Endoxa Asia – Jakarta Film Week 2026 memasuki penyelenggaraan keenam dengan agenda yang tidak hanya berpusat pada pemutaran film. Mengusung tema ENCOUNTERS, festival yang berlangsung pada 21-25 Oktober 2026 ini mempertemukan film, penonton, sineas, dan pelaku industri dari Indonesia maupun mancanegara.
Salah satu daya tarik utamanya adalah kehadiran sejumlah premiere film Indonesia, termasuk Togel karya Yogi S. Calam, Harga Teman karya Andrew Kose, serta The Sea Speaks His Name atau Laut Bercerita karya Yosep Anggi Noen. Di saat yang sama, Jakarta Film Week memperluas program pengembangan talenta melalui JFWNET-Industry Program.
Festival tahun ini juga menerima lebih dari 1.200 film dari 82 negara serta 180 proposal. Angka tersebut menunjukkan bahwa Jakarta Film Week tidak hanya menjadi agenda perfilman lokal, tetapi juga berupaya membangun jejaring dengan ekosistem sinema internasional.
Dari Premiere Film Indonesia hingga Sinema Internasional
Jakarta Film Week 2026 akan dibuka dengan Ah Girl (2026), film panjang debut sutradara Singapura Ang Geck Geck Priscilla. Film tersebut mengambil perspektif seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang menghadapi situasi keluarganya setelah perceraian orang tua. Ah Girl sebelumnya telah mendapat perhatian di Rotterdam International Film Festival, termasuk penghargaan Youth Jury Award.
Film ini dipilih sebagai pembuka bukan semata karena statusnya sebagai karya internasional. Menurut Festival Director Jakarta Film Week 2026 Rina Damayanti, Ah Girl menawarkan cara melihat persoalan orang dewasa melalui perspektif anak-anak.
“Film Ah Girl adalah sebuah cerita kecil yang mengajak penontonnya melihat dunia orang dewasa melalui kacamata anak-anak,” kata Rina dalam konferensi pers Jakarta Film Week 2026, seperti dikutip ANTARA.
Sementara itu, festival akan ditutup dengan The Sea Speaks His Name karya Yosep Anggi Noen dalam penayangan perdana di Indonesia. Film tersebut diadaptasi dari novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori dan mengangkat kisah Biru Laut, mahasiswa sekaligus aktivis yang menghilang pada periode akhir Orde Baru.
Pilihan film pembuka dan penutup tersebut memperlihatkan rentang tema yang ditawarkan Jakarta Film Week, dari pengalaman masa kanak-kanak dan keluarga hingga ingatan sejarah Indonesia.
Di kategori Global Feature Competition, festival juga menghadirkan sejumlah judul internasional seperti La Grazia karya Paolo Sorrentino, Teenage Sex and Death at Camp Miasma karya Jane Schoenbrun, Rose karya Markus Schleinzer, Burn karya Makoto Nagahisa, Filipiñana karya Rafael Manuel, dan Chronicles from the Siege karya Abdallah Al-Khatib.
Untuk sinema Indonesia, program Direction Award menghadirkan premiere Togel karya Yogi S. Calam dan Harga Teman karya Andrew Kose. Sementara itu, Four Seasons in Java karya Kamila Andini masuk dalam Global Feature Official Selection. Film tersebut merupakan produksi lintas negara yang melibatkan Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Polandia, Arab Saudi, dan Singapura.
Jakarta Film Week Mulai Menempatkan Talenta sebagai Bagian Penting Festival
Di balik program pemutaran, Jakarta Film Week 2026 memperkuat sisi industri melalui JFWNET-Industry Program.
Program ini mencakup Producers Lab, Pitching Forum, Talents Hub, Industry Talk, dan Festival Meeting. Tujuannya adalah mempertemukan sineas dengan pelaku industri, memperluas jejaring, sekaligus membuka kemungkinan kolaborasi untuk proyek film yang sedang dikembangkan.
Producers Lab tahun ini diikuti 10 emerging producer Indonesia dari Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan. Sementara Talents Hub mempertemukan emerging filmmaker lokal dan internasional melalui sejumlah mitra festival dari Indonesia dan Asia Tenggara.
Pitching Forum secara khusus memberikan ruang bagi proyek-proyek Indonesia yang membutuhkan dukungan maupun kolaborasi nasional dan internasional. Proyek yang dibawa mencakup beragam genre, mulai dari horor hingga animasi.
Jalur tersebut menjadi bagian penting dari tema ENCOUNTERS karena pertemuan yang dimaksud tidak berhenti pada penonton dan film yang sudah selesai. Jakarta Film Week juga mencoba mempertemukan pembuat film dengan pihak yang dapat membantu sebuah proyek berkembang ke tahap berikutnya.
Festival sebelumnya juga telah membuka akses bagi sineas baru melalui JFWNET, dengan sejumlah jalur yang menghubungkan peserta ke berbagai platform dan festival internasional.
Delapan Film Pendek dari Jakarta Film Fund
Pengembangan talenta juga terlihat melalui Jakarta Film Fund. Tahun ini, program tersebut menghasilkan delapan film pendek yang berlatar Jakarta.
Tiga di antaranya berasal dari Jakarta Film Fund for Student, hasil kolaborasi dengan J-Youth Film Festival 2026. Kehadiran program ini memberikan ruang yang lebih spesifik bagi pembuat film muda untuk mengembangkan karya yang berangkat dari lingkungan dan pengalaman lokal.
Program Manager Jakarta Film Week 2026 Novi Hanabi mengatakan program film tahun ini disusun untuk mengeksplorasi keberagaman, termasuk menghadirkan premiere film Indonesia dan karya yang membahas isu yang relevan dengan kehidupan saat ini.
Untuk Jakarta Film Fund, ia menyoroti hadirnya delapan film pendek berlatar Jakarta sebagai capaian baru dalam memfasilitasi talenta pembuat film dari ibu kota.
Selain itu, JFWNET tahun ini berkolaborasi dengan program Cerita Anak Nusantara, kompetisi ide cerita untuk tontonan anak dan keluarga yang melibatkan Netflix, Asosiasi Produser Film Indonesia, serta Badan Perfilman Indonesia. Sebanyak 10 proyek film dari berbagai kota di Indonesia akan melakukan pitching di Jakarta Film Week 2026.
ENCOUNTERS dan Upaya Menjadikan Jakarta Kota Sinema
Tema ENCOUNTERS menjadi relevan dengan arah Jakarta Film Week yang semakin memperluas fungsi festival. Selain menjadi tempat menonton film, festival dirancang sebagai ruang pertemuan antara pembuat film, penonton, komunitas, pemerintah, dan industri.
Jakarta Film Week 2026 juga hadir secara luring dan daring. Pemutaran serta rangkaian program berlangsung di sejumlah lokasi, termasuk CGV Grand Indonesia, Taman Ismail Marzuki, Mercure Jakarta Cikini, Paviliun Raden Saleh, Artotel Curated, dan CGV FX Sudirman, sementara sebagian pemutaran daring tersedia melalui Vidio.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri menempatkan Jakarta Film Week sebagai bagian dari upaya membangun Jakarta sebagai kota sinema. Namun, Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno menekankan bahwa tujuan tersebut tidak cukup dicapai melalui festival saja.
“Sebagai kota sinema, Jakarta terus membuka ruang yang mempertemukan manusia dan kreativitas untuk pertukaran, kolaborasi, hingga lahirnya karya-karya baru,” ujar Rano.
Menurut Rano, pengembangan fasilitas bioskop dan ruang apresiasi film di berbagai titik Jakarta juga diperlukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap perfilman. Dengan demikian, festival menjadi salah satu bagian dari ekosistem yang lebih luas, bukan satu-satunya instrumen untuk membangun kota sinema.
Tahun ini, Jakarta Film Week juga memperkenalkan JFW Vision yang menawarkan pengalaman menikmati film menggunakan teknologi virtual reality. Program tersebut menambah pilihan pengalaman sinema di luar format pemutaran konvensional.
Festival yang Mempertemukan Penonton Lintas Generasi
Dari sisi penonton, Jakarta Film Week 2026 menawarkan program dengan rentang pengalaman yang cukup luas. Emergency Broadcast dan Herstory membawa isu-isu aktual melalui perspektif sinema, sementara program kompetisi internasional dan Fantasea menghadirkan film dari berbagai konteks sinema global.
Family Time disiapkan untuk penonton keluarga, sementara kehadiran aktor Ali Fikry sebagai Festival Ambassador menjadi salah satu upaya festival untuk menjangkau generasi penonton yang lebih muda.
Dengan kombinasi premiere film Indonesia, sinema internasional, film pendek, program industri, hingga pengalaman berbasis teknologi, Jakarta Film Week 2026 memperluas definisi festival film. Fokusnya tidak hanya pada film yang ditonton, tetapi juga pada siapa yang membuatnya, siapa yang menontonnya, dan apa yang dapat terjadi setelah pertemuan tersebut.
Bagi ekosistem perfilman Indonesia, bagian terakhir ini menjadi penting. Film festival dapat berfungsi sebagai ruang apresiasi, tetapi program pengembangan talenta dan jejaring industri menentukan apakah pertemuan di dalam festival dapat berlanjut menjadi proyek, kolaborasi, dan karya baru.
Jakarta Film Week 2026 akan berlangsung pada 21-25 Oktober 2026 di Jakarta, dengan rangkaian program luring dan daring.



Komentar