News Nasional

NASA Ungkap Data Karhutla Papua, Emisi Karbon Tembus 35 Juta Ton

NASA Ungkap Data Karhutla Papua, Emisi Karbon Tembus 35 Juta Ton
NASA Ungkap Data Karhutla Papua, Emisi Karbon Tembus 35 Juta Ton

Endoxa Asia – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua menjadi sorotan setelah NASA merilis citra satelit yang memperlihatkan asap tebal menyelimuti bagian selatan Pulau New Guinea. Data pemantauan menunjukkan emisi karbon dari kebakaran di wilayah Papua Indonesia telah melampaui 35 juta ton pada 2026, menjadikannya salah satu periode kebakaran terparah dalam catatan historis kawasan tersebut.

Dalam laporan NASA Earth Observatory bertajuk Fires Char New Guinea yang diterbitkan pada 22 Oktober 2026, citra satelit menunjukkan asap yang membentang di bagian selatan pulau tersebut. Gambar itu direkam instrumen VIIRS pada satelit NOAA-20 pada 11 Oktober 2026, sehingga menggambarkan kondisi pada tanggal pengamatan, bukan situasi kebakaran secara langsung pada hari ini. <Cite refs={[“turn815956view0”]}/>

BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat di Sumatera dan Kalimantan, Ini Wilayahnya

Emisi Karbon Papua Indonesia Tertinggi Ketiga

Menurut Global Fire Emissions Database (GFED), emisi karbon akibat kebakaran di Papua Indonesia telah melampaui 35 megaton hingga periode pelaporan NASA. Angka tersebut merupakan tingkat tertinggi ketiga setelah 2015 dan 1997, dua tahun ketika fenomena El Niño juga berkaitan dengan kebakaran besar.

Data ini berbeda dengan angka dari Papua Nugini, negara yang menempati bagian timur Pulau New Guinea. Di wilayah tersebut, emisi karbon dari kebakaran mendekati 32 juta ton hingga 17 Oktober 2026, tertinggi dalam catatan GFED untuk periode yang sama dalam setahun. <Cite refs={[“turn815956view0”]}/>

Perlu diperhatikan, angka 35 juta ton yang disebut NASA merujuk pada emisi karbon, bukan total berat asap atau luas hutan yang terbakar. GFED menggunakan pemodelan berbasis satelit, karakteristik vegetasi, dan informasi lain untuk memperkirakan luas kebakaran vegetasi serta emisi yang dihasilkan. <Cite refs={[“turn815956view0”]}/>

El Niño Memperparah Kondisi Kering

NASA mengaitkan meningkatnya risiko kebakaran di Pulau New Guinea dengan kekeringan yang terjadi selama September dan Oktober 2026. Fenomena El Niño mengubah pola curah hujan dan membuat sejumlah kawasan lebih rentan terbakar.

Di wilayah Trans-Fly, bagian selatan Papua Nugini yang didominasi sabana dan padang rumput, kondisi tanpa hujan berlangsung lebih dari 90 hari berturut-turut. Sejak Agustus, sejumlah lokasi di kawasan itu menerima curah hujan hanya sekitar 5 hingga 10 persen dari tingkat normal. Data tersebut menggambarkan kondisi di Papua Nugini, sehingga tidak bisa langsung dianggap sebagai angka curah hujan untuk seluruh wilayah Papua Indonesia. <Cite refs={[“turn815956view0”]}/>

Kondisi kering membuat vegetasi lebih mudah terbakar dan meningkatkan kemungkinan api menyebar di luar area awal. Namun, kekeringan bukan satu-satunya faktor yang berperan dalam kebakaran.

Operasi Patuh Jaya 2026 Dimulai, Kapolda Metro Minta Warga Laporkan Polisi Nakal

Aktivitas Manusia Turut Memicu Kebakaran

NASA mengutip peneliti yang menjelaskan bahwa sebagian besar kebakaran di Pulau New Guinea bermula dari aktivitas manusia. Praktik pembakaran untuk mengelola lahan pertanian, merawat padang penggembalaan, membuka lahan, dan berburu termasuk aktivitas yang dapat memicu api.

Dalam kondisi normal, pembakaran yang dilakukan untuk kebutuhan tertentu mungkin dapat dikendalikan. Akan tetapi, ketika vegetasi mengering akibat kekeringan, api berisiko menyebar dan berkembang menjadi kebakaran yang tidak terkendali. <Cite refs={[“turn815956view0”]}/>

Yang Chen, peneliti dari University of California, Irvine, menyoroti tingginya aktivitas kebakaran di Papua Indonesia dan Kalimantan sepanjang 2026 dibandingkan Sumatra serta wilayah Indonesia bagian barat lainnya.

“Papua has emerged as Indonesia’s new deforestation frontier,” kata Chen dalam laporan NASA. Pernyataan tersebut dapat diterjemahkan sebagai Papua telah muncul sebagai garis depan baru deforestasi Indonesia. <Cite refs={[“turn815956view0”]}/>

NASA juga mengutip data Global Forest Watch yang mencatat kehilangan sekitar 27.000 hektare hutan primer di Papua Indonesia sepanjang 2025. Luas itu hampir dua kali lipat dibandingkan 2024 dan menjadi yang tertinggi sejak 2017.

Selama dua dekade terakhir, perubahan bentang alam di Papua antara lain berkaitan dengan pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, industri kayu pulp, pertanian skala kecil, perluasan kawasan perkotaan, dan pertambangan. Meski demikian, angka kehilangan hutan tahunan tersebut tidak boleh disamakan langsung dengan luas area yang terbakar pada 2026. <Cite refs={[“turn815956view0”]}/>

Asap Berdampak pada Kualitas Udara dan Aktivitas Warga

Dampak kebakaran tidak hanya terlihat pada tutupan lahan dan emisi karbon. NASA melaporkan bahwa polusi udara di sejumlah kawasan Pulau New Guinea meningkat, sementara kabut asap selama berminggu-minggu mengganggu penerbangan dan mendorong penutupan sekolah di sejumlah wilayah.

Warga China Ditahan di Hong Kong Bawa 2 Kg Kokain, Dijanjikan Upah Rp4,8 Juta

Robert Field, peneliti dari NASA Goddard Institute for Space Studies dan Columbia University, menjelaskan bahwa sebagian asap dapat terbawa ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi ketika masuk ke sistem konveksi badai. Namun, banyak pula asap yang tetap berada dekat permukaan dan memperburuk kualitas udara. <Cite refs={[“turn815956view0”]}/>

Paparan asap menjadi perhatian khusus bagi kelompok rentan, termasuk anak-anak dan lansia. NASA menyebut pejabat di sejumlah wilayah telah mengimbau kelompok tersebut untuk menggunakan masker. Besarnya dampak kesehatan di setiap daerah tetap bergantung pada tingkat paparan dan kondisi setempat.

Kebakaran Berpotensi Berlanjut hingga Hujan Tiba

NASA memperkirakan aktivitas kebakaran dapat berlanjut sampai hujan lebat musim penghujan tiba di bagian selatan Pulau New Guinea. Hujan biasanya mulai datang pada awal November, tetapi waktu kedatangan dan intensitasnya dapat berbeda antarlokasi.

Situasi ini memperlihatkan bagaimana kekeringan, aktivitas manusia, perubahan tutupan lahan, dan kondisi cuaca dapat saling memperkuat risiko kebakaran. Data satelit membantu memperlihatkan skala masalah dari udara, tetapi penanganannya tetap membutuhkan pemantauan lapangan, pencegahan pembakaran yang tidak terkendali, serta perlindungan masyarakat dari paparan asap.

Angka emisi karbon yang tinggi menjadi salah satu indikator besarnya dampak kebakaran Papua pada 2026. Namun, untuk memahami keseluruhan dampaknya, data tersebut perlu dibaca bersama informasi tentang luas area terbakar, perubahan tutupan hutan, kualitas udara, dan kondisi masyarakat di wilayah terdampak.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *