Bisnis Lifestyle

Janji Jiwa Bawa Cita Rasa Jepang ke Toast lewat Kolaborasi Chef Ray Janson

Janji Jiwa Bawa Cita Rasa Jepang ke Toast lewat Kolaborasi Chef Ray Janson

Endoxa Asia – Kuliner Jepang di Indonesia semakin mudah ditemui dalam berbagai bentuk. Jika sebelumnya sushi, ramen, atau donburi identik dengan restoran khusus, kini karakter rasa Jepang juga mulai hadir dalam format makanan yang lebih dekat dengan keseharian.

Fenomena tersebut terlihat dari perkembangan pasar kuliner Jepang di Indonesia. Pada Februari 2026, Agriculture & Food Affairs Department Kedutaan Besar Jepang di Indonesia menyebut jumlah restoran Jepang di Indonesia telah mencapai sekitar 6.500 gerai, menjadikannya yang terbanyak di Asia Tenggara. Motoaki Komiya mengatakan angka tersebut menunjukkan meningkatnya ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap kuliner Jepang.

Di tengah pasar yang semakin familiar dengan cita rasa Jepang, eksplorasi tidak lagi harus berupa pembukaan restoran dengan konsep Jepang sepenuhnya. Salah satu pendekatan yang muncul adalah membawa elemen rasa tersebut ke dalam makanan yang sudah dikenal konsumen.

Pendekatan itu menjadi dasar kolaborasi terbaru Janji Jiwa bersama chef dan restaurateur Ray Janson melalui kampanye “A Twist of Japan”. Kolaborasi ini menghadirkan dua menu toast baru, yakni Goma Chicken Toast dan Menchi Beef Katsu Toast.

Ketika Kuliner Jepang Menjadi Bagian dari Makanan Sehari-hari

Pertumbuhan jumlah restoran Jepang memberikan gambaran mengenai kuatnya penerimaan kuliner Jepang di Indonesia. Namun, perkembangan tersebut juga menunjukkan bahwa konsumen kini memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengenal berbagai karakter rasa Jepang, dari makanan restoran hingga pilihan yang lebih kasual.

Sering Sesak Saat Aktivitas? Waspadai Hipertensi Paru yang Kerap Sulit Terdiagnosis

Hal tersebut sejalan dengan penelitian mengenai perilaku konsumen Gen Z dalam memilih Japanese food di Jakarta Selatan yang diterbitkan dalam Jurnal Sains Terapan Pariwisata pada 2025.

Penelitian tersebut menggunakan wawancara mendalam terhadap 20 responden Gen Z berusia 11 hingga 26 tahun yang tinggal atau beraktivitas di Jakarta Selatan. Sebanyak 45 persen responden mengaku mengonsumsi Japanese food satu hingga dua kali dalam sebulan, 35 persen tiga hingga empat kali, sementara 20 persen lainnya lebih dari empat kali dalam sebulan.

Dalam penelitian yang sama, cita rasa menjadi faktor paling dominan dalam keputusan responden ketika memilih Japanese food. Dari 20 responden, 18 menyebut rasa yang unik dan autentik sebagai alasan utama memilih makanan Jepang. Faktor lain yang dibahas mencakup harga, lokasi, rekomendasi media sosial, serta pengalaman visual dan emosional.

Temuan tersebut menarik jika ditempatkan dalam konteks perkembangan kuliner Jepang saat ini. Ketika konsumen sudah semakin familiar dengan rasa Jepang, batas antara “makanan Jepang” dan “makanan dengan inspirasi Jepang” menjadi lebih fleksibel.

Format makanan yang familiar dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kombinasi rasa tersebut kepada konsumen yang tidak selalu mencari pengalaman makan di restoran Jepang.

10 Rekomendasi C-Drama untuk Pemula, dari Romance hingga Revenge

Janji Jiwa Eksplorasi Japanese-Inspired Flavors

Melalui “A Twist of Japan”, Janji Jiwa memilih toast sebagai medium untuk membawa karakter Japanese-inspired flavors.

