
Key Insights
- S-26 menghadirkan pengalaman edukatif interaktif dengan teknologi EEG pertama yang dapat diakses konsumen di Indonesia dalam rangka World Brain Day 2026.
- Program ini menyoroti pentingnya kombinasi nutrisi, stimulasi, dan pengalaman belajar beragam pada masa emas perkembangan otak anak.
- Edukasi tentang perkembangan otak semakin menjadi perhatian seiring meningkatnya kesadaran orang tua terhadap investasi jangka panjang bagi tumbuh kembang anak.
Setelah mendapat respons positif di Surabaya sebulan sebelumnya, program ini kembali digelar dengan menghadirkan teknologi electroencephalogram (EEG) yang diklaim sebagai pengalaman pertama bagi konsumen di Indonesia untuk melihat visualisasi aktivitas otak secara langsung.
Melalui teknologi S-26 Exceptional Brain Visualizer yang dikembangkan bersama MyndPlay UK, pengunjung dapat menyaksikan visualisasi real-time dari sejumlah fungsi otak, mulai dari fokus, memori, kreativitas, hingga kemampuan memecahkan masalah. Pengalaman tersebut dilengkapi berbagai aktivitas interaktif seperti Logic Lab, Vision Pod, Neuron Express, dan Neuron Dance yang dirancang untuk mengajak keluarga memahami proses belajar anak dengan cara yang lebih menarik.

Inisiatif ini sejalan dengan kampanye “Semua Bisa Jadi Hebat” yang menekankan bahwa setiap anak memiliki jalur perkembangan yang berbeda. Menurut Category Marketing Manager Wyeth Nutrition S-26 Vera Niki Gozali, orang tua perlu memberikan pengalaman belajar yang beragam agar anak mampu menghubungkan berbagai pengalaman menjadi wawasan baru dan lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Fokus utama edukasi yang diangkat adalah pentingnya lima tahun pertama kehidupan, ketika koneksi antarsel saraf di otak berkembang sangat cepat. Pada periode tersebut, proses mielinisasi, yaitu pembentukan lapisan mielin yang membantu penghantaran sinyal antarsel saraf menjadi lebih efisien, berperan penting dalam mendukung kemampuan belajar anak.
Dokter spesialis anak dr. Yoga Yandika, Sp.A., menjelaskan bahwa proses tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh stimulasi, tetapi juga memerlukan dukungan nutrisi sebagai bagian dari pola makan seimbang. Ia menyebut kombinasi zat gizi seperti sphingomyelin, fosfolipid, alfa-laktalbumin, AA, DHA, kolin, dan zat besi dapat membantu mendukung proses mielinisasi apabila disertai lingkungan yang positif dan pengalaman belajar yang beragam.

Kesadaran terhadap pentingnya perkembangan otak sejak usia dini juga mencerminkan perubahan pola pikir banyak orang tua. Perhatian kini tidak hanya tertuju pada pencapaian akademik, tetapi juga pada bagaimana anak memperoleh pengalaman, membangun kreativitas, kemampuan berpikir kritis, hingga keterampilan sosial yang akan menjadi bekal di masa depan.
Sebagai contoh, pasangan Budi Fung dan Marlene membagikan pengalaman mendampingi putra mereka, Ashton Alexander Fung, untuk mengeksplorasi berbagai minat, mulai dari olahraga hingga pemrograman. Ashton kini mengembangkan proyek AI Agent for Education yang menggabungkan kemampuan coding dan matematika, sekaligus telah meraih berbagai prestasi internasional di bidang olimpiade matematika.
Selain menghadirkan pengalaman langsung di lokasi acara, S-26 juga memperluas edukasi melalui platform digital S-26 ParentTeam, yang menyediakan informasi mengenai nutrisi, perkembangan otak, stimulasi belajar, hingga panduan pengasuhan yang telah divalidasi para ahli. Upaya ini menunjukkan bahwa edukasi mengenai tumbuh kembang anak semakin bergeser dari sekadar informasi produk menuju pendekatan yang lebih komprehensif, dengan menempatkan orang tua sebagai bagian penting dalam mendukung potensi setiap anak.



