Lifestyle Travel

4 Bar Baru di Singapura yang Mengubah Minum Jadi Pengalaman

4 Bar Baru di Singapura yang Mengubah Minum Jadi Pengalaman

Endoxa Asia – Singapura kembali memperlihatkan bagaimana bar bisa menjadi lebih dari sekadar tempat minum. Sejumlah venue baru yang muncul sepanjang 2026 menggabungkan cocktail dengan literatur, sejarah, ruang kreatif hingga imajinasi perjalanan, menawarkan pengalaman yang terasa lebih seperti memasuki sebuah cerita daripada sekadar duduk di meja bar.

Fenomena ini terlihat dari empat tempat yang disorot The Straits Times, yakni The Dead Poets Society Bar, Bar Kap, One Trick Pony, dan The Singapore Martini Club. Masing-masing membawa konsep yang berbeda, tetapi memiliki pendekatan serupa: menjadikan identitas tempat sebagai bagian penting dari pengalaman pengunjung.

China Targetkan Matahari Buatan BEST Rampung 2027, Listrik Fusi Diuji pada 2030

The Dead Poets Society Bar Membawa Sastra Singapura ke Dalam Gelas

The Dead Poets Society Bar Membawa Sastra Singapura ke Dalam Gelas

The Dead Poets Society Bar Membawa Sastra Singapura ke Dalam Gelas

 

Terletak di lantai 60 UOB Plaza, The Dead Poets Society Bar awalnya mengambil inspirasi dari film Amerika 1989 dengan judul yang sama. Namun, konsepnya kemudian berkembang dengan memasukkan karya para penyair dan penulis Singapura ke dalam menu cocktail.

Menu yang diluncurkan pada September 2026 menampilkan nama-nama seperti Cyril Wong dan karya sastra lokal. Salah satu minumannya, Comfortably Numb, terinspirasi dari Little Ironies: Stories Of Singapore, kumpulan cerita pendek Catherine Lim yang pertama kali terbit pada 1978.

Ada pula Drift, highball yang mengambil inspirasi dari puisi Boats karya Wong. Minuman tersebut memadukan umeshu dan kaffir lime, dua rasa yang menurut M.X. Yang, salah satu pengelola bar, terasa seperti tidak seharusnya dipertemukan.

Konsepnya memang dibuat sebagai cara lain untuk mengenalkan Singapura.

“A lot of tourists come here and want to understand Singapore. So why not let this menu be their guide?” kata Yang.

F1 Singapore 2026 Meluas Jadi Festival Lifestyle di Singapura

Dengan harga S$23 untuk seluruh minuman, bar ini mencoba membuat literatur lokal terasa lebih dekat melalui pengalaman gastronomi. Bukan sekadar membaca tentang Singapura, pengunjung diajak mengenalnya lewat rasa, cerita, dan pemandangan kota dari ketinggian.

Bar Kap Menghidupkan Sejarah Mansion Teochew

Bar Kap Menghidupkan Sejarah Mansion Teochew

Bar Kap Menghidupkan Sejarah Mansion Teochew

Jika The Dead Poets Society Bar menggunakan sastra sebagai pintu masuk, Bar Kap memilih sejarah arsitektur.

Bar ini berada di House of Tan Yeok Nee, bangunan yang dibangun antara 1882 dan 1885 dan menjadi satu-satunya yang masih bertahan dari empat mansion besar milik pengusaha Teochew di Singapura. Bangunan tersebut resmi berstatus National Monument sejak 1974.

Bar Kap dibuka pada Mei 2026 dan menjadikan berbagai fase kehidupan bangunan tersebut sebagai dasar menu cocktail. Program minumannya dibagi ke dalam beberapa era, termasuk Kapitan Era yang merujuk pada Tan Yeok Nee, Station Master Era yang berkaitan dengan periode bangunan tersebut digunakan oleh kepala stasiun kereta, Order Era saat menjadi St Mary’s Home and School, serta Dynasty Era untuk fase masa kini.

Pendekatan tersebut membuat sejarah bangunan tidak berhenti sebagai dekorasi.

House of Tan Yeok Nee sendiri memiliki sejarah yang panjang. Setelah menjadi rumah Tan Yeok Nee, bangunan tersebut pernah digunakan sebagai kediaman station master, sekolah dan rumah bagi anak perempuan Eurasia, hingga markas Salvation Army.

Bar Kap kemudian menggunakan sejarah berlapis itu sebagai bahan untuk membentuk pengalaman kontemporer. Situs resminya juga menjelaskan bahwa cocktail mereka mengambil inspirasi dari berbagai era bangunan, sementara program clay-aged cocktails memperkenalkan teknik pematangan minuman menggunakan wadah tanah liat.

Xi Jinping Optimistis Ekonomi China, Tapi Stimulus Tetap Digeber

Pendekatan ini memperlihatkan salah satu tren menarik dalam hospitality Singapura: bangunan heritage tidak selalu dipertahankan sebagai objek yang hanya dilihat, tetapi dapat diberi fungsi baru selama karakter dan sejarahnya tetap menjadi bagian dari pengalaman.

