
Key Takeaways
- Eks-McLaren mengubah bahasa supercar menjadi objek interior
- Carbon fiber, presisi, dan eksklusivitas jadi fondasi desain
- Batas antara furnitur dan seni sengaja dibuat kabur
Di sebuah ruang yang seolah sengaja dibiarkan tanpa kepastian fungsi, sebuah objek berdiri seperti tanda tanya yang dibekukan. Ia bukan kursi dalam pengertian yang lazim, juga belum sepenuhnya patung. Justru di antara dua dunia itulah ia menemukan bentuknya sendiri, tenang namun tidak mudah dikenali.
“Memang itu idenya,” ujar João Dias. “Saat pertama kali masuk ruangan dan melihatnya, kamu tidak langsung tahu apa itu.”

Objek itu adalah Element 01, karya perdana ENNUA, studio yang ia dirikan bersama Patrick Carton. Keduanya datang dari McLaren, dunia yang terbiasa berbicara lewat kecepatan, aerodinamika, dan ketegangan bentuk. Kini, bahasa itu mereka pindahkan ke ruang yang lebih hening, lebih domestik, namun tetap sarat presisi.
Perjalanan mereka dimulai dari satu pertanyaan sederhana: apa yang tersisa setelah semua supercar selesai dibuat?
“Ketika kamu mengerjakan proyek sebesar itu, kamu mulai bertanya apa langkah berikutnya yang benar-benar berarti,” kata Dias. “Membuat supercar lagi terasa terlalu mudah ditebak.”

Jawaban mereka hadir dalam bentuk sebuah objek karbon fiber bernilai sekitar £100.000 atau Rp2,3 Miliar. Ia disebut sebagai “functional art”, “sculptural design”, bahkan dengan enggan sebagai “seating device”. Istilah terakhir justru terdengar paling jujur, karena di sana ada ketegangan antara fungsi dan penolakan untuk sepenuhnya didefinisikan.
Meski tidak secara langsung mengutip dunia otomotif, bayangannya tetap terasa di setiap lekuknya. Carbon fiber menjadi tulang utama, dibentuk melalui proses yang akrab bagi dunia mobil performa tinggi: pemodelan digital, prototipe fisik, hingga penyempurnaan berulang pada proporsi dan permukaan. Seperti desain sebuah kendaraan, ia tampak sangat peduli pada siluet, pada bagaimana cahaya bergerak di atas bentuk, pada keseimbangan yang hampir tidak terlihat tapi terasa.



Kesan itu bahkan muncul dari pengunjung pertama yang melihatnya di HOFA Gallery, yang mengatakan bahwa objek itu mengingatkannya pada sebuah mobil, meski ia tidak tahu siapa perancangnya. Sebuah refleksi yang seolah mengonfirmasi bahwa bahasa desain memiliki ingatan yang sulit dihapus.
Material yang digunakan pun memperpanjang narasi itu. ENNUA bekerja dengan Bridge of Weir, pemasok kulit yang juga akrab dengan interior otomotif kelas atas. Di sini, transisi antara kabin mobil dan ruang rumah terasa sengaja dilunakkan, seperti dua dunia yang perlahan saling belajar bahasa masing-masing.
Secara teknis, struktur karbonnya diklaim mampu menahan beban hingga 2.000 kilogram. Namun angka itu lebih seperti catatan sampingan, bukan inti cerita. Yang lebih penting adalah apa yang tidak diukur: bagaimana sebuah objek bisa tetap terasa ambigu di tengah obsesinya terhadap presisi.
Kelangkaan menjadi bagian dari desain itu sendiri. Hanya 199 unit akan diproduksi, masing-masing dapat dikustomisasi hingga detail material dan finishing. Seperti hypercar yang berhenti bergerak, eksklusivitas di sini tidak sekadar soal harga, tetapi soal jarak dari yang massal.
“Kami melihat apa yang terjadi ketika volume meningkat,” ujar Carton. “Ia berhenti menjadi sesuatu yang istimewa.”
Element 01 pada akhirnya tidak benar-benar meminta untuk dipahami secara langsung. Ia berdiri di wilayah antara fungsi dan interpretasi, antara objek dan gagasan. Dan mungkin justru di ruang yang tidak sepenuhnya bisa dinamai itulah ia menemukan maknanya.