Janji Jiwa Bawa Cita Rasa Jepang ke Toast lewat Kolaborasi Chef Ray Janson

“Melalui A Twist of Japan, kami ingin melihat bagaimana karakter toast Janji Jiwa yang sudah familiar dapat dieksplorasi melalui perspektif dan inspirasi baru.” 

Kolaborasi tersebut melibatkan Ray Janson, chef dan restaurateur yang memiliki pengalaman profesional di sejumlah dapur internasional. Profil profesional Ray mencatat pengalaman di L’Atelier de Joël Robuchon St. Germain di Paris, Quay di Sydney, serta Noma dan Kadeau di Copenhagen. Ia juga merupakan lulusan Le Cordon Bleu Paris.

Di Indonesia, Ray dikenal melalui aktivitasnya sebagai chef, restaurateur, dan podcaster. Ia juga menjalankan aktivitas di bidang pengembangan bisnis kuliner dan menjadi host Ray Janson Radio yang membahas berbagai cerita serta figur di industri food and beverage.

Paper Menagerie #3 di ISA Art Gallery Hadirkan Dialog Memori dan Sejarah

Latar belakang tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam dua menu yang tidak mencoba menjadi hidangan Jepang konvensional.

Goma Chicken Toast memadukan roti panggang dengan ayam crispy bercita rasa pedas, kol segar, mayones creamy, saus wijen, serta bawang putih goreng. Sementara itu, Menchi Beef Katsu Toast menggunakan crispy beef menchi katsu, kol segar, mayones mustard creamy, dan saus bergaya Jepang dengan karakter manis dan gurih.

Keduanya mempertahankan bentuk toast yang sudah familiar, tetapi memasukkan elemen rasa dan teknik yang diasosiasikan dengan kuliner Jepang.

Bukan Sekadar Menambahkan Rasa Jepang

Hal yang menarik dari kolaborasi ini bukan hanya penggunaan bahan atau saus bergaya Jepang, melainkan bagaimana elemen tersebut ditempatkan dalam konteks makanan yang sudah dikenal.

Menchi katsu, misalnya, merupakan olahan daging cincang yang dibentuk dan dilapisi tepung sebelum digoreng. Dalam menu kolaborasi ini, karakter tersebut tidak disajikan sebagai hidangan Jepang tersendiri, tetapi ditempatkan di antara roti panggang bersama kol, saus, dan mayones.

Pendekatan serupa terlihat pada Goma Chicken Toast. Unsur wijen dan bawang putih goreng memberikan karakter rasa yang berbeda, sementara ayam crispy dan roti membuat keseluruhan sajian tetap berada dalam format yang mudah dikenali.

Dengan demikian, “A Twist of Japan” lebih tepat dibaca sebagai eksplorasi Japanese-inspired flavors daripada upaya menghadirkan menu Jepang tradisional.

Ini menjadi relevan ketika melihat bagaimana kuliner Jepang berkembang di Indonesia. Menurut data yang disampaikan Agriculture & Food Affairs Department Kedutaan Besar Jepang di Indonesia pada Februari 2026, jumlah restoran Jepang telah mencapai sekitar 6.500 gerai. “Di Indonesia, jumlah restoran Jepang pada tahun ini mencapai sekitar 6.500 gerai,” kata Motoaki Komiya.

Angka tersebut tentu tidak berarti seluruh konsumen Indonesia mengonsumsi makanan Jepang secara rutin. Namun, jumlah gerai menunjukkan bahwa kuliner Jepang telah memiliki ekosistem yang cukup besar di pasar Indonesia.

Dari Sushi dan Ramen ke Format yang Lebih Kasual

Perubahan format menjadi salah satu perkembangan yang menarik dalam perjalanan kuliner Jepang di Indonesia.

Sushi, ramen, udon, tempura, dan donburi tetap menjadi bagian penting dari kategori Japanese food. Namun, semakin luasnya penerimaan terhadap rasa Jepang memungkinkan elemen tertentu dari kuliner tersebut muncul dalam format yang berbeda.

Dalam konteks ini, makanan seperti toast dapat berfungsi sebagai titik temu antara rasa yang sedang dikenal konsumen dan format yang sudah menjadi bagian dari kebiasaan makan sehari-hari.

Hal tersebut juga berkaitan dengan temuan penelitian terhadap Gen Z di Jakarta Selatan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa selain rasa, harga, lokasi, rekomendasi media sosial, serta pengalaman visual dan emosional turut memengaruhi pilihan Japanese food.

Artinya, pengalaman menikmati makanan Jepang tidak selalu harus hadir melalui restoran dengan konsep yang spesifik. Bagi sebagian konsumen, rasa, kemudahan, harga, dan konteks konsumsi juga menjadi bagian dari pertimbangan.

Di titik inilah format toast menjadi relevan. Ia memungkinkan inspirasi kuliner Jepang hadir sebagai makanan yang dapat disantap dalam situasi yang lebih kasual.

Dua Menu yang Menjadi Eksperimen A Twist of Japan

Goma Chicken Toast menawarkan kombinasi ayam crispy dengan saus wijen, mayones creamy, kol, dan bawang putih goreng. Profil tersebut menggabungkan rasa gurih, pedas, creamy, dan aromatik dalam satu sajian.

Sementara Menchi Beef Katsu Toast menempatkan beef menchi katsu sebagai komponen utama. Daging sapi crispy tersebut dipadukan dengan kol, mayones mustard creamy, serta saus Japanese-style yang memberikan karakter manis dan gurih.

Keduanya memperlihatkan pendekatan yang sama: bukan mengubah toast menjadi hidangan Jepang sepenuhnya, tetapi menggunakan format toast sebagai dasar untuk bereksperimen dengan karakter rasa Jepang.

Bagi Janji Jiwa, pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari eksplorasi terhadap produk yang telah dikenal konsumennya. Sementara bagi Ray Janson, tantangannya terletak pada menjaga agar inspirasi Japanese food tetap terasa relevan tanpa membuat produknya menjadi terlalu asing bagi konsumen Indonesia.

Mengapa Tren Ini Menarik bagi Industri Kuliner

Perkembangan ini menunjukkan bahwa popularitas kuliner Jepang di Indonesia tidak hanya dapat dilihat dari jumlah restoran yang menyajikan makanan Jepang secara konvensional.

Ketika sebuah karakter rasa sudah cukup dikenal, peluang berikutnya dapat muncul melalui adaptasi. Rasa Jepang dapat dipadukan dengan format makanan lokal maupun internasional, selama hasil akhirnya tetap memiliki konteks yang mudah dipahami konsumen.

Bagi industri makanan dan minuman, strategi tersebut juga membuka ruang untuk melakukan eksperimen tanpa harus mengubah seluruh identitas produk. Konsumen tetap mendapatkan sesuatu yang familiar, tetapi dengan kombinasi rasa yang berbeda.

Dalam kasus “A Twist of Japan”, toast menjadi jembatan tersebut.

Kolaborasi Janji Jiwa dan Ray Janson pada akhirnya tidak hanya memperkenalkan dua menu baru. Ia juga mencerminkan fase lain dari perkembangan kuliner Jepang di Indonesia, ketika elemen Japanese food mulai bergerak semakin jauh dari format restoran khusus dan masuk ke kategori makanan sehari-hari.

Dengan sekitar 6.500 restoran Jepang yang disebut telah beroperasi di Indonesia pada 2026, pasar kuliner Jepang sudah memiliki basis yang besar. Tantangan berikutnya bukan semata-mata bagaimana memperkenalkan makanan Jepang, tetapi bagaimana terus menemukan bentuk baru agar karakter rasanya tetap relevan bagi konsumen yang semakin familiar dengannya.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *