Endoxa Asia – NVIDIA disebut berencana menanamkan investasi sekitar US$4,5 miliar atau Rp80,3 triliun di Batam, Kepulauan Riau. Rencana tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Antara Business Forum 2026 pada Rabu, 23 September 2026.
Menurut Airlangga, investasi itu akan diarahkan ke kawasan ekonomi khusus (KEK) yang disiapkan pemerintah di Batam dan berkaitan dengan pengembangan pusat data serta ekosistem semikonduktor.
“Kemarin Nvidia sudah berbicara di Batam, di kawasan ekonomi khusus yang kita siapkan itu mereka rencana mau investasi US$4,5 miliar,” kata Airlangga, seperti dikutip Bloomberg Technoz.
Namun, angka tersebut perlu ditempatkan dalam konteks perkembangan proyek AI yang sebelumnya telah diumumkan di Batam. Pada Juni 2026, Firmus Technologies, perusahaan infrastruktur AI asal Australia, mengumumkan kemitraan dengan NVIDIA dan DayOne untuk membangun kampus NVIDIA DSX AI Factory berkapasitas 360 megawatt di Batam.
Batam Sudah Disiapkan sebagai Hub Infrastruktur AI
Proyek yang diumumkan Firmus pada Juni tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2027. Fasilitas itu diproyeksikan menggunakan hingga 170.000 chip akselerator NVIDIA secara bertahap sepanjang 2027-2028. Firmus menyebut kemitraan komputasi dengan NVIDIA tersebut akan berjalan hingga 2034.
BP Batam juga mengonfirmasi rencana tersebut. Menurut lembaga tersebut, proyek 360 MW itu menjadi bagian dari upaya membangun infrastruktur AI di Batam dan memperkuat posisi kota tersebut sebagai hub digital regional.
Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra mengatakan masuknya Firmus bersama NVIDIA dan DayOne menunjukkan kesiapan Batam untuk menjadi lokasi infrastruktur AI berskala besar.
“Kehadiran Firmus Technologies bersama Nvidia dan DayOne di Batam menegaskan bahwa kawasan ini siap bertransformasi menjadi pusat infrastruktur kecerdasan buatan berskala global,” kata Li Claudia dalam keterangan BP Batam.
Dengan demikian, perkembangan terbaru mengenai rencana investasi US$4,5 miliar datang di tengah proyek AI yang memang sudah memiliki bentuk konkret di Batam, meski kedua informasi tersebut tidak otomatis berarti angka US$4,5 miliar merupakan nilai proyek Firmus-NVIDIA yang diumumkan pada Juni.
Mengapa Batam Menjadi Pilihan?
Menurut Airlangga, Indonesia memiliki sejumlah faktor yang mendukung pengembangan pusat data, mulai dari ketersediaan lahan, listrik, energi hijau, hingga air.
Pemerintah melihat kebutuhan pusat data akan terus meningkat seiring pertumbuhan kecerdasan buatan. Airlangga menyebut kapasitas pusat data Indonesia saat ini sekitar 800 MW dan berpotensi meningkat menjadi 1,3 GW berdasarkan proyek yang telah masuk dalam pipeline.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan infrastruktur komputasi tidak lagi hanya berkaitan dengan penyimpanan data konvensional. Perkembangan AI membutuhkan kapasitas komputasi yang jauh lebih besar, terutama untuk menjalankan pusat data dengan akselerator dan GPU dalam jumlah besar.
Proyek Firmus di Batam sendiri dirancang dengan kapasitas 360 MW. Jika terealisasi sesuai rencana, fasilitas tersebut akan menjadi salah satu proyek infrastruktur AI berkapasitas besar di kawasan Asia Tenggara.
Dari Pusat Data hingga Ekosistem Semikonduktor
Airlangga tidak hanya mengaitkan rencana investasi NVIDIA dengan pusat data. Ia juga menempatkan pengembangan data center dan semikonduktor sebagai bagian penting dari strategi ekonomi digital Indonesia.
Menurutnya, ekonomi digital Indonesia saat ini memiliki potensi pasar sekitar US$180 miliar dan diproyeksikan mencapai sekitar US$400 miliar pada 2030. Pemerintah melihat sektor digital sebagai salah satu sumber pertumbuhan yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap perdagangan dan kondisi geopolitik global.
Arah tersebut juga sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memperkuat industri semikonduktor. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sebelumnya menyatakan bahwa pemerintah sedang mengembangkan tata kelola perdagangan strategis sekaligus mendorong pengembangan kembali industri semikonduktor di Indonesia.
Artinya, proyek pusat data menjadi salah satu bagian dari rantai yang lebih besar. Infrastruktur komputasi membutuhkan chip, energi, konektivitas, lahan, sistem pendinginan, dan berbagai layanan pendukung lainnya.
Nilai Investasi Besar Belum Sama dengan Investasi yang Sudah Terealisasi
Meski angka US$4,5 miliar atau sekitar Rp80 triliun menarik perhatian, statusnya saat ini masih merupakan rencana investasi yang disampaikan pemerintah.
Pernyataan Airlangga menyebut NVIDIA “rencana mau investasi” di KEK Batam. Sementara pengumuman resmi Firmus pada Juni menjelaskan kemitraan dengan NVIDIA untuk membangun fasilitas 360 MW, tetapi tidak menyebut nilai investasi US$4,5 miliar untuk proyek Batam tersebut.
Perbedaan ini penting karena nilai komitmen, nilai proyek, dan realisasi investasi merupakan tiga hal yang berbeda. Sebuah rencana investasi baru dapat dinilai dari dampak ekonominya setelah proyek masuk tahap pembangunan dan operasional.
BP Batam sendiri mencatat bahwa ekonomi Batam tumbuh 7,28 persen secara tahunan pada kuartal II 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau sebesar 6,99 persen dan nasional sebesar 5,29 persen. Lembaga tersebut juga menempatkan data center dan industri digital sebagai sektor yang terus didorong.
Tantangan Berikutnya Ada pada Realisasi Infrastruktur
Besarnya rencana investasi pusat data membawa konsekuensi terhadap kebutuhan infrastruktur. Pusat data AI membutuhkan pasokan listrik yang stabil, konektivitas berkapasitas tinggi, serta sumber daya air dan sistem pendinginan yang memadai.
Hal ini menjadi relevan bagi Batam karena pengembangan pusat data berlangsung bersamaan dengan kebutuhan infrastruktur dasar kota. Pada September 2026, BP Batam misalnya masih melakukan pemantauan terhadap kondisi Waduk Nongsa dan mengatur pengambilan air baku untuk menjaga cadangan air di tengah kondisi minim hujan.
Karena itu, perkembangan industri AI di Batam bukan hanya persoalan nilai investasi. Kapasitas listrik, air, jaringan, lahan, dan kesiapan tenaga kerja juga akan menentukan seberapa jauh rencana tersebut dapat berkembang menjadi ekosistem teknologi yang berkelanjutan.
Untuk saat ini, yang sudah terkonfirmasi adalah adanya kemitraan Firmus Technologies, NVIDIA, dan DayOne untuk fasilitas AI 360 MW serta pernyataan terbaru Airlangga mengenai rencana investasi NVIDIA senilai US$4,5 miliar. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada realisasi proyek dan rincian investasi yang diumumkan secara resmi oleh perusahaan maupun pemerintah.



Komentar