Endoxa Asia – Thailand kembali mengembangkan teknologi bedah jantung dengan memanfaatkan robot untuk membantu operasi bypass pembuluh darah koroner. Rumah Sakit Rajavithi di Bangkok berhasil melakukan prosedur bypass jantung minimal invasif dengan penyambungan beberapa pembuluh darah sekaligus. Pencapaian ini disebut sebagai yang pertama di lingkungan rumah sakit milik Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand.
Teknik tersebut memungkinkan dokter melakukan operasi melalui sayatan sekitar 4–5 sentimeter, tanpa perlu membelah tulang dada seperti pada operasi jantung terbuka konvensional. Menurut Departemen Layanan Medis Thailand, pendekatan ini ditujukan untuk mengurangi rasa sakit dan membantu pasien menjalani pemulihan lebih cepat.
Informasi mengenai pencapaian tersebut diumumkan Departemen Layanan Medis Thailand pada 30 Oktober 2026. Prosedur yang digunakan dikenal sebagai Robotic Internal Mammary Artery Harvest with Total Coronary Revascularization via Anterior Thoracotomy (Robotic IMA Harvest + TCRAT).
Operasi Bypass Jantung dengan Bantuan Robot
Operasi bypass jantung atau coronary artery bypass grafting (CABG) dilakukan untuk membantu mengalirkan darah melewati pembuluh koroner yang mengalami penyempitan atau penyumbatan. Dokter menggunakan pembuluh darah lain sebagai jalur alternatif agar suplai darah ke otot jantung tetap terjaga.
Dalam prosedur di Rajavithi Hospital, teknologi robot membantu proses pengambilan arteri mamaria interna atau internal mammary artery yang digunakan sebagai cangkok pembuluh darah. Tim bedah kemudian melakukan revaskularisasi koroner melalui pendekatan sayatan di bagian depan dada.
Keunggulan yang disorot rumah sakit adalah kemampuan melakukan penyambungan beberapa pembuluh darah tanpa harus membuka tulang dada. Departemen Layanan Medis Thailand menyebut prosedur tersebut telah berhasil dilakukan hingga empat pembuluh darah dalam satu operasi.
Sayatan Lebih Kecil dan Masa Rawat Lebih Singkat
Perbedaan utama dengan operasi jantung terbuka konvensional terletak pada ukuran sayatan. Prosedur konvensional yang membuka tulang dada dapat membutuhkan sayatan sekitar 20–25 sentimeter. Sementara itu, teknik robotik minimal invasif yang dikembangkan Rajavithi Hospital menggunakan sayatan sekitar 4–5 sentimeter.
Menurut keterangan rumah sakit, pendekatan ini berpotensi mengurangi rasa sakit setelah operasi dan risiko komplikasi tertentu. Pasien disebut dapat pulang paling cepat tiga hari setelah prosedur, dengan rata-rata masa rawat inap sekitar empat hingga lima hari.
Sebagai perbandingan, masa pemulihan di rumah sakit setelah operasi konvensional disebut berkisar lima hingga tujuh hari. Namun, lama rawat inap tetap bergantung pada kondisi fisik dan kebutuhan perawatan masing-masing pasien.
Manfaat tersebut tidak berarti semua pasien penyakit jantung otomatis dapat menjalani operasi dengan metode robotik. Pemilihan teknik operasi tetap perlu mempertimbangkan kondisi pembuluh darah, tingkat keparahan penyakit, serta penilaian tim medis.
Rajavithi Hospital Telah Melakukan Lebih dari 1.600 Operasi Robotik
Keberhasilan operasi bypass ini merupakan bagian dari pengembangan teknologi bedah robotik yang telah dilakukan Rajavithi Hospital. Departemen Layanan Medis Thailand menyebut rumah sakit tersebut telah menangani lebih dari 1.600 pasien menggunakan bantuan robot untuk berbagai jenis prosedur.
Pemanfaatannya mencakup sejumlah bidang, antara lain urologi, bedah kepala dan leher, bedah umum, ginekologi, serta bedah jantung dan dada.
Pencapaian operasi bypass multivessel ini juga melanjutkan program operasi jantung dan dada berbantuan robot yang sebelumnya dikembangkan rumah sakit. Pengembangan tersebut melibatkan kolaborasi dokter bedah jantung dan dada serta tenaga medis dari berbagai disiplin.
Untuk memperluas akses terhadap teknologi tersebut, Yayasan Rumah Sakit Rajavithi turut memberikan dukungan pembiayaan operasi robotik. Dukungan ini ditujukan untuk mengurangi hambatan biaya agar lebih banyak pasien Thailand dapat memperoleh akses terhadap teknologi pengobatan tingkat lanjut.
Teknologi Robotik dan Tantangan Akses Layanan Kesehatan
Perkembangan operasi jantung robotik memperlihatkan bagaimana teknologi bedah minimal invasif mulai menjadi bagian dari pengembangan layanan kesehatan di Thailand. Selain mengejar ketepatan prosedur, pemanfaatan teknologi ini juga berkaitan dengan upaya mengurangi beban pemulihan pasien dan meningkatkan kapasitas rumah sakit.
Meski demikian, ketersediaan perangkat robot saja tidak cukup. Prosedur kompleks seperti operasi bypass jantung membutuhkan dokter dengan keahlian khusus, tim pendukung terlatih, fasilitas yang memadai, serta proses evaluasi pasien yang ketat.
Bagi Thailand, tantangan berikutnya adalah memperluas akses terhadap layanan tersebut tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan keterjangkauan biaya. Keberhasilan Rajavithi Hospital menjadi salah satu perkembangan dalam upaya itu, sekaligus menunjukkan bagaimana teknologi robotik dapat memperluas pilihan prosedur bagi pasien dengan penyakit jantung.




Komentar