
Key Takeaways
• JAFF Market 2026 kembali digelar di Yogyakarta pada November mendatang.
• Fokus mempertemukan sineas dengan investor dan mitra global.
• Pemerintah melihat film sebagai sektor kreatif dengan peluang investasi besar.
Memasuki edisi terbaru, JAFF Market semakin menegaskan perannya sebagai ruang eksklusif yang mempertemukan kreator, produser, investor, distributor, platform streaming, hingga lembaga pendanaan untuk membuka peluang kolaborasi dan memperluas akses pasar.
Market Director JAFF Market, Linda Gozali, menilai industri perfilman Indonesia kini berada pada fase yang semakin matang. Menurutnya, tantangan industri tidak lagi sebatas meningkatkan jumlah produksi, melainkan memastikan setiap proyek memiliki akses terhadap pembiayaan dan jaringan yang tepat.
“Di sinilah JAFF Market mengambil peran sebagai market hub. Kami melihat semakin banyak proyek menemukan mitra pendanaan, talenta memperoleh peluang pengembangan, dan IP Indonesia menjangkau pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Optimisme tersebut tercermin dari kinerja film nasional. Berdasarkan data Cinepoint dalam Industry Trends and Performance in H1 2026, sebanyak 13 film Indonesia berhasil menembus angka satu juta penonton sebelum semester pertama 2026 berakhir, menjadi pencapaian tercepat dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Festival Director JAFF, Ifa Isfansyah, menilai pertumbuhan tersebut perlu diiringi penguatan ekosistem industri yang lebih kokoh.
“Indonesia memiliki talenta dan kekayaan intellectual property (IP) yang besar, namun masih membutuhkan infrastruktur industri yang mampu memperluas peluang kolaborasi dan pengembangan bisnis secara berkelanjutan,” jelasnya.
Baca juga: ARTJOG 2026 dan Pertanyaan yang Tak Pernah Selesai Tentang Seni, Kuasa, dan Pendanaan
Dukungan juga datang dari pemerintah. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai JAFF Market telah menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan perfilman nasional karena mampu mempertemukan seluruh pemangku kepentingan industri dalam satu platform.
“JAFF Market menjadi bagian penting dari keberlanjutan ekosistem perfilman Indonesia. Platform seperti ini mempertemukan seluruh pemangku kepentingan industri sehingga membuka lebih banyak peluang kolaborasi dan pengembangan perfilman nasional,” kata Fadli.

Menurutnya, dengan jumlah penduduk yang mendekati 290 juta jiwa, Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar, termasuk peluang investasi di sektor perfilman dan pengembangan infrastruktur bioskop.
“Kita ingin film Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga semakin dikenal dan ditonton oleh masyarakat dunia melalui cerita-cerita Indonesia yang kaya, beragam, dan memiliki karakter yang kuat,” ujarnya.
Untuk mendukung ambisi tersebut, JAFF Market 2026 menghadirkan sejumlah program unggulan, mulai dari Film Industry Exhibitions, JAFF Future Project, Talent Day, Film & Market Conference, hingga JAFF IP Connection. Selain itu, JAFF Market terus memperkuat eksistensi internasional melalui partisipasinya di berbagai forum bergengsi, termasuk Marché du Film di Cannes, Asian Contents & Film Market di Busan, dan Asia TV Forum & Market di Singapura, sebagai langkah memperluas jejaring dan membawa film Indonesia semakin dekat dengan pasar global.



