Endoxa Asia – Saham PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS), perusahaan media dan hiburan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, mengalami tekanan sejak melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Juli 2026. Pada 29 Oktober 2026, CNBC Indonesia melaporkan harga saham RANS berada di level Rp117 per saham, sekitar 31% di bawah harga penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) sebesar Rp170 per saham.
Penurunan tersebut terjadi setelah saham RANS sempat mencapai Rp272 per saham pada 15 Juli 2026. Pergerakan harga ini menjadi perhatian karena berlangsung dalam beberapa bulan pertama setelah perusahaan mencatatkan sahamnya di bursa.
Di tengah pelemahan harga saham, laporan keuangan semester I-2026 menunjukkan kondisi yang beragam: pendapatan perusahaan turun, tetapi laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk justru meningkat.
Saham RANS Jauh di Bawah Harga IPO
RANS resmi mencatatkan sahamnya di BEI pada 10 Juli 2026 dengan harga IPO Rp170 per saham. Melalui penawaran perdana tersebut, perusahaan melepas sekitar 2,52 miliar saham baru dan menghimpun dana sekitar Rp429,25 miliar.
Namun, harga sahamnya kemudian bergerak turun dari level tertinggi Rp272 per saham yang tercatat pada 15 Juli 2026. Pada perdagangan 28 Oktober, saham RANS menyentuh auto rejection bawah (ARB) di level Rp116 per saham, turun 6,45% dari harga pembukaan Rp124.
Sehari setelahnya, CNBC Indonesia melaporkan harga saham RANS berada di Rp117 per saham. Dengan membandingkan harga tersebut terhadap harga IPO Rp170, saham RANS telah terkoreksi sekitar 31,2%.
Perlu dicatat bahwa harga saham dapat berubah selama perdagangan. Angka Rp117 tersebut merujuk pada laporan CNBC Indonesia pada 29 Oktober 2026, bukan harga yang berlaku secara permanen.
Pendapatan Semester I-2026 Turun, Laba Bersih Naik
Laporan keuangan RANS untuk semester I-2026 memperlihatkan pergerakan yang berbeda antara pendapatan dan laba bersih.
Pendapatan perusahaan tercatat Rp149 miliar, turun 13,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terjadi pada dua lini bisnis utama, yakni segmen hiburan dan gaya hidup serta penjualan produk.
Segmen hiburan dan gaya hidup mengalami penurunan pendapatan sebesar 10,1%. Sementara itu, penjualan produk yang mencakup makanan, minuman, dan kecantikan turun lebih dalam, yakni 20,4%.
Meski pendapatan melemah, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk justru meningkat 12,5% menjadi Rp25,6 miliar. Data ini menunjukkan bahwa penurunan pendapatan tidak serta-merta berarti laba bersih perusahaan ikut turun pada periode yang sama.
Segmen hiburan dan gaya hidup masih menjadi kontributor terbesar pendapatan RANS, dengan porsi sekitar 71% dari total pendapatan pada semester I-2026.
Kapitalisasi Pasar Ikut Menyusut
Pelemahan harga saham juga berdampak pada nilai pasar perusahaan. IDNFinancials melaporkan kapitalisasi pasar RANS mencapai sekitar Rp1,49 triliun berdasarkan harga transaksi terakhir Rp118 per saham pada perdagangan 28 Oktober 2026.
Nilai tersebut jauh di bawah kapitalisasi pasar sekitar Rp3,4 triliun yang pernah dicapai saat harga saham berada di puncaknya. Perbandingan ini memperlihatkan perubahan valuasi pasar RANS sejak awal pencatatan sahamnya.
Di sisi lain, data transaksi broker menunjukkan adanya aktivitas beli dan jual bersih yang berbeda di antara perusahaan sekuritas selama periode 28 September hingga 27 Oktober 2026. Data tersebut menggambarkan aktivitas perdagangan, tetapi tidak cukup untuk memastikan satu penyebab tunggal di balik penurunan harga saham.
Perjalanan RANS sebagai Emiten Baru
RANS menjalankan bisnis di bidang media, hiburan, pengelolaan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP), penyelenggaraan acara, serta sejumlah usaha pendukung. Perusahaan ini mengembangkan model bisnis yang menghubungkan berbagai lini usaha dalam satu ekosistem hiburan.
Dana IPO sebesar Rp429,25 miliar menjadi bagian dari langkah perusahaan untuk mendukung kebutuhan bisnisnya. Berdasarkan informasi prospektus yang diberitakan saat IPO, penggunaan dana antara lain mencakup pelunasan utang, kebutuhan operasional terkait konser, pembangunan wahana edukatif Cipungland, dan akuisisi saham perusahaan di bidang kosmetika.
Meski demikian, pergerakan saham di pasar sekunder tidak hanya ditentukan oleh rencana ekspansi. Investor juga mempertimbangkan perkembangan kinerja keuangan, prospek bisnis, valuasi, serta kondisi pasar secara keseluruhan.
Penurunan saham RANS ke kisaran Rp117 memperlihatkan jarak yang cukup besar antara harga perdagangan saat ini dan harga IPO. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada dinamika pasar serta kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan dan kinerja keuangannya.




Komentar