Endoxa Asia – Ekspansi pusat data atau data center di Asia Tenggara membawa kebutuhan infrastruktur yang semakin besar, bukan hanya listrik, tetapi juga air. Di Malaysia, Google menyiapkan investasi US$160 juta atau sekitar RM651 juta untuk membangun fasilitas penyimpanan dan pengolahan air di Negeri Sembilan. Infrastruktur tersebut dirancang untuk melayani kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung operasional kampus data center perusahaan di Port Dickson.
Investasi ini menjadi bagian dari pengembangan infrastruktur digital Google di Malaysia. Perusahaan teknologi tersebut menggandeng pemerintah Negeri Sembilan dan perusahaan penyedia air setempat, Syarikat Air Negeri Sembilan Sdn Bhd (SAINS), untuk membangun fasilitas yang nantinya akan menjadi aset pemerintah negara bagian.
Proyek ini juga muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap kebutuhan sumber daya untuk menopang industri pusat data. Fasilitas komputasi berskala besar membutuhkan pasokan listrik dan sistem pendinginan yang andal. Karena itu, dampak ekspansi data center terhadap ketersediaan air dan energi menjadi salah satu persoalan yang ikut diperhatikan masyarakat dan regulator.
Google Bangun Waduk Penyimpanan dan Instalasi Pengolahan Air
Pendanaan US$160 juta akan digunakan untuk membangun off-river storage reservoir atau waduk penyimpanan air di luar aliran utama sungai, serta instalasi pengolahan air. Proyek tersebut berlokasi di kawasan Sungai Linggi, Negeri Sembilan.
Google menunjuk Gamuda Berhad sebagai kontraktor pembangunan fasilitas tersebut. Proyek dikerjakan bersama pemerintah negara bagian dan SAINS. Setelah selesai, kepemilikan fasilitas akan dialihkan kepada Menteri Besar Negeri Sembilan (Incorporated), badan hukum milik pemerintah negara bagian yang bertugas mengelola aset.
Instalasi pengolahan air itu dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 65 juta liter air layak minum per hari. Pasokannya akan digunakan untuk kebutuhan kampus data center Google yang direncanakan berada di Springhill Industrial Park, Port Dickson, sekaligus memperluas ketersediaan air untuk penggunaan masyarakat dan kegiatan komersial.
Sistem waduknya dirancang untuk menampung kelebihan aliran air sungai dan curah hujan, terutama ketika debit air tinggi. Air baku yang tersimpan kemudian dialirkan menuju instalasi pengolahan sebelum didistribusikan.
Ketika debit sungai menurun, cadangan di waduk dapat dimanfaatkan untuk menjaga pasokan. Google menyebut rancangan tersebut juga ditujukan untuk membantu mengurangi risiko banjir di kawasan sekitar yang rawan terdampak luapan air.
Meski demikian, kapasitas 65 juta liter per hari merupakan kapasitas yang direncanakan setelah fasilitas beroperasi, bukan jumlah air yang sudah tersedia saat ini. Pembagian pasokan antara kebutuhan data center dan masyarakat juga belum dijelaskan secara terperinci dalam pengumuman perusahaan.
Kebutuhan Air dan Energi Ikut Menjadi Sorotan Industri Data Center
Pembangunan fasilitas air tersebut tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan industri pusat data di Malaysia. Negara ini semakin menarik investasi infrastruktur digital, termasuk untuk layanan komputasi awan dan kecerdasan buatan.
Data center menampung server yang bekerja terus-menerus untuk memproses dan menyimpan data. Aktivitas tersebut menghasilkan panas sehingga fasilitas membutuhkan sistem pendinginan. Bergantung pada teknologi yang digunakan, sebagian sistem pendinginan dapat memerlukan air dalam jumlah besar.
Kondisi ini membuat ekspansi pusat data berkaitan langsung dengan perencanaan pasokan air dan listrik di wilayah tempat fasilitas dibangun. Pertumbuhan industri digital berpotensi membawa investasi dan aktivitas ekonomi, tetapi juga menambah kebutuhan terhadap infrastruktur dasar.
Dalam proyek Negeri Sembilan, Google menyatakan akan menanggung 100 persen biaya listrik yang digunakan kampus data center tersebut. Perusahaan juga berkomitmen membayar biaya infrastruktur langsung yang diperlukan untuk menghubungkan fasilitasnya ke jaringan listrik.
Google menyebut komitmen tersebut berlaku selama tahap pembangunan hingga masa operasional kampus yang direncanakan berlangsung selama beberapa dekade. Namun, pusat data Port Dickson itu masih merupakan proyek yang akan dikembangkan, sehingga manfaat maupun dampak operasionalnya belum dapat dinilai dari hasil aktual.
Google Mengaitkan Proyek dengan Target Pengelolaan Air
Google menyatakan pendanaan fasilitas air di Negeri Sembilan sejalan dengan ambisinya untuk mengisi kembali 120 persen volume air tawar yang dikonsumsi perusahaan. Direktur sekaligus Kepala Infrastruktur dan Energi Global Google untuk Asia Pasifik, Drew Byrnes, mengatakan penilaian risiko air perusahaan menunjukkan sumber air setempat tidak berada dalam kategori berisiko tinggi mengalami kelangkaan atau penurunan pasokan.
Menurut Byrnes, pembangunan infrastruktur bersama menjadi bagian dari pendekatan perusahaan untuk mengembangkan fasilitas digital sembari mendukung kebutuhan masyarakat dan pengelolaan sumber daya.
Pernyataan tersebut penting dibaca dalam konteks target perusahaan, bukan sebagai bukti bahwa seluruh dampak penggunaan air data center telah teratasi. Keberhasilan proyek nantinya akan bergantung pada pelaksanaan pembangunan, pengelolaan fasilitas, serta bagaimana pasokan air dibagikan dan dipantau setelah beroperasi.
Kejelasan mengenai alokasi air untuk masyarakat dan kebutuhan industri juga akan menjadi aspek penting. Kapasitas produksi yang besar tidak otomatis menjamin seluruh warga memperoleh manfaat yang sama apabila mekanisme distribusi dan prioritas penggunaan belum transparan.
Investasi Juga Mencakup Pendidikan Energi Bersih
Selain infrastruktur air, Google mengumumkan program pengembangan keterampilan di sektor energi bersih bersama SOLS Foundation. Inisiatif tersebut dijadwalkan mulai berjalan di Negeri Sembilan pada awal 2027.
Program pertama akan menghadirkan laboratorium tenaga surya di sekolah negeri yang berpartisipasi. Setiap laboratorium direncanakan dilengkapi panel surya berkapasitas 2,56 kilowatt-peak dan sistem penyimpanan baterai 5,4 kilowatt-jam.
Fasilitas tersebut akan digunakan untuk pembelajaran interaktif mengenai teknologi surya dan kebiasaan menghemat energi. Sistemnya juga dirancang menghasilkan listrik untuk membantu mengurangi biaya energi sekolah serta menyediakan daya cadangan ketika terjadi pemadaman.
Program kedua berupa pelatihan digital selama 36 jam untuk peserta SOLS Solar Academy. Pelatihan ini ditujukan bagi anak muda dari keluarga berpenghasilan rendah dan komunitas adat yang ingin memasuki bidang pekerjaan energi bersih.
Materinya mencakup kemampuan digital yang relevan dengan pekerjaan seperti instalasi panel surya, pemeliharaan stasiun pengisian kendaraan listrik, pemantauan sistem energi, dan pelaporan lapangan. Google menyebut program tersebut akan menjadi bagian permanen dari kurikulum akademi.
Manfaat Proyek Akan Terlihat Setelah Fasilitas Beroperasi
Investasi Google di Negeri Sembilan memperlihatkan bahwa pembangunan data center semakin terkait dengan kebutuhan infrastruktur di luar kawasan komputasi itu sendiri. Pasokan air, jaringan listrik, pengembangan tenaga kerja, dan pengelolaan lingkungan menjadi bagian dari perencanaan ekspansi industri digital.
Bagi pemerintah daerah dan masyarakat, proyek ini menawarkan tambahan kapasitas pengolahan air yang direncanakan dapat digunakan bersama. Sementara bagi Google, pembangunan tersebut mendukung kebutuhan operasional kampus data center yang akan dikembangkan di Port Dickson.
Namun, komitmen pendanaan dan kapasitas yang diumumkan belum sama dengan manfaat yang sudah dirasakan. Waktu penyelesaian, kapasitas aktual setelah beroperasi, pembagian pasokan, serta dampaknya terhadap ketersediaan air dan risiko banjir masih perlu dipantau.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan proyek tidak hanya terletak pada besarnya investasi, tetapi juga pada kemampuan infrastruktur tersebut memenuhi kebutuhan industri tanpa mengesampingkan kepentingan masyarakat setempat.




Komentar