Endoxa Asia – Flávio Bolsonaro, senator Brasil sekaligus putra mantan presiden Jair Bolsonaro, dilaporkan telah meninggalkan Brasil menuju Amerika Serikat setelah kalah dalam pemilihan presiden pada 25 Oktober 2026. Kepergiannya menjadi sorotan karena terjadi setelah Mahkamah Agung Brasil memerintahkannya menyerahkan paspor dalam tenggat 24 jam, di tengah penyelidikan pidana yang masih berjalan.
Reuters melaporkan pada 27 Oktober bahwa Flávio telah berangkat ke Amerika Serikat berdasarkan keterangan sejumlah sumber. Namun, keberadaan dan rute perjalanannya belum sepenuhnya terkonfirmasi secara resmi. Sebelumnya, laporan mengenai kemungkinan ia melintasi perbatasan ke Argentina juga dibantah oleh otoritas imigrasi Argentina, yang menyatakan tidak memiliki catatan masuk atas namanya.
Kepolisian Federal Brasil kemudian membatalkan paspor biasa dan diplomatik Flávio setelah ia tidak menyerahkan dokumen sesuai perintah pengadilan. Perkembangan ini menambah ketidakpastian mengenai langkah politik dan hukum yang akan diambilnya setelah pemilu.
Tekanan hukum setelah pemilu
Perintah penyerahan paspor dikeluarkan oleh hakim Mahkamah Agung Brasil Alexandre de Moraes. Menurut laporan The Guardian, langkah itu berkaitan dengan penyelidikan dugaan pencucian uang yang melibatkan perusahaan taruhan daring. Flávio membantah melakukan pelanggaran.
Ia juga menghadapi penyelidikan terpisah terkait dugaan pendanaan untuk film mengenai ayahnya, Jair Bolsonaro. Pendanaan tersebut dikaitkan dengan Daniel Vorcaro, seorang bankir yang terseret dalam skandal Banco Master. Kedua perkara itu masih berupa penyelidikan dan tidak boleh diperlakukan sebagai bukti bahwa Flávio telah dinyatakan bersalah.
Sebelum kabar kepergiannya mencuat, Flávio sempat menyatakan melalui video media sosial bahwa ia tidak pernah berniat meninggalkan Brasil dan akan menyerahkan paspornya untuk menghadapi proses hukum. Namun, ia tidak muncul untuk memenuhi tenggat yang ditetapkan pengadilan. Kepolisian Federal Brasil kemudian membatalkan dua paspor Brasil miliknya.
Otoritas Argentina juga memeriksa laporan mengenai sebuah pesawat pribadi di Puerto Iguazú, kota dekat perbatasan Brasil dan Paraguay. Menurut Reuters dan laporan media Argentina, pemeriksaan tersebut tidak menemukan rencana penerbangan yang mencantumkan keluarga Bolsonaro. Pemerintah Argentina menyatakan tidak memiliki catatan resmi bahwa Flávio memasuki negara itu.
Amerika Serikat disebut akan menerbitkan visa
Di tengah ketidakjelasan rute perjalanannya, pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah AS berencana menerbitkan visa bagi Flávio dan keluarganya. Pernyataan tersebut belum menjelaskan secara pasti kapan visa akan diterbitkan maupun kapan mereka akan tiba di AS.
Hubungan keluarga Bolsonaro dengan pemerintahan Presiden Donald Trump telah menjadi bagian dari dinamika politik Brasil-AS. Trump sebelumnya menerima Flávio di Gedung Putih pada Mei 2026 dan menyampaikan pujian kepadanya. Sementara itu, Eduardo Bolsonaro, adik Flávio, telah tinggal di Amerika Serikat dan sebelumnya melobi pemerintah Trump terkait proses hukum yang menimpa ayah mereka.
Perkembangan ini berpotensi memperumit hubungan Washington dan Brasília, terutama karena Presiden Luiz Inácio Lula da Silva sebelumnya mengkritik dukungan politik AS terhadap keluarga Bolsonaro. Namun, dampak diplomatik selanjutnya masih bergantung pada tindakan resmi kedua pemerintah.
Nasib politik keluarga Bolsonaro
Kekalahan Flávio dalam pemilu juga menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan gerakan politik yang dibangun ayahnya. Lula memenangkan pemilihan presiden pada 25 Oktober 2026, sementara Flávio belum mengakui kekalahannya secara tegas ketika laporan mengenai keberangkatannya muncul.
Jair Bolsonaro sendiri sedang menjalani hukuman 27 tahun penjara atas keterlibatannya dalam upaya menggagalkan hasil pemilu 2022. Ia kini berada dalam tahanan rumah. Eduardo Bolsonaro, putra lainnya, juga menghadapi persoalan hukum di Brasil setelah aktivitas lobinya di Amerika Serikat terkait perkara sang ayah.
Sejumlah pengamat yang dikutip The Guardian menilai keadaan tersebut dapat memicu perebutan pengaruh di kalangan kanan Brasil. Nama Michelle Bolsonaro, istri Jair, serta sejumlah anggota keluarga lain disebut sebagai figur yang mungkin memainkan peran dalam perkembangan politik berikutnya.
Meski demikian, belum dapat dipastikan apakah kepergian Flávio akan mengakhiri atau justru mengubah bentuk keterlibatan politiknya. Hal yang lebih mendesak adalah memastikan keberadaannya, status perjalanan lintas negara, dan perkembangan penyelidikan yang masih berjalan.
Kasus ini mempertemukan tiga persoalan sekaligus: kekalahan dalam pemilihan presiden, kewajiban mematuhi perintah pengadilan, dan masa depan keluarga yang selama bertahun-tahun menjadi pusat politik sayap kanan Brasil. Hingga laporan pada 27 Oktober 2026, keberangkatan Flávio ke Amerika Serikat diberitakan oleh sejumlah media berdasarkan keterangan sumber, tetapi rincian rute dan keberadaannya belum dijelaskan secara lengkap oleh otoritas terkait.




Komentar