Endoxa Asia – Instagram sedang menguji format video panjang berdurasi hingga 90 menit, sebuah langkah yang memperluas peran platform dari video pendek menuju konten yang lebih mendalam. Namun, uji coba ini belum disertai model pembayaran kreator yang pasti, sehingga tantangannya bukan hanya menarik penonton, tetapi juga memberi alasan bagi kreator untuk mengunggah video panjang.
Fitur bernama Features itu memungkinkan kreator mengunggah video horizontal. Instagram juga menguji Clips as Reels, yang menghubungkan Reels pendek dengan video panjang terkait. Perusahaan menyebut uji coba berlangsung di Brasil dan akan diperluas ke Amerika Serikat dalam skala kecil.
Instagram ingin menghubungkan Reels dan video panjang
Strategi Instagram bukan sekadar menambah durasi unggahan. Melalui Clips as Reels, potongan video pendek dapat mengarahkan penonton ke versi panjangnya. Penonton juga bisa menyimpan video panjang untuk ditonton melalui aplikasi Instagram di TV.
Instagram turut mengembangkan fitur penemuan konten Live dan ruang khusus di profil kreator untuk Reels episodik. Rangkaian ini menunjukkan upaya menghubungkan format singkat yang sudah menjadi ciri Reels dengan konten yang membutuhkan waktu menonton lebih lama.
“Kami ingin mencoba mendukung berbagai jenis format ini, baik di aplikasi seluler maupun aplikasi TV,” kata CEO Instagram Adam Mosseri dalam video pengumuman. Ia menambahkan bahwa pengalaman menonton di TV masih membutuhkan waktu untuk disempurnakan.
Persaingan kreator tidak hanya soal durasi
Video panjang dapat memberi ruang lebih besar bagi wawancara, podcast, komedi, atau cerita berseri. Tetapi, durasi saja tidak otomatis membuat Instagram setara dengan YouTube sebagai sumber pendapatan kreator.
Dalam wawancara dengan Colin and Samir Show, Mosseri menjelaskan bahwa kreator Instagram saat ini terutama memperoleh penghasilan dari kerja sama dengan merek. Sebagian mendapat dukungan penggemar, sementara program berbasis performa masih berskala kecil. Menurutnya, Instagram belum memperluas program itu karena biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar daripada pendapatannya.
Sebagai pembanding, kreator yang tergabung dalam YouTube Partner Program menerima 55 persen pendapatan iklan yang diperoleh YouTube dari video mereka. YouTube juga menyatakan telah membayar lebih dari US$100 miliar kepada kreator, artis, dan perusahaan media selama empat tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan skala model bagi hasil yang sudah dibangun YouTube, bukan jaminan bahwa Instagram akan menerapkan skema serupa.
Monetisasi masih menjadi pertanyaan utama
Meta mengatakan belum dapat membagikan model monetisasi jangka panjang untuk Features. Perusahaan menyebut sedang menjajaki cara agar kreator memperoleh penghasilan dari merek, penggemar, dan Instagram, termasuk melalui insentif berbasis performa.
“Kami masih menjajaki cara bagi kreator untuk memperoleh penghasilan dari merek, penggemar, dan Instagram, termasuk insentif berbasis performa,” kata juru bicara Meta yang dikutip dari TechCrunch
Pernyataan itu memperjelas bahwa uji coba Features masih berfokus pada format dan pengalaman menonton, sementara skema pembayaran belum ditetapkan. Instagram juga pernah mencoba mendorong video berdurasi panjang lewat IGTV, produk yang kini sudah dihentikan.
Dengan menghubungkan video panjang dan Reels, Instagram berupaya membuat penonton tetap berada di dalam aplikasinya. Namun, apakah strategi itu cukup untuk menarik kreator dari platform lain akan bergantung pada lebih dari sekadar kemampuan mengunggah video 90 menit. Bagi kreator, kepastian distribusi penonton dan peluang pendapatan kemungkinan sama pentingnya dengan format baru.
Sumber & Referensi




Komentar