Inovasi Tekno

Joyson Alihkan Keahlian Suku Cadang Mobil ke Industri Robot Humanoid

Joyson Alihkan Keahlian Suku Cadang Mobil ke Industri Robot Humanoid
Joyson Alihkan Keahlian Suku Cadang Mobil ke Industri Robot Humanoid

Endoxa Asia – Persaingan industri otomotif mendorong sejumlah perusahaan mencari sumber pertumbuhan baru, salah satunya melalui robot humanoid. Joyson Electronics, pemasok komponen otomotif asal Ningbo, China, menjadi salah satu perusahaan yang mulai mengalihkan pengalaman manufaktur kendaraan ke industri robotika.

Perusahaan tersebut tidak hanya ingin memproduksi satu jenis komponen robot. Joyson menargetkan posisi sebagai pemasok tingkat pertama atau Tier 1 supplier yang menyediakan berbagai sistem penting, mulai dari pengendali gerak, pengelolaan energi, tangan robot, hingga sensor sentuh yang disebut electronic skin.

Trump Klaim AS Lebih Hebat Memata-matai China dan Rusia, Isu Spionase Kembali Disorot

Strategi ini memanfaatkan pengalaman Joyson dalam memasok komponen untuk produsen mobil global. Namun, perusahaan juga menghadapi tantangan yang belum sepenuhnya terpecahkan oleh industri robot humanoid: menemukan pelanggan yang siap membeli dalam skala besar dan memastikan teknologi dapat beroperasi secara andal dalam jangka panjang.

Dari Pemasok Komponen Mobil ke Industri Robotika

Joyson Electronics berdiri pada 2004 dan awalnya berfokus pada komponen fungsional otomotif. Perusahaan kemudian berkembang melalui serangkaian akuisisi internasional, termasuk perusahaan elektronik otomotif Jerman Preh, pemasok interior kendaraan Quin, bisnis otomotif TechniSat, perusahaan keselamatan kendaraan Key Safety Systems (KSS), serta sejumlah aset Takata.

Ekspansi tersebut memperluas kemampuan Joyson di bidang elektronik kendaraan, sistem keselamatan, dan teknologi kabin pintar. Perusahaan kini memiliki lebih dari 40.000 karyawan, fasilitas produksi di lebih dari 20 negara, serta memasok lebih dari 100 merek otomotif.

Pada 2025, pendapatan Joyson tercatat sekitar 61,2 miliar yuan atau sekitar US$9,2 miliar. Sebanyak 44,446 miliar yuan berasal dari pasar luar negeri, setara dengan sekitar 72,64 persen dari total pendapatan.

Pengalaman tersebut menjadi modal ketika perusahaan mengumumkan strategi yang menggabungkan bisnis otomotif dan robotika pada 2025. Joyson ingin membawa model bisnis pemasok komponen otomotif ke rantai pasok robot humanoid.

Perubahan arah ini juga terjadi ketika persaingan harga di industri kendaraan dan komponen semakin menekan margin keuntungan. Perusahaan otomotif mencari peluang bisnis baru, sementara robot humanoid mulai dipandang sebagai salah satu bidang yang berpotensi berkembang.

China Perketat Aturan Headunit Mobil Listrik, Layar Lipat Terancam Dilarang

Joyson bukan satu-satunya perusahaan otomotif China yang masuk ke sektor tersebut. Sejumlah produsen kendaraan seperti Xpeng, Chery, BAIC, Nio, dan BYD juga telah mengembangkan atau menjajaki bisnis robotika.

Joyson Ingin Memasok Komponen dari Kepala hingga Tangan Robot

Alih-alih hanya menjual satu komponen, Joyson merancang portofolio yang mencakup beberapa bagian utama robot. Rencana produknya meliputi rakitan kepala robot, sistem manajemen energi, pengendali keputusan dan gerakan, tangan robot dengan kemampuan manipulasi presisi, serta struktur tubuh.

Perusahaan juga bekerja sama dengan produsen robot China. Salah satu bentuk kerja samanya adalah layanan manufaktur kontrak untuk robot Agibot dengan dua lengan dan sasis beroda. Joyson menangani proses produksi, perakitan, dan pengujian bagian kepala, lengan, serta sasis robot tersebut.

Selain manufaktur, Joyson mengembangkan kegiatan pengumpulan data untuk melatih teknologi embodied AI, yaitu kecerdasan buatan yang berinteraksi dengan lingkungan fisik melalui perangkat seperti robot.

Setelah dirakit, robot direncanakan menjalankan tugas dalam sejumlah lingkungan nyata yang disiapkan di fasilitas perusahaan. Data dari aktivitas tersebut dapat digunakan untuk melatih model AI fisik agar robot mampu memahami kondisi sekitar dan menjalankan pekerjaan.

Model ini membuat Joyson tidak hanya berperan sebagai pemasok, tetapi juga berupaya memanfaatkan fasilitas produksinya sendiri sebagai tempat pengujian dan pengembangan teknologi.

Electronic Skin Menjadi Salah Satu Teknologi Andalan

Salah satu komponen yang dikembangkan Joyson adalah electronic skin, lapisan sensor fleksibel yang berfungsi seperti indra peraba pada robot.

China Targetkan Matahari Buatan BEST Rampung 2027, Listrik Fusi Diuji pada 2030

Teknologi ini memungkinkan robot mendeteksi berbagai sinyal sentuhan, seperti tekanan, pergeseran atau selip, getaran, dan suhu. Kemampuan tersebut penting bagi robot yang harus memegang benda, menggunakan peralatan, atau berinteraksi dengan objek tanpa merusaknya.

