
Key Insights
- Tur dunia kedua BABYMONSTER berkembang signifikan, dari tur perdana menjadi rangkaian konser di lima benua dengan 18 kota dan 29 pertunjukan.
- Konser di Seoul menegaskan salah satu identitas utama grup, yakni kemampuan vokal live yang menjadi pembeda di tengah industri K-pop yang sangat mengandalkan aspek visual.
- Keterlibatan anggota dalam proses kreatif konser menunjukkan upaya membangun identitas artistik yang lebih matang seiring ekspansi mereka ke pasar global.
BABYMONSTER menutup rangkaian konser di Seoul pada Minggu (29/6) sekaligus membuka babak baru tur dunia kedua mereka, “CHOOM”. Dibanding tur perdana “HELLO MONSTERS” tahun lalu, skala kali ini tumbuh jauh lebih besar. Sejauh ini, 18 kota dan 29 pertunjukan telah diumumkan, mencakup lima benua dan menandai kunjungan perdana grup tersebut ke Oseania, Eropa, dan Amerika Selatan.
Malam terakhir di Seoul berlangsung dengan intensitas yang nyaris tidak memberi jeda. Konser dibuka dengan single terbaru “SUGAR HONEY ICE TEA”, disusul “WE GO UP”, “CHOOM”, “BATTER UP”, dan “DRIP”. Enam anggota yang tampil, yakni Ruka, Pharita, Asa, Ahyeon, Rora, dan Chiquita, membawakan lagu-lagu tersebut dengan mikrofon genggam dan vokal yang terekspos sepenuhnya. Rami tidak hadir karena tengah menjalani masa istirahat akibat alasan kesehatan.

Setelah deretan lagu pembuka yang bertenaga, suasana perlahan mencair. Para anggota mulai berinteraksi dengan penonton, tersenyum, dan mengubah arena konser yang semula terasa intens menjadi lebih hangat.
“Since this is the last day, let’s play even harder than we did the first two nights,” ujar Rora kepada penonton.
Ia juga menjelaskan bahwa album terbaru mereka membawa ambisi untuk menjadikan dunia sebagai satu lantai dansa yang besar.
Momentum konser terus terjaga melalui medley “MOON”, “CLIK CLAK”, “SHEESH”, dan “PSYCHO”. Namun, bagian yang paling mencuri perhatian justru hadir saat segmen solo.

Alih-alih membawakan lagu-lagu populer secara persis seperti versi aslinya, masing-masing anggota mencoba memberi sentuhan personal. Rora kembali menyanyikan “Havana” milik Camila Cabello, lagu yang pernah ia bawakan saat masih menjadi trainee. Asa menghadirkan nuansa Jepang dalam “Temple” karya Baauer. Pharita membawa energi ringan ke “Super Bass”, sementara Chiquita tampil percaya diri melalui “Worth It”. Ruka memilih “RATATA” dengan pendekatan rap yang agresif, sebelum Ahyeon menutup segmen tersebut lewat “Problem” milik Ariana Grande.
Konser kemudian bergeser ke sisi yang lebih emosional melalui “Stuck In The Middle”, “Love, Maybe”, dan “DREAM”, sebelum kembali dipacu oleh lagu-lagu seperti “LOCKED IN”, “Really Like You”, “BILLIONAIRE”, “FOREVER”, “WILD”, “HOT SAUCE”, hingga kembali ke “SUGAR HONEY ICE TEA” dan “I LIKE IT”.

Sekitar 17 bulan sejak tur dunia pertama mereka, para anggota disebut ikut terlibat dalam berbagai aspek kreatif konser, mulai dari pemilihan lagu hingga penyusunan panggung. Keterlibatan itu terasa dalam pertunjukan yang tidak hanya berorientasi pada visual, tetapi juga memberi ruang bagi tiap anggota untuk menunjukkan karakter masing-masing.
Di sisi lain, pengalaman panjang YG Entertainment dalam memproduksi konser juga terlihat jelas. Iringan live band, tata cahaya, laser, dan efek panggung yang presisi menghadirkan skala pertunjukan besar tanpa sepenuhnya menutupi performa para personelnya.
Tur “CHOOM” masih akan berlanjut dengan pengumuman kota-kota tambahan di berbagai belahan dunia. Bagi BABYMONSTER, perjalanan ini tampaknya bukan sekadar ekspansi geografis. Ini juga menjadi ujian berikutnya: seberapa jauh identitas mereka sebagai grup yang mengandalkan performa live dapat diterjemahkan dan diterima di panggung global yang semakin kompetitif.



