Endoxa Asia – Presiden China Xi Jinping mengatakan perekonomian negaranya tetap tangguh meski menghadapi tekanan. Pernyataan tersebut disampaikan ketika Beijing sedang berupaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan mengejar target pertumbuhan 2026 sebesar 4,5% hingga 5%.
Dalam resepsi memperingati 77 tahun berdirinya Republik Rakyat China pada Rabu (30/9/2026), Xi mengatakan ekonomi China terus berkembang meskipun menghadapi tekanan.
“Perekonomian negara kita terus berkembang meskipun menghadapi tekanan,” kata Xi, seperti dikutip Bloomberg.
Xi juga menyerukan agar pemerintah dan masyarakat tetap mendorong kemajuan sambil menjaga stabilitas. Ia menekankan pentingnya menjalankan Rencana Lima Tahun ke-15 dengan baik sejak tahap awal.
Pernyataan tersebut muncul ketika sejumlah indikator ekonomi China mulai menunjukkan tanda perbaikan, tetapi pemerintah masih mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menopang pertumbuhan.
Manufaktur China mulai kembali tumbuh
Salah satu sinyal positif datang dari sektor manufaktur.
Data resmi China menunjukkan PMI manufaktur naik menjadi 50,1 pada September dari 49,8 pada Agustus. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi. Kenaikan tersebut sekaligus mengakhiri dua bulan kontraksi.
Survei swasta RatingDog bahkan menunjukkan pemulihan yang lebih kuat. PMI manufaktur naik dari 51,5 pada Agustus menjadi 52,1 pada September, menjadi level tertinggi dalam lima bulan. Peningkatan tersebut didorong antara lain oleh membaiknya permintaan domestik dan luar negeri.
Sektor jasa juga menunjukkan perkembangan positif. RatingDog Services PMI meningkat menjadi 51,6 pada September dari 51,4 pada Agustus, menandai ekspansi yang lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski demikian, perbaikan aktivitas industri belum berarti seluruh perekonomian China telah pulih sepenuhnya. Data PMI resmi masih menunjukkan sejumlah komponen yang lemah, termasuk ketenagakerjaan. Tekanan pada permintaan domestik dan sektor properti juga masih menjadi perhatian.
Beijing kembali mengandalkan stimulus
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah China mengumumkan serangkaian kebijakan baru untuk mendukung perekonomian.
Kebijakan yang diumumkan pada akhir September mencakup penurunan suku bunga fasilitas pledged supplementary lending atau PSL sebesar 25 basis poin menjadi 1,5%. Ruang penggunaan fasilitas tersebut juga diperluas untuk mendukung proyek seperti infrastruktur air, jaringan listrik, dan teknologi.
Beijing juga menambah pendanaan untuk sejumlah sektor. Fasilitas pembiayaan ulang untuk sektor teknologi dan sains ditambah 200 miliar yuan, sementara dukungan untuk pertanian dan usaha kecil serta perusahaan swasta juga diperluas.
Sektor properti mendapat perhatian khusus. Pemerintah memperkenalkan subsidi bunga untuk KPR komersial baru bagi pembeli rumah pertama. Kebijakan tersebut memberikan subsidi bunga tahunan sebesar 1% untuk pinjaman hingga 1 juta yuan selama lima tahun, dengan sejumlah persyaratan terkait luas dan harga rumah.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya mengandalkan ekspor dan manufaktur untuk menjaga pertumbuhan, tetapi juga mencoba menopang permintaan domestik dan pasar properti.
Target pertumbuhan 4,5% hingga 5% masih menjadi perhatian
China menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5% hingga 5% pada 2026.
Tekanan untuk mencapai target tersebut meningkat setelah laju pertumbuhan pada kuartal sebelumnya berada di bawah kisaran target tahunan tersebut. Karena itu, kebijakan stimulus menjadi bagian penting dari upaya Beijing menjaga momentum hingga akhir tahun.
Data manufaktur September memberikan sinyal yang lebih positif. Reuters melaporkan bahwa pemerintah China masih berusaha menyeimbangkan lemahnya permintaan domestik dengan kinerja ekspor yang relatif kuat.
Sektor teknologi juga menjadi salah satu penopang aktivitas industri. Permintaan global yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau AI ikut mendukung ekspor dan manufaktur China.
Namun, perbaikan manufaktur belum otomatis menghapus persoalan struktural yang dihadapi ekonomi China. Konsumsi domestik yang hati-hati dan tekanan sektor properti masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Hubungan dengan Amerika Serikat ikut menjadi faktor
Perkembangan ekonomi China juga berlangsung di tengah hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat yang masih menjadi perhatian pasar global.
Dalam pertemuan tingkat tinggi di Washington, Xi dan Presiden AS Donald Trump kembali menyepakati kerangka untuk mengelola persaingan kedua negara. Berdasarkan laporan Bloomberg yang menjadi sumber awal, kedua pihak sepakat memperpanjang gencatan tarif hingga Januari serta menurunkan tarif terhadap sejumlah barang senilai US$60 miliar yang tidak masuk kategori sensitif.
Kedua negara juga membentuk mekanisme komunikasi untuk membahas risiko yang berkaitan dengan kecerdasan buatan.
Perkembangan tersebut dapat mengurangi sebagian tekanan perdagangan dalam jangka pendek, meski hubungan ekonomi dan teknologi China-AS masih memiliki banyak isu yang perlu dikelola.
Reuters juga mencatat bahwa pemulihan manufaktur China terjadi ketika permintaan eksternal dan ekspor tetap menjadi salah satu penopang ekonomi.
China memasuki fase penting menuju akhir 2026
Pernyataan Xi tentang ketahanan ekonomi China datang bersamaan dengan serangkaian data yang memberikan gambaran beragam.
Di satu sisi, manufaktur kembali berada di zona ekspansi dan survei swasta menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat. Sektor jasa juga terus berkembang. Di sisi lain, pemerintah masih perlu memberikan dukungan tambahan untuk properti, investasi, usaha kecil, dan sektor strategis.
Karena itu, perkembangan ekonomi China pada kuartal terakhir 2026 akan sangat bergantung pada apakah perbaikan aktivitas industri dapat meluas menjadi peningkatan permintaan domestik dan investasi.
Bagi pasar global, termasuk negara-negara yang memiliki hubungan dagang erat dengan China, perkembangan tersebut penting karena perubahan permintaan dari ekonomi terbesar kedua dunia dapat memengaruhi perdagangan, komoditas, manufaktur, dan rantai pasok regional.
Untuk saat ini, pesan Xi cukup jelas: Beijing tetap mempertahankan target pertumbuhan dan menilai ekonomi China memiliki daya tahan. Namun, berbagai stimulus yang dikeluarkan pada saat yang sama menunjukkan bahwa pemerintah masih aktif mencari cara untuk memastikan pemulihan tersebut bertahan hingga akhir tahun.



Komentar