Xiaomi 18 Fold resmi memasuki persaingan ponsel lipat premium dengan pendekatan yang semakin lebar, tipis, dan menyerupai tablet mini. Dibanderol mulai 10.999 yuan atau sekitar Rp28,9 juta di China, perangkat ini membawa layar utama 7,58 inci, baterai 6.000 mAh, serta kamera utama 200 MP. Kehadirannya memperlihatkan bahwa persaingan foldable tidak lagi hanya soal kemampuan melipat layar, tetapi juga bagaimana perangkat tersebut menggantikan sebagian fungsi tablet.
Peluncuran Xiaomi berlangsung ketika pasar foldable premium semakin kompetitif. Reuters melaporkan bahwa Xiaomi dan Huawei memperkenalkan perangkat lipat baru menjelang kehadiran ponsel lipat Apple yang banyak diperkirakan akan memperluas perhatian terhadap kategori ini.
Namun, Xiaomi 18 Fold dan Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra menawarkan prioritas yang berbeda. Xiaomi mengandalkan bodi passport-style, kapasitas baterai besar, dan konfigurasi kamera yang agresif. Samsung, yang telah tersedia di Indonesia sejak 14 Agustus 2026, lebih menekankan pengalaman produktivitas melalui layar besar, Galaxy AI, dan integrasi ekosistemnya.
Xiaomi 18 Fold Membawa Format Foldable yang Lebih Lebar
Xiaomi 18 Fold menggunakan rasio aspek 1,41:1, sehingga bentuknya lebih lebar dan tidak terlalu jangkung dibandingkan ponsel lipat konvensional. Saat dibuka, perangkat ini memiliki layar utama LTPO AMOLED 7,58 inci dengan resolusi 2.364 x 1.672 piksel, refresh rate 120Hz, dan kecerahan puncak hingga 4.000 nits.
Layar luarnya berukuran 5,38 inci dengan resolusi 1.168 x 1.712 piksel. Panel tersebut juga menggunakan teknologi LTPO AMOLED 120Hz dan dilindungi Shield Glass 3.0.
Dari sisi fisik, Xiaomi mengklaim ketebalan perangkat mencapai 5,02 mm saat dibentangkan dan 10,68 mm ketika dilipat, dengan bobot 219 gram. Konstruksi Dragon Bone Hinge generasi baru serta penggunaan Ultra-Thin Glass ganda menjadi bagian dari upaya Xiaomi mengurangi garis lipatan dan meningkatkan ketahanan perangkat.
Pendekatan ini sejalan dengan arah perkembangan foldable yang semakin mengutamakan kenyamanan penggunaan sehari-hari. Sebagai pembanding, Galaxy Z Fold8 Ultra memiliki layar utama 8 inci, ketebalan 4,1 mm saat dibuka, dan bobot 215 gram.
Chipset Internal dan Klaim Multitasking
Xiaomi 18 Fold ditenagai chipset internal XRING O3 berbasis proses fabrikasi 3nm. Perangkat ini dipasarkan dengan konfigurasi RAM hingga 16 GB dan penyimpanan hingga 1 TB.
Sistem operasinya menggunakan HyperOS 4 berbasis Android 17. Xiaomi juga menonjolkan kemampuan multitasking pada layar besar, termasuk menjalankan beberapa aplikasi secara bersamaan.
Meski demikian, klaim mengenai dukungan hingga enam aplikasi sekaligus perlu dibedakan dari informasi yang telah diverifikasi secara independen. Laporan Reuters mengenai Xiaomi 18 Fold menyebut perangkat tersebut mendukung tiga aplikasi secara bersamaan ketika dibuka.
Untuk sektor grafis, The Verge melaporkan bahwa Xiaomi 18 Fold menjadi perangkat pertama yang menggunakan GPU Mali G2-Ultra NX dari Arm. Teknologi tersebut membawa fitur seperti neural supersampling, frame generation, dan denoising untuk meningkatkan kualitas visual serta performa gaming.
Kamera Leica 200 MP Jadi Andalan
Sektor fotografi Xiaomi 18 Fold mengusung tiga kamera belakang dengan dukungan Leica. Kamera utamanya beresolusi 200 MP menggunakan sensor HP5 berukuran 1/1,56 inci, bukaan f/1.7, dan optical image stabilization atau OIS.
Kamera tersebut ditemani telefoto periskop 50 MP dengan zoom optis 3,5x serta kamera ultra-wide 50 MP. Kombinasi ini menempatkan Xiaomi 18 Fold sebagai perangkat yang tidak hanya mengejar desain tipis, tetapi juga menawarkan fleksibilitas fotografi pada kelas flagship.
Sebagai pembanding, Galaxy Z Fold8 Ultra juga menggunakan kamera utama 200 MP dan ultra-wide 50 MP. Namun, kamera telefoto Samsung beresolusi 10 MP dengan zoom optis 3x. Spesifikasi ini menunjukkan perbedaan pendekatan: Xiaomi lebih agresif pada resolusi telefoto, sementara Samsung mengandalkan sistem kamera yang telah diuji dalam penggunaan nyata.
Baterai 6.000 mAh Menjadi Pembeda Utama
Xiaomi 18 Fold dibekali baterai silikon-karbon berkapasitas 6.000 mAh. Perangkat ini mendukung pengisian cepat HyperCharge 67W melalui kabel dan pengisian nirkabel 50W.
Kapasitas tersebut menjadi salah satu pembeda paling jelas dibandingkan Galaxy Z Fold8 Ultra yang membawa baterai 5.000 mAh. Samsung sendiri menyebut perangkatnya mampu memberikan waktu pemutaran video hingga 27 jam, meski daya tahan aktual tetap bergantung pada pola penggunaan.
Kapasitas baterai yang lebih besar berpotensi menarik pengguna yang menginginkan layar lipat besar tanpa terlalu sering mencari sumber daya. Namun, angka kapasitas saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Xiaomi memiliki daya tahan lebih baik. Efisiensi chipset, optimasi sistem, kecerahan layar, dan pola pemakaian tetap menentukan hasil akhirnya.
Harga Xiaomi 18 Fold dan Posisi terhadap Samsung
Berikut harga Xiaomi 18 Fold yang tercantum dalam materi peluncuran untuk pasar China:
|
Varian |
Harga China |
Estimasi Rupiah |
|---|---|---|
|
12 GB / 256 GB |
10.999 yuan |
Sekitar Rp28,9 juta |
|
12 GB / 512 GB |
11.999 yuan |
Sekitar Rp31,5 juta |
|
16 GB / 512 GB |
12.999 yuan |
Sekitar Rp34,1 juta |
|
16 GB / 1 TB |
14.999 yuan |
Sekitar Rp39,4 juta |
Reuters juga mengonfirmasi rentang harga Xiaomi 18 Fold mulai 10.999 yuan hingga 14.999 yuan. Namun, harga tersebut merupakan harga pasar China dan bukan harga resmi Indonesia.
Sementara itu, Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra telah dipasarkan secara resmi di Indonesia. Samsung menempatkannya sebagai perangkat produktivitas premium dengan layar utama 8 inci, dukungan Multi Window, Samsung DeX, dan Galaxy AI.
Perbandingan harga langsung antara keduanya belum sepenuhnya sepadan karena Xiaomi 18 Fold yang dibahas di sini merupakan harga China, sedangkan Galaxy Z Fold8 Ultra memiliki harga dan distribusi resmi Indonesia. Ketersediaan global Xiaomi juga menjadi faktor penting sebelum perangkat tersebut dapat dianggap sebagai pesaing langsung di pasar Indonesia.
Xiaomi 18 Fold Menawarkan Alternatif, Bukan Sekadar Peniru
Kehadiran Xiaomi 18 Fold memperlihatkan bahwa desain foldable passport-style mulai menjadi salah satu arah penting dalam pengembangan ponsel lipat. Bentuk yang lebih lebar berpotensi membuat layar internal terasa lebih natural untuk membaca, mengedit dokumen, dan menjalankan beberapa aplikasi.
Namun, perangkat ini juga membawa kompromi yang perlu diperhatikan. Bobot 219 gram dan ketebalan 10,68 mm saat dilipat belum tentu terasa ringan bagi semua pengguna. Selain itu, harga China tidak otomatis mencerminkan harga ketika perangkat masuk ke pasar lain.
Galaxy Z Fold8 Ultra sendiri menawarkan layar lebih besar, bobot sedikit lebih ringan, serta pengalaman produktivitas yang terintegrasi dengan ekosistem Samsung. Di sisi lain, Xiaomi menarik perhatian melalui baterai lebih besar, pengisian daya lebih cepat, dan konfigurasi kamera telefoto yang lebih tinggi di atas kertas.
Pada akhirnya, Xiaomi 18 Fold bukan hanya penantang Galaxy Z Fold8 Ultra dari sisi spesifikasi. Perangkat ini memperlihatkan bahwa ponsel lipat premium sedang bergerak menuju pertanyaan yang lebih mendasar: apakah sebuah smartphone dapat memberikan pengalaman tablet tanpa mengorbankan kenyamanan saat dibawa dan digunakan setiap hari?



Komentar