Endoxa Asia – Film Pengkhianatan G30S/PKI masih menjadi salah satu rujukan populer untuk memahami peristiwa 1965. Di tengah munculnya berbagai film dengan perspektif berbeda, literasi film menjadi penting agar penonton memahami perbedaan antara rekonstruksi sinematik dan dokumentasi sejarah.
Setiap akhir September, perdebatan mengenai film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI atau yang lebih sering disebut Pengkhianatan G30S/PKI kembali muncul. Film produksi 1984 tersebut masih beredar dan menjadi bagian dari percakapan publik mengenai peristiwa 1965.
Riset yang diterbitkan pada 2020 menunjukkan bahwa jejak film tersebut tidak berhenti setelah berakhirnya Orde Baru. Penelitian terhadap video-video YouTube mengenai peristiwa 1965 menemukan setidaknya 39 video dengan topik tersebut yang telah ditonton lebih dari 300.000 kali. Lebih dari dua pertiganya memperkuat narasi yang terdapat dalam film Pengkhianatan G30S/PKI, termasuk melalui unggahan ulang atau penyuntingan dari materi film.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya apakah film itu masih ditonton, tetapi juga bagaimana sebuah karya fiksi sejarah dapat membentuk cara masyarakat membayangkan sebuah peristiwa masa lalu.
Film yang Lahir dari Narasi Sejarah Orde Baru
Pengkhianatan G30S/PKI disutradarai dan ditulis oleh Arifin C. Noer dan diproduksi pada awal 1980-an. Film tersebut dirilis pada 1984 dengan durasi sekitar 271 menit dan dibuat berdasarkan versi sejarah resmi pemerintah Orde Baru mengenai Gerakan 30 September 1965. Kajian akademik menempatkan film tersebut sebagai dokudrama yang memiliki peran penting dalam pembentukan ingatan publik mengenai peristiwa tersebut.
Dalam konteks produksi film sejarah, hal tersebut penting untuk dipahami karena Pengkhianatan G30S/PKI bukan rekaman langsung peristiwa 1965. Film menggunakan aktor untuk memerankan tokoh sejarah dan membangun kembali lokasi serta rangkaian peristiwa melalui bahasa sinema.
Dengan kata lain, apa yang dilihat penonton merupakan hasil dari proses interpretasi dan rekonstruksi.
Kajian mengenai film tersebut juga menunjukkan bahwa produksinya berkaitan erat dengan narasi resmi Orde Baru. Film itu kemudian digunakan secara luas dalam konteks pendidikan dan penyebaran narasi negara mengenai peristiwa 1965. Michael G. Vann dari California State University, Sacramento, misalnya, menempatkan film tersebut sebagai bagian dari kampanye yang membentuk pengetahuan konvensional masyarakat Indonesia mengenai peristiwa 1965.
Karena pernah ditonton secara luas selama bertahun-tahun, pengaruhnya tidak berhenti pada generasi yang hidup pada masa Orde Baru.
Mengapa Narasinya Masih Bertahan?
Salah satu alasan yang ditemukan dalam riset adalah minimnya film lain yang merekonstruksi rangkaian peristiwa September hingga Oktober 1965 secara kronologis dengan skala yang sama.
Akibatnya, bagi sebagian penonton, Pengkhianatan G30S/PKI dapat menjadi referensi visual utama ketika mereka ingin mengetahui seperti apa peristiwa tersebut berlangsung.
Popularitasnya juga diperkuat oleh sejarah penayangannya. Pada masa Orde Baru, film tersebut ditayangkan secara rutin setiap tahun di televisi dan juga diputar dalam berbagai lingkungan pendidikan. Kajian mengenai sejarah film tersebut mencatat bahwa penggunaannya secara berulang membantu menjadikan versi yang ditampilkan film sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat.
Ketika potongan-potongan film kemudian kembali beredar di YouTube dan media sosial, konteks produksinya dapat dengan mudah terlepas. Adegan yang awalnya merupakan bagian dari sebuah film sejarah dapat dikonsumsi ulang sebagai potongan video tanpa penjelasan mengenai kapan film dibuat, siapa pembuatnya, atau perspektif sejarah apa yang digunakan.
Di titik inilah literasi film menjadi relevan.
Film Sejarah Tidak Sama dengan Rekaman Sejarah
Literasi film membantu penonton memahami bahwa film tentang masa lalu tetap merupakan karya yang dibuat melalui keputusan kreatif.
Dalam film sejarah, pembuat menentukan adegan mana yang ditampilkan, bagaimana karakter digambarkan, dialog apa yang digunakan, bagaimana sebuah konflik dibangun, dan dari sudut pandang siapa cerita disampaikan.
Pengkhianatan G30S/PKI menggunakan aktor, set, tata rias, musik, sinematografi, dan penyuntingan untuk membangun kembali peristiwa masa lalu. Beberapa bagian film juga menggunakan materi arsip, tetapi keberadaan rekaman tersebut tidak mengubah keseluruhan karya menjadi dokumentasi langsung atas seluruh peristiwa yang diceritakan.
Karena itu, penonton perlu membedakan antara peristiwa sejarah, interpretasi sejarah, dan representasi sinematik atas sejarah.
Perbedaan tersebut menjadi semakin penting ketika film digunakan sebagai sumber tunggal untuk memahami peristiwa yang kompleks dan masih menjadi objek penelitian serta perdebatan sejarah.
Film Alternatif Membawa Perspektif yang Berbeda
Setelah Reformasi, sejumlah sineas menghasilkan karya yang melihat peristiwa 1965 dari perspektif berbeda.
Riset yang menjadi dasar artikel ini mengidentifikasi puluhan film alternatif, baik dokumenter maupun fiksi. Sebagian menampilkan kesaksian penyintas, pengalaman orang-orang yang terlibat dalam kekerasan, proses rekonsiliasi, maupun dampak peristiwa 1965 terhadap kehidupan individu dan keluarga.
Beberapa karya kemudian dikenal lebih luas, seperti Jagal (The Act of Killing) dan Senyap (The Look of Silence) karya Joshua Oppenheimer.
Berbeda dari Pengkhianatan G30S/PKI, sejumlah dokumenter tersebut menggunakan kesaksian dan pengalaman orang yang berkaitan langsung dengan peristiwa 1965 sebagai bagian penting dari penceritaannya.
Namun, jangkauan film-film alternatif tersebut tidak selalu sama. Riset yang dikutip dalam sumber awal mencatat bahwa banyak film alternatif hanya beredar melalui festival, sementara sebagian lainnya tersedia di YouTube dengan jumlah penonton yang relatif lebih kecil.
Perbedaan distribusi tersebut ikut memengaruhi seberapa sering sebuah perspektif hadir dalam ingatan publik.
Yang Tidak Ditampilkan Juga Perlu Dibaca
Literasi film bukan hanya soal mencari apakah setiap adegan dalam sebuah film benar atau salah.
Penonton juga dapat bertanya: siapa yang menjadi pusat cerita, siapa yang berbicara, siapa yang tidak memiliki ruang untuk berbicara, dan dalam konteks apa film tersebut dibuat?
Pertanyaan tersebut membantu melihat sebuah film sebagai produk budaya yang memiliki konteks sosial dan politik.
Dalam Pengkhianatan G30S/PKI, misalnya, cerita terutama dibangun dari perspektif yang menempatkan gerakan 30 September dan komunisme sebagai ancaman. Sisi pengalaman korban dan kelompok yang dituduh atau dikaitkan dengan PKI tidak menjadi fokus utama film tersebut.
Sementara itu, karya-karya yang muncul setelah Reformasi menghadirkan pengalaman dan perspektif lain mengenai dampak kekerasan 1965-1966.
Tidak berarti satu film secara otomatis dapat menggantikan film lainnya. Justru dengan melihat berbagai karya secara berdampingan, penonton dapat memahami bahwa representasi sejarah memiliki perspektif dan konteks masing-masing.
Mengapa Literasi Film Penting di Era YouTube?
Jika dahulu sebuah film ditonton dalam konteks penayangan televisi atau bioskop, kini adegan yang sama dapat dipotong menjadi video berdurasi beberapa menit dan beredar kembali di media sosial.
Potongan tersebut dapat ditonton tanpa informasi mengenai tahun produksi, tujuan pembuatan, sumber cerita, maupun konteks politik ketika film dibuat.
Riset tentang peredaran konten G30S di YouTube menunjukkan bagaimana narasi dari film lama dapat kembali memperoleh kehidupan baru melalui platform digital. Lebih dari dua pertiga dari 39 video yang diteliti memperkuat narasi film tersebut, sementara sejumlah video merupakan hasil unggah ulang atau penyuntingan materi film.
Artinya, literasi film tidak hanya dibutuhkan ketika seseorang duduk menonton film berdurasi panjang. Kemampuan membaca konteks sebuah gambar, adegan, atau potongan video juga semakin penting ketika sejarah dikonsumsi melalui media sosial.
Membaca Sejarah Lewat Lebih dari Satu Lensa
Popularitas Pengkhianatan G30S/PKI menunjukkan betapa kuatnya hubungan antara film dan ingatan kolektif.
Film tersebut merupakan bagian penting dari sejarah perfilman Indonesia sekaligus produk budaya yang lahir dalam konteks politik Orde Baru. Pengaruhnya bertahan hingga era Reformasi dan terus muncul dalam ruang digital.
Karena itu, tantangannya bukan sekadar menentukan apakah film tersebut harus ditonton atau tidak. Yang lebih penting adalah bagaimana penonton memahami apa yang sedang mereka tonton.
Film sejarah dapat menjadi pintu masuk untuk mempelajari masa lalu, tetapi tidak selalu dapat berdiri sebagai satu-satunya sumber untuk memahami sejarah. Membandingkan film dengan dokumentasi sejarah, penelitian akademik, kesaksian, dan karya dari perspektif berbeda dapat memberikan gambaran yang lebih luas.
Pada akhirnya, literasi film memungkinkan penonton menikmati sebuah karya sekaligus mempertanyakan cara karya tersebut membentuk cerita tentang masa lalu. Dengan kemampuan tersebut, film tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga dapat menjadi bahan untuk memahami bagaimana ingatan sejarah dibentuk, dipertahankan, dan diperdebatkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.



Komentar