One Trick Pony Menawarkan Bar untuk Para Pekerja Kreatif

One Trick Pony Menawarkan Bar untuk Para Pekerja Kreatif

One Trick Pony Menawarkan Bar untuk Para Pekerja Kreatif

Konsep One Trick Pony bergerak ke arah yang lebih kontemporer.

Berlokasi di Club Street, tempat ini menggabungkan co-working space, restoran, bar, test kitchen dan media studio dalam satu venue. Pada siang hari, ruang tersebut berfungsi sebagai tempat kerja bagi para kreator. Setelah sore, suasananya berubah menjadi bar dan restoran.

Targetnya juga cukup spesifik, tetapi tidak eksklusif. One Trick Pony menyebut dirinya sebagai “third space” bagi kreator yang sedang membangun karier atau mengeksplorasi minat di luar pekerjaan utama.

Konsep tersebut terlihat dalam program yang pernah digelar, termasuk Admin Nights. Pengunjung diajak menyelesaikan pekerjaan administratif yang biasanya terasa membosankan, seperti mengirim invoice, memperbarui kalender atau mengerjakan spreadsheet, tetapi dilakukan bersama-sama dalam suasana sosial.

“Flexibility is like a big aspect of what we do,” kata Jake Camacho, marketing and communications director One Trick Pony. Menurutnya, jika sebuah ruang ingin mendukung kreator yang sedang berpindah jalur karier, mereka tidak seharusnya terikat dalam komitmen jangka panjang.

Keunikan lainnya terdapat pada cocktail. Semua minuman disajikan on tap dan tersedia dalam versi non-alkohol secara default. Pengunjung kemudian dapat menambahkan alkohol sesuai keinginan. Situs resmi One Trick Pony juga menempatkan venue tersebut sebagai ruang tiga lantai dengan area co-working, test kitchen dan media studio.

Dengan demikian, fungsi bar diperluas dari tempat konsumsi menjadi ruang komunitas.

The Singapore Martini Club Mengubah Cocktail Menjadi Perjalanan

The Singapore Martini Club Mengubah Cocktail Menjadi Perjalanan

The Singapore Martini Club Mengubah Cocktail Menjadi Perjalanan

Konsep paling teatrikal mungkin datang dari The Singapore Martini Club di Orchard Rendezvous Hotel.

Interior bar tersebut dibuat menyerupai gerbong kereta mewah era Belle Époque, lengkap dengan nuansa perjalanan kereta jarak jauh. Namun, perjalanan yang ditawarkan tidak membutuhkan tiket kereta. Pengunjung cukup memilih cocktail dari menu yang berisi lebih dari 50 variasi martini.

Menu tersebut dibagi berdasarkan “station” atau pemberhentian perjalanan. Pilihannya bergerak dari martini yang lebih segar menuju kategori savory, tea-infused, fruity dan herbal, sebelum berakhir pada interpretasi klasik yang lebih kering.

Pendekatan tersebut berasal dari keinginan pemilik Dario Knox untuk mengeksplorasi martini secara lebih luas.

“Kami ingin membangun tempat yang mencakup semuanya,” kata Knox, menjelaskan keinginannya untuk menghadirkan berbagai ekspresi martini dalam satu tempat.

CNA mencatat bar tersebut resmi hadir di Orchard pada Juli 2026, dengan konsep yang memadukan lebih dari 50 martini dan atmosfer perjalanan kereta mewah.

Di sini, tema bukan sekadar dekorasi. Menu, tata ruang dan cara pengunjung bergerak di dalam venue semuanya diarahkan untuk menciptakan sensasi perjalanan.

Ketika Bar Tidak Lagi Hanya Menjual Cocktail

Bar Kap’s food and drinks are inspired by the building’s history. ST PHOTO: GIN TAY

Bar Kap’s food and drinks are inspired by the building’s history. 

Empat venue tersebut memperlihatkan arah yang menarik dalam perkembangan scene bar Singapura. Kompetisinya tidak semata berada pada siapa yang memiliki cocktail paling kompleks atau daftar minuman paling panjang, tetapi pada cerita apa yang bisa ditawarkan kepada pengunjung

The Dead Poets Society Bar menjadikan literatur lokal sebagai pengalaman rasa. Bar Kap menggunakan sejarah sebuah National Monument sebagai fondasi konsepnya. One Trick Pony membangun komunitas untuk pekerja kreatif. Sementara The Singapore Martini Club mengubah aktivitas minum cocktail menjadi simulasi perjalanan melalui tema kereta dan lebih dari 50 variasi martini.

Tren ini juga sejalan dengan semakin kuatnya pendekatan experiential dalam hospitality. Konsumen tidak hanya mencari makanan atau minuman, tetapi alasan untuk datang, berinteraksi, dan mengingat sebuah tempat.

Bagi Singapura, pendekatan tersebut memiliki keuntungan lain. Sejarah, sastra, desain dan budaya lokal dapat masuk ke dalam pengalaman wisata tanpa harus selalu dikemas sebagai tur atau museum.

Bar akhirnya menjadi medium lain untuk mengenalkan sebuah kota.

Dan mungkin itu yang membuat empat venue ini menarik. Mereka tidak meminta pengunjung memilih antara menikmati minuman atau mempelajari sebuah cerita. Keduanya dibuat hadir dalam pengalaman yang sama.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *