Endoxa Asia – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan mengenai aktivitas spionase negaranya terhadap China dan Rusia. Dalam kampanye Partai Republik di Iowa, Trump mengakui bahwa kedua negara tersebut mengumpulkan informasi intelijen tentang Amerika Serikat. Namun, ia menegaskan Washington juga melakukan hal serupa dan mengklaim kemampuan AS lebih unggul.
Pernyataan itu disampaikan ketika Trump menghadiri kampanye menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections AS pada 3 November 2026. Isu tersebut kembali mendapat perhatian setelah dua warga negara China dijatuhi hukuman penjara di Amerika Serikat karena menjalankan aktivitas intelijen untuk pemerintah Beijing.
Meski demikian, pernyataan Trump tidak disertai rincian mengenai operasi intelijen yang sedang dijalankan Washington. Ia juga tidak mengungkap informasi spesifik yang dikumpulkan AS dari China maupun Rusia.
Trump Akui AS Memata-matai China dan Rusia
Dalam pidatonya di hadapan pendukung Partai Republik di Iowa pada Minggu, 1 November 2026 waktu setempat, Trump menanggapi kekhawatiran mengenai aktivitas spionase China dan Rusia terhadap Amerika Serikat.
Ia mengatakan bahwa Washington juga mengumpulkan informasi intelijen dari kedua negara tersebut. Trump bahkan menyebut AS melakukannya dengan lebih baik.
Pernyataan itu disampaikan untuk merespons komentar seseorang yang mengingatkan bahwa China dan Rusia melakukan aktivitas mata-mata terhadap Amerika. Trump mengakui hal tersebut, tetapi menegaskan bahwa Amerika Serikat juga menjalankan operasi serupa.
Ia tidak menjelaskan metode pengumpulan intelijen yang dimaksud, lembaga yang terlibat, ataupun informasi apa saja yang menjadi sasaran operasi tersebut.
Dengan demikian, pernyataan Trump lebih merupakan pengakuan umum mengenai aktivitas intelijen AS terhadap negara pesaingnya, bukan pengumuman mengenai operasi spionase baru.
Dua Warga China Dihukum karena Menjalankan Operasi Intelijen
Pernyataan Trump muncul tidak lama setelah Departemen Kehakiman AS mengumumkan hukuman terhadap dua warga negara China, Liren “Ryan” Lai dan Yuance Chen, pada 30 Oktober 2026.
Keduanya masing-masing dijatuhi hukuman 30 bulan penjara dan tiga tahun masa pengawasan setelah menjalankan aktivitas sebagai agen pemerintah China tanpa pemberitahuan kepada Jaksa Agung AS.
Berdasarkan dokumen pengadilan yang disampaikan Departemen Kehakiman, Lai dan Chen bekerja atas arahan Kementerian Keamanan Negara China atau Ministry of State Security (MSS), lembaga intelijen sipil utama negara tersebut.
Aktivitas mereka setidaknya telah berlangsung sejak Mei 2021. Keduanya terlibat dalam pengumpulan informasi mengenai personel dan instalasi militer Amerika Serikat, termasuk lingkungan Angkatan Laut AS.
Gunakan Metode Dead Drop untuk Pertukaran Uang
Salah satu aktivitas yang diungkap dalam dokumen pengadilan adalah penggunaan metode dead drop. Cara ini memungkinkan dua pihak bertukar uang atau informasi tanpa harus bertemu secara langsung.
Pada Januari 2022, Lai dan Chen membantu mengatur penyerahan uang sekitar US$10.000 melalui sebuah tas ransel yang ditinggalkan di loker fasilitas rekreasi di Livermore, California.
Selain itu, Chen mengumpulkan foto instalasi Angkatan Laut AS di Bremerton, Washington. Ia juga mengambil foto dan video personel militer serta calon anggota Angkatan Laut di sebuah pusat perekrutan di California Selatan.
Chen turut mengumpulkan informasi pribadi seorang pegawai Angkatan Laut AS dan menyimpan data biografis personel militer yang berpotensi menjadi sasaran perekrutan intelijen.
Departemen Kehakiman menyebut Lai dan Chen juga berupaya membantu perekrutan sumber informasi dari kalangan militer AS. Keduanya ditangkap FBI pada 27 Juni 2025 sebelum akhirnya mengakui kesalahan dan menerima hukuman pada Oktober 2026.
Persaingan Intelijen AS-China-Rusia Tidak Hanya di Bidang Militer
Aktivitas intelijen antara negara-negara besar tidak terbatas pada pengumpulan informasi mengenai kekuatan militer. Teknologi, industri strategis, keamanan siber, dan kepentingan ekonomi juga menjadi bagian dari persaingan intelijen internasional.
Laporan penilaian ancaman tahunan komunitas intelijen AS yang dirilis pada Maret 2026 menyebut China dan Rusia sebagai dua negara yang terus mengembangkan kemampuan siber untuk menembus jaringan pemerintah maupun sektor swasta Amerika Serikat.
Laporan tersebut juga menyoroti upaya China dalam memperkuat kemampuan militer dan teknologi, termasuk kecerdasan buatan. Sementara itu, Rusia dinilai masih memiliki kemampuan untuk menantang kepentingan AS melalui berbagai cara, baik militer maupun nonmiliter.
Dalam perkembangan lain, laporan The Washington Post pada 21 Oktober 2026 menyebut Pentagon tengah merancang program operasi intelijen dengan penyamaran mendalam untuk menghadapi China, terutama dalam persaingan ekonomi dan teknologi. Namun, Pentagon membantah bahwa inisiatif tersebut sedang dijalankan.
Konteks ini memperlihatkan bahwa persaingan intelijen antara Washington, Beijing, dan Moskow berlangsung dalam berbagai ranah. Meski Trump mengklaim AS memiliki kemampuan lebih baik, pernyataannya tidak disertai data pembanding yang dapat mengukur keunggulan tersebut.
Pernyataan Trump Muncul Menjelang Midterm Elections
Pernyataan mengenai spionase itu disampaikan ketika Trump sedang menggalang dukungan bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu AS pada 3 November 2026.
Pemilu tersebut menentukan komposisi baru Kongres, termasuk seluruh kursi Dewan Perwakilan Rakyat dan sebagian kursi Senat. Hasilnya akan memengaruhi peta kekuatan politik serta kemampuan pemerintahan Trump menjalankan agenda legislatif.
Dalam pidatonya, Trump juga membahas isu keamanan nasional dan kebijakan luar negeri. Pernyataan mengenai China dan Rusia menjadi salah satu bagian dari upayanya menyampaikan pesan tentang kemampuan Amerika Serikat menghadapi negara pesaing.
Namun, klaim bahwa AS lebih unggul dalam aktivitas spionase tetap merupakan pernyataan Trump. Tanpa informasi operasional dan data pembanding yang dapat diverifikasi, kemampuan intelijen ketiga negara tersebut tidak bisa disimpulkan hanya dari pernyataan kampanye.
Pernyataan tersebut kembali memperlihatkan pentingnya intelijen dalam hubungan antara negara-negara besar. Di tengah persaingan geopolitik, pengumpulan informasi menjadi bagian dari upaya masing-masing negara memahami kemampuan, kebijakan, dan kepentingan pihak lain.




Komentar