Daerah News

Kasus Keracunan MBG Batang, Gibran Dorong Evaluasi Keamanan Pangan

Kasus Keracunan MBG Batang, Gibran Dorong Evaluasi Keamanan Pangan

Endoxa Asia – Kasus dugaan keracunan setelah konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mendorong pemerintah mengevaluasi pelaksanaan program, terutama dari sisi keamanan pangan.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Senin, 28 September 2026, bertolak ke Batang untuk memastikan penanganan korban berjalan optimal. Ia juga meminta proses investigasi diselesaikan dan hasilnya disampaikan secara transparan kepada publik.

Rapor CELIOS Dua Tahun Prabowo-Gibran, Purbaya Teratas dan Bahlil di Posisi Terbawah

Kasus tersebut menjadi perhatian karena jumlah penerima yang mengalami gangguan kesehatan terus bertambah. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Batang per Jumat, 25 September 2026 pukul 13.00 WIB, tercatat 521 orang telah mendapat penanganan medis. Sebanyak 173 orang dirujuk, 326 orang menjalani rawat jalan, sementara 23 orang masih menjalani rawat inap di Puskesmas Bawang.

Gibran Minta Keamanan Pangan Dievaluasi

Dalam keterangannya pada Senin, Gibran menekankan bahwa evaluasi tidak hanya berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi penerima manfaat. Pemeriksaan perlu mencakup seluruh rangkaian pelaksanaan MBG, mulai dari higiene, waktu pengolahan, penyimpanan, distribusi, hingga pengawasan di lapangan.

“Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, standar keamanan pangan harus dipastikan, dan setiap temuan harus segera diperbaiki,” kata Gibran, seperti dikutip Kompas.com.

Menurutnya, investigasi mengenai penyebab kejadian di Batang masih berlangsung. Karena itu, pemerintah perlu memastikan hasil pemeriksaan disampaikan secara terbuka setelah prosesnya selesai.

“Penyebab kejadian masih dalam proses pemeriksaan. Tetapi investigasi harus segera dituntaskan dan penyampaian hasil investigasi harus secara transparan, sehingga dapat menjadi pembelajaran bersama,” ujar Gibran.

Kunjungan Gibran juga diarahkan pada penanganan korban. Ia meminta pasien yang masih menjalani perawatan memperoleh pelayanan hingga pulih. Korban yang sudah pulang tetapi kembali mengalami keluhan juga tetap harus mendapatkan akses pemeriksaan dan penanganan medis lanjutan.

PKB Usul Pansus Ijazah Gibran, Golkar Pilih Panggil KPU dan Bawaslu

Korban Dugaan Keracunan Mencapai 521 Orang

Kasus di Bawang pertama kali dilaporkan pada 23 September 2026 setelah penerima manfaat MBG mengalami gangguan kesehatan. Jumlah orang yang mendapat penanganan kemudian meningkat dalam beberapa hari berikutnya.

Data Dinkes Batang yang disampaikan pada 25 September mencatat 521 pasien. Dari jumlah tersebut, 173 orang dirujuk ke sejumlah fasilitas kesehatan, 326 orang menjalani rawat jalan, dan 23 orang masih dirawat di Puskesmas Bawang.

Pasien yang dirujuk antara lain mendapat penanganan di RSUD Batang, RSUD Limpung, Puskesmas Subah, dan Puskesmas Gringsing 1.

Angka tersebut merupakan pembaruan dari pendataan sebelumnya. Pada 24 September pukul 03.00 WIB, BGN mencatat 219 orang terdampak, dengan 132 orang menjalani rawat inap dan 87 orang rawat jalan di tujuh fasilitas kesehatan.

Perbedaan angka dalam laporan pada hari-hari awal terjadi karena proses pendataan dan koordinasi penanganan korban masih berlangsung.

BGN Temukan Pelanggaran SOP di SPPG Bawang

Sebelum Gibran datang ke Batang, BGN telah melakukan pemeriksaan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan makanan MBG di Kecamatan Bawang.

Dalam pemeriksaan awal, BGN menemukan adanya ketidakpatuhan terhadap SOP, termasuk persoalan waktu pengolahan makanan. Salah satu temuan yang disorot adalah telur yang telah diolah sejak sekitar pukul 19.30 WIB, kemudian dipanaskan kembali pada sekitar pukul 02.30 WIB. Padahal, menurut keterangan BGN, pengolahan makanan seharusnya baru dilakukan setelah pukul 02.00 dini hari.

Hakim MK Singgung Munkar-Nakir saat Sidang Ijazah Gibran, Hasyim Jadi Sorotan

Namun, temuan tersebut belum dapat disebut sebagai penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami penerima manfaat.

BGN masih melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab kejadian. Hal ini penting karena keberadaan pelanggaran SOP tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat dengan kasus kesehatan yang terjadi.

Sebagai langkah mitigasi, operasional SPPG Bela Batang Sejahtera dihentikan sementara selama 30 hari. Pemerintah Kabupaten Batang menyebut penghentian tersebut berkaitan dengan kategori suspend berat, sementara kemungkinan penutupan permanen masih bergantung pada hasil evaluasi dan investigasi.

BGN juga sebelumnya mencopot kepala SPPG Bawang setelah menemukan pelanggaran SOP dalam penyediaan makanan.

Mengapa Pengawasan Menjadi Sorotan?

Kasus Batang memperlihatkan bahwa keamanan pangan dalam program berskala besar tidak hanya bergantung pada menu dan kandungan gizi. Setiap tahap, mulai dari bahan makanan diterima, diolah, disimpan, hingga didistribusikan kepada penerima manfaat, menjadi bagian dari rantai keamanan pangan.

Karena itu, permintaan Gibran untuk mengevaluasi higiene, waktu pengolahan, penyimpanan dan distribusi sejalan dengan persoalan yang ditemukan dalam pemeriksaan awal SPPG Bawang.

Pada saat yang sama, hasil investigasi tetap menjadi bagian penting yang belum selesai. BGN menyatakan pemeriksaan masih berjalan, sementara pemerintah meminta hasilnya disampaikan secara transparan.

Artinya, evaluasi kebijakan tidak cukup hanya dilakukan setelah terjadi gangguan kesehatan. Hasil pemeriksaan kasus Batang dapat menjadi dasar untuk melihat kembali bagaimana standar keamanan pangan diterapkan dan diawasi di tingkat SPPG.

Penanganan Korban Jadi Prioritas

Selain investigasi, pemerintah menempatkan penanganan kesehatan korban sebagai prioritas dalam kunjungan Gibran ke Batang.

Pasien yang masih dirawat diminta memperoleh pelayanan sampai pulih. Sementara mereka yang sudah diperbolehkan pulang tetapi kembali mengalami keluhan tetap harus memperoleh akses pemeriksaan medis.

Pemerintah juga menyatakan biaya pengobatan korban tidak akan dibebankan kepada keluarga.

Bagi pelaksanaan MBG secara lebih luas, kasus Batang menjadi pengingat bahwa keberhasilan program bukan hanya diukur dari jumlah makanan yang tersalurkan. Keamanan makanan yang diterima penerima manfaat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan program.

Untuk saat ini, penyebab pasti gangguan kesehatan di Bawang masih menunggu hasil investigasi. Pemerintah menyatakan hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar untuk memperkuat pengawasan dan melakukan perbaikan terhadap pelaksanaan MBG.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *