AI Tekno

Data Center AI Jatiluhur Dibangun, Seberapa Besar Kebutuhan Airnya?

Data Center AI Jatiluhur Dibangun, Seberapa Besar Kebutuhan Airnya?

Endoxa Asia – Pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan atau AI di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, membawa satu persoalan yang berbeda dari sekadar investasi dan kapasitas komputasi: air.

BDx Data Centers mulai membangun AI Campus 2 atau CGK4 di Jatiluhur pada 22 September 2026. Kampus data center ini dirancang memiliki kapasitas IT hingga 640 megawatt (MW), dengan pembangunan dilakukan bertahap melalui enam gedung. Gedung pertama memiliki kapasitas 120 MW dan fase awalnya ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.

Meta Rilis Muse Wonder, Model AI Frontier dengan Memori Jangka Panjang

Lokasinya sekitar lima kilometer dari Bendungan Jatiluhur, infrastruktur yang memiliki fungsi strategis untuk kebutuhan air dan irigasi. Kondisi tersebut membuat kebutuhan air data center menjadi isu yang layak diperhatikan, meski belum ada bukti bahwa proyek CGK4 saat ini telah mengurangi pasokan air untuk irigasi atau Jakarta.

Mengapa Data Center AI Membutuhkan Air?

ilustrasi air

Data center merupakan fasilitas yang beroperasi dengan ribuan perangkat komputasi dan menghasilkan panas dalam jumlah besar. Karena itu, sistem pendinginan menjadi bagian penting dari infrastrukturnya.

Studi yang dipublikasikan di npj Clean Water menjelaskan bahwa sejumlah data center menggunakan sistem pendinginan yang memanfaatkan air melalui menara pendingin atau sistem evaporatif. Dalam contoh yang dibahas penelitian tersebut, data center berkapasitas 1 MW dengan sistem pendinginan tradisional tertentu dapat menggunakan sekitar 25,5 juta liter air per tahun.

Namun, angka tersebut tidak bisa langsung digunakan untuk menghitung konsumsi air CGK4.

Alasannya, fasilitas yang sedang dibangun BDx di Jatiluhur menggunakan arsitektur direct-to-chip liquid cooling, yaitu sistem pendinginan yang mengalirkan cairan langsung ke area chip untuk menangani beban panas dari perangkat komputasi berkapasitas tinggi. BDx menyebut sistem tersebut dirancang untuk mendukung kepadatan hingga 500 kilowatt per rak.

Gemini 4 Argon Punya Output 1 Juta Token, Tapi Belum Bisa Dipakai Semua Orang

Dengan demikian, kebutuhan air aktual CGK4 perlu diketahui dari data teknis fasilitas dan sistem pengelolaan pendinginannya. Sampai informasi yang tersedia saat ini, belum ada angka resmi yang menunjukkan berapa banyak air yang akan dikonsumsi CGK4 setiap hari atau setiap tahun.

Jatiluhur Bukan Sekadar Lokasi Industri

Persoalan tersebut menjadi penting karena Jatiluhur memiliki fungsi air yang jauh lebih luas.

Kementerian Pekerjaan Umum mencatat Bendungan Ir. H. Djuanda atau Waduk Jatiluhur memiliki kapasitas tampung sekitar 2,44 miliar meter kubik dan mendukung Daerah Irigasi Jatiluhur seluas sekitar 242.000 hektare. Bendungan tersebut juga memiliki fungsi pembangkit listrik dan penyediaan air untuk berbagai kebutuhan.

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Irigasi Kementerian PUPR juga mencatat bahwa air dari Waduk Jatiluhur dialirkan melalui jaringan Tarum untuk mendukung sekitar 240.000 hektare kawasan irigasi. Pengelolaan alokasi dan distribusinya berada di bawah Perum Jasa Tirta II.

Artinya, air di kawasan tersebut tidak berdiri sebagai sumber daya untuk satu sektor saja. Pertanian, kebutuhan domestik, industri, dan berbagai penggunaan lainnya berada dalam sistem pengelolaan sumber daya air yang sama.

Di sinilah pembangunan data center AI berskala besar memunculkan pertanyaan tata kelola.

Pasokan Air untuk Jakarta Juga Terhubung dengan Jatiluhur

Keterkaitan Jatiluhur dengan kebutuhan air perkotaan juga bukan sekadar klaim dalam pemberitaan.

CapCut AI Content Fest 2026 Bawa 10 Film Kreator Indonesia ke Layar Lebar

Pemerintah saat ini mengembangkan proyek Sistem Penyediaan Air Minum atau SPAM Ir. H. Djuanda/Jatiluhur II. Berdasarkan data Kementerian PUPR, proyek tersebut dirancang menggunakan sekitar 7.000 liter per detik air baku dari Waduk Jatiluhur dan menghasilkan 6.300 liter per detik air bersih.

Wilayah pelayanan yang direncanakan mencakup DKI Jakarta, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, dan Kabupaten Bogor, dengan potensi peningkatan layanan air minum untuk sekitar 1,3 juta orang. Pada 2026, proyek tersebut masih berada dalam tahap penyusunan studi pendahuluan.

Konteks ini membuat pengelolaan air Jatiluhur semakin penting. Ketika kebutuhan baru muncul dari industri dengan konsumsi energi dan pendinginan tinggi, pemerintah perlu memastikan alokasi air tetap dihitung berdasarkan ketersediaan dan kebutuhan seluruh pengguna.

CGK4 Dibangun Bertahap hingga 640 MW

Skala proyek CGK4 juga perlu dilihat secara bertahap.

BDx menyebut keseluruhan kampus akan memiliki kapasitas IT hingga 640 MW dan dikembangkan dalam waktu sekitar tiga tahun. Gedung pertama merupakan bagian awal dari enam gedung yang direncanakan, dengan kapasitas 120 MW. Fase pertama gedung tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.

Untuk kebutuhan listrik, CGK4 telah mendapatkan dukungan kapasitas jaringan sebesar 845 MVA dari PLN. BDx juga menyebut sedang mengupayakan jalur pasokan energi rendah karbon, termasuk kemungkinan kerja sama tenaga hidro dengan Perum Jasa Tirta II.

Dengan kapasitas sebesar itu, pembicaraan mengenai dampak lingkungan tidak hanya berkaitan dengan listrik. Air, sistem pendinginan, limbah, dan pengelolaan sumber daya di sekitar fasilitas juga menjadi bagian dari pertanyaan mengenai daya dukung kawasan.

Persoalannya Bukan Sekadar Berapa Banyak Air yang Dipakai

Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah, menilai ekspansi data center di Jatiluhur perlu diikuti penguatan tata kelola sumber daya air.

Pemerintah perlu memperhatikan kondisi debit air dan mengatur pemanfaatan berdasarkan tingkat kebutuhan, terutama ketika ketersediaan air menurun.

Ia juga menyoroti perlunya kajian mengenai daya dukung sumber daya air serta pengawasan terhadap distribusinya.

Pandangan serupa muncul dari Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat Maulana Yusuf Erwinsyah. Ia meminta manfaat ekonomi pembangunan pusat data dihitung bersamaan dengan potensi dampaknya terhadap lingkungan.

“Seharusnya pemerintah membuka ke publik plus-minus data center AI tersebut. Keuntungannya bagaimana dan kerugiannya bagaimana,” ujar Maulana.

Ia secara khusus menyoroti posisi Waduk Jatiluhur yang selama ini mendukung kebutuhan irigasi pertanian dan meminta kepentingan petani tidak tersisih oleh kebutuhan industri.

Namun, pernyataan tersebut merupakan pandangan dan kekhawatiran dari pihak yang dikutip media. Belum ada data yang menunjukkan bahwa CGK4 telah menyebabkan berkurangnya pasokan air untuk irigasi maupun air baku Jakarta.

Transparansi Kebutuhan Air Menjadi Kunci

Justru karena angka konsumsi air CGK4 belum tersedia secara terbuka dalam sumber yang diverifikasi, transparansi menjadi penting.

Publik membutuhkan informasi mengenai dari mana kebutuhan air fasilitas tersebut akan dipenuhi, berapa volume air yang diperlukan, apakah air digunakan secara langsung untuk pendinginan, bagaimana sistem sirkulasinya, serta bagaimana air buangan dikelola.

Pertanyaan tersebut juga perlu dibedakan dari konsumsi air data center secara umum. Studi tentang konsumsi air data center menunjukkan bahwa kebutuhan air sangat dipengaruhi oleh jenis sistem pendinginan, kondisi iklim, efisiensi fasilitas, dan sumber listrik. Karena itu, tidak tepat menggeneralisasi satu angka konsumsi untuk semua pusat data.

Dalam kasus CGK4, keberadaan sistem direct-to-chip liquid cooling menjadi faktor teknis yang harus diperhitungkan sebelum menyimpulkan besarnya konsumsi air.

Jatiluhur Menghadapi Kebutuhan yang Semakin Beragam

Pembangunan CGK4 menunjukkan bagaimana kawasan Jatiluhur kini juga menjadi bagian dari ekspansi infrastruktur digital Indonesia.

BDx menyebut CGK4 ditujukan untuk mendukung beban kerja AI dan kebutuhan hyperscale. Fasilitas tersebut akan dikembangkan secara bertahap dan ditopang kapasitas listrik besar.

Di saat yang sama, Jatiluhur tetap memiliki fungsi yang sudah berlangsung selama puluhan tahun sebagai bagian dari sistem irigasi dan penyediaan air.

Karena itu, isu utamanya bukan apakah data center dan sektor pertanian harus dipertentangkan. Yang lebih mendasar adalah bagaimana pemerintah memastikan setiap kebutuhan air memiliki alokasi yang jelas, terukur, transparan, dan sesuai dengan daya dukung sumber daya yang tersedia.

Untuk saat ini, belum cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa pembangunan data center AI di Jatiluhur akan mengancam pasokan air Jakarta atau irigasi. Tetapi dengan skala CGK4 yang mencapai 640 MW dan fungsi strategis Waduk Jatiluhur, kebutuhan air fasilitas tersebut menjadi salah satu data penting yang perlu diketahui publik sebelum dampaknya dapat dinilai secara lebih konkret.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *