
Key Insights
• Tokoh Silicon Valley menggelontorkan jutaan dolar untuk menentang kandidat pro regulasi AI
• RAISE Act New York menjadi salah satu model awal regulasi AI tingkat negara bagian
• Pertarungan ini mencerminkan meningkatnya pengaruh politik dalam masa depan regulasi AI
Di tengah meningkatnya perdebatan tentang regulasi kecerdasan buatan, Silicon Valley kini menghadapi konflik internal yang tidak biasa. Sejumlah tokoh teknologi dan investor besar menggelontorkan jutaan dolar untuk menghentikan kampanye seorang mantan insinyur teknologi yang justru ingin mengatur industri tempat ia pernah bekerja.
Alex Bores, anggota New York Assembly sekaligus mantan engineer Palantir, maju dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk kursi Kongres. Namun pencalonannya segera menarik perhatian Silicon Valley, bukan karena ia anti teknologi, melainkan karena ia mendorong regulasi AI yang lebih kuat dan berbasis keselamatan.
Super PAC bernama Leading the Future, yang didukung oleh tokoh industri teknologi termasuk Greg Brockman dari OpenAI, Joe Lonsdale dari Palantir, serta firma investasi Andreessen Horowitz, dilaporkan menghabiskan jutaan dolar untuk menggagalkan kampanye Bores. Dana tersebut digunakan untuk iklan, surat kampanye, dan pesan digital yang menargetkan pemilih di distrik tersebut.
Situasi ini mencerminkan dinamika baru dalam politik teknologi. Selama bertahun tahun, Silicon Valley cenderung menghindari keterlibatan langsung dalam politik regulasi. Namun dengan AI yang semakin berpengaruh terhadap ekonomi dan keamanan nasional, perusahaan teknologi kini semakin aktif membentuk arah kebijakan.
Bores memposisikan dirinya sebagai regulator yang memahami teknologi dari dalam. Ia ikut mensponsori RAISE Act di New York pada 2025, yang mengharuskan perusahaan AI terbesar untuk mempublikasikan rencana keselamatan, melaporkan insiden besar, serta tunduk pada pengawasan negara bagian. Rancangan kebijakan ini dianggap sebagai salah satu upaya regulasi AI paling konkret di tingkat negara bagian Amerika Serikat.
Pendukung industri teknologi berargumen bahwa regulasi terlalu ketat dapat menghambat inovasi dan melemahkan daya saing Amerika Serikat, terutama dalam persaingan dengan China. Namun Bores menilai bahwa keselamatan dan inovasi tidak harus saling bertentangan. Ia juga mendorong pendekatan regulasi yang mencakup dampak tenaga kerja, perlindungan data, kontrol ekspor teknologi, serta perlindungan anak dari risiko AI.
Latar belakang Bores di industri teknologi turut membentuk posisinya. Ia sebelumnya bekerja di Palantir, tetapi mengundurkan diri karena keberatan terhadap kontrak perusahaan tersebut dengan ICE selama pemerintahan Trump. Setelah keluar, Bores terlibat dalam startup yang berfokus pada teknologi untuk kepentingan publik, memperkuat reputasinya sebagai advokat teknologi yang bertanggung jawab.
Menurut Bores, salah satu masalah utama dalam regulasi AI adalah rendahnya literasi teknologi di kalangan pembuat kebijakan. Banyak legislator harus membuat keputusan tentang sistem AI tanpa memahami bagaimana teknologi tersebut bekerja atau risiko yang ditimbulkannya. Hal ini menciptakan celah yang memungkinkan perusahaan teknologi mempengaruhi kebijakan secara signifikan.
Menariknya, kampanye negatif terhadap Bores justru meningkatkan perhatian publik terhadap isu AI. Serangan dari super PAC membuat diskusi tentang regulasi AI menjadi bagian dari kampanye politik, sesuatu yang sebelumnya jarang terjadi. Perlombaan politik ini kini dianggap sebagai indikator awal bagaimana kebijakan AI akan diperdebatkan di tingkat nasional.
Selain regulasi AI, Bores juga mendukung interoperabilitas platform melalui Digital Choice Act, serta peningkatan keamanan siber dalam alat pengembang. Proposal tersebut menunjukkan pendekatan yang lebih luas terhadap regulasi teknologi, tidak hanya fokus pada AI tetapi juga ekosistem digital secara keseluruhan.
Kasus ini menggambarkan perubahan besar dalam hubungan antara teknologi dan politik. Jika sebelumnya perusahaan teknologi berfokus pada inovasi produk, kini mereka juga aktif membentuk aturan yang mengatur industri mereka sendiri. Dengan AI yang semakin berperan dalam ekonomi dan keamanan global, regulasi teknologi menjadi arena politik yang semakin penting.
Pertarungan ini juga mencerminkan tren baru, di mana regulasi AI tidak hanya muncul di tingkat federal, tetapi juga di tingkat negara bagian seperti New York. Pendekatan ini dapat menciptakan model kebijakan yang kemudian diadopsi secara nasional atau bahkan global.
Dalam beberapa tahun ke depan, konflik antara inovasi dan regulasi kemungkinan akan semakin intens. Perlombaan ini bukan hanya tentang siapa yang membangun AI paling canggih, tetapi juga siapa yang menentukan aturan penggunaannya. Dan dalam pertarungan tersebut, politik, teknologi, dan modal ventura kini bertemu dalam satu medan baru.



