untuk meningkatkan kejernihan suara saat melakukan panggilan di lingkungan ramai.
Desain transparan khas Nothing tetap dipertahankan, namun kini hadir dengan casing yang lebih membulat serta pilihan warna Black, White, Yellow, dan Pink. Daya tahan baterainya diklaim mencapai 42 jam bersama casing ketika ANC dinonaktifkan.

Peluncuran Phone (4b) dan Ear (3a) memperlihatkan arah baru strategi Nothing. Perusahaan tidak lagi hanya menjual desain yang berbeda, tetapi mulai membangun ekosistem perangkat yang memanfaatkan AI, komputasi lokal, dan integrasi lintas perangkat sebagai nilai utama. Di tengah semakin tipisnya perbedaan spesifikasi antarprodusen, pengalaman perangkat lunak dan kecerdasan buatan kemungkinan akan menjadi faktor yang semakin menentukan dalam persaingan smartphone beberapa tahun ke depan.