Pengembangan electronic skin terutama dilakukan JoysonQuin, perusahaan patungan antara Joyson Electronics dan Senssun.

Kang Yuran, yang memimpin bisnis electronic skin JoysonQuin, menjelaskan kepada 36Kr bahwa perusahaan mengembangkan beberapa pendekatan teknologi sensor. Salah satunya adalah teknologi piezoresistif, yang mendeteksi tekanan melalui perubahan hambatan listrik.

Menurut Kang, pendekatan tersebut menjadi dasar generasi pertama karena dinilai lebih matang, dapat diintegrasikan dalam kepadatan tinggi, dan memiliki potensi untuk diproduksi secara massal dengan biaya lebih efisien.

Generasi pertama produk JoysonQuin telah mencakup sensor sentuh untuk ujung jari robot, penjepit atau gripper, serta sistem sensor untuk seluruh bagian tangan robot yang memiliki kemampuan manipulasi lebih kompleks.

Untuk generasi berikutnya, perusahaan merencanakan pengembangan electronic skin berbasis kapasitif. Teknologi ini mendeteksi tekanan melalui perubahan kapasitansi dan ditujukan untuk area permukaan robot yang lebih luas. Kang menyebut pendekatan tersebut memiliki sensitivitas lebih tinggi dan dapat mendeteksi objek di dekat sensor.

JoysonQuin juga mengembangkan sensor elektromagnetik fleksibel bersama sejumlah lembaga penelitian dan universitas melalui program riset dan pengembangan di Provinsi Zhejiang.

Pengujian di Pabrik Menjadi Modal Komersialisasi

Joyson memanfaatkan fasilitas manufaktur internal untuk menguji komponen dan sistem robot sebelum ditawarkan kepada pelanggan eksternal.

Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mengevaluasi teknologi dalam lingkungan produksi yang nyata. Sensor, tangan robot, dan komponen lain dapat diuji berdasarkan kebutuhan operasional, bukan hanya melalui demonstrasi atau pengujian laboratorium.

Pengujian tersebut juga berpotensi menghasilkan data untuk meningkatkan keandalan dan menekan biaya produksi. Semakin banyak penggunaan di lingkungan nyata, semakin banyak informasi yang dapat dikumpulkan untuk memperbaiki desain dan performa komponen.

Kang mengidentifikasi tiga modal utama Joyson dalam memasuki industri robotika, yakni kemampuan rekayasa, akses terhadap data operasional, serta hubungan dengan pelanggan otomotif yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Hubungan dengan pelanggan lama juga membuka peluang pasar baru. Perusahaan otomotif yang selama ini membeli komponen kendaraan dari Joyson dapat menjadi calon pelanggan untuk produk robotika.

Di sisi lain, pabrik Joyson sendiri berpotensi menjadi pengguna robot yang diproduksi atau dirakit dengan dukungan perusahaan. Dengan demikian, Joyson dapat mengembangkan komponen, memasok produsen robot, sekaligus menguji penggunaan robot di fasilitasnya sendiri.

Tantangan Terbesar Masih Mencari Pembeli dalam Skala Besar

Meski memiliki pengalaman manufaktur otomotif, Joyson mengakui bahwa komersialisasi robot humanoid masih menghadapi hambatan. Salah satu persoalan utamanya adalah belum banyak pelanggan yang memiliki kebutuhan nyata sekaligus kemampuan membeli dalam jumlah besar.

Kang mengatakan pelanggan yang bersedia membayar umumnya tidak hanya menginginkan sampel atau prototipe. Mereka membutuhkan solusi lengkap yang dapat langsung digunakan dan beroperasi secara konsisten dalam jangka panjang.

Ia menjelaskan bahwa sistem perangkat keras dan perangkat lunak harus mampu bekerja terus-menerus selama satu hingga dua tahun tanpa perawatan, sementara biaya keseluruhan tetap sesuai kemampuan perusahaan dan fasilitas produksi.

Persyaratan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan robot humanoid bukan sekadar membuat mesin dapat berjalan atau melakukan demonstrasi. Teknologi juga harus memenuhi standar keandalan, biaya, dan produktivitas yang dibutuhkan pengguna industri.

JoysonQuin menyebut dua tantangan langsung yang perlu diatasi: menyeimbangkan kebutuhan pelanggan dengan biaya riset dan pengembangan, serta menemukan pelanggan yang siap melakukan pembelian dalam skala besar.

Untuk ekspansi internasional, perusahaan berencana memulai penerapan robot di pabrik Joyson sendiri di luar China. Setelah teknologi diuji dan divalidasi di fasilitas tersebut, perusahaan akan secara bertahap menawarkan produk kepada pelanggan manufaktur lainnya.

Pelanggan otomotif yang sudah memiliki hubungan bisnis dengan Joyson menjadi salah satu sasaran utama strategi ini.

Langkah Joyson menunjukkan bagaimana perusahaan pemasok otomotif berusaha mengambil posisi dalam rantai pasok robot humanoid. Pengalaman manufaktur, rekayasa, dan jaringan pelanggan dapat menjadi modal penting. Namun, pertumbuhan bisnis tersebut tetap bergantung pada kemampuan mengubah prototipe menjadi produk yang andal, terjangkau, dan benar-benar dibutuhkan industri.Joyson Electronics, pemasok komponen otomotif asal China, memperluas bisnis ke robot humanoid. Perusahaan mengembangkan sensor sentuh, tangan robot, pengendali, dan sistem energi, tetapi masih menghadapi tantangan mencari pelanggan untuk produksi skala besar.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